
Mengapa sudah rajin sholat, tapi hati tetap hampa dan bermasalah?
Hidup tidak akan pernah terpisah dengan masalah. Namun, setiap orang bebeda-beda dalam menyikapinya. Ada orang yang terfokus dengan masalah yang menghinggapi hingga hidupnya terus merasa susah, ada pula yang legowo dan terkesan pasrah. Ada pula yang mereka yang justru dilanda kebodohan dan tidak menyadari bahwa hidupnya sebenarnya bermasalah.
Masalah kadang datang tanpa kita sadari. Atau muncul saat beban kehidupan sudah semakin berat untuk dipanggul sendiri. Ia menyadarkan kita bahwa sejatinya hidup hanyalah panggung yang tak bisa ditinggal dengan melarikan diri.
Kadang kala saat cadangan kesehatan mental, fisik, dan emosi sedang dalam kondisi prima, sebesar apapun masalah bagi kita tampak begitu biasa saja. Akan ada seribu satu opsi jalan keluar yang perlu dicoba tapi tidak menutup kemungkinan akan menguras mayoritas cadangan yang kita punya. Akhirnya, jiwa mulai tertekan. Berbagai pelampiasan dilakukan sekadar mengulur keadaan. Ini semua terjadi secara alami dan semua orang pasti menghadapi, tidak memandang SARA selama manusia masih memiliki hati.
Keberadaan hati manusia menjadi krusial saat menghadapi masalah. Karena hati menentukan perasaan jiwa dalam merespon sebuah masalah yang menghampiri. Selain itu, hati menjadi cerminan jiwa mengapa manusia hidup di dunia.
Dalam terminologi Islam, keberadaan hati amatlah penting. Di dalam hati lah maqom taqwa itu bersemayam. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang mampu menjangkaunya.
Ketaqwaan adalah kunci utama bagi umat muslim agar hidupnya selalu tenang. Dengannya, berbagai masalah yang datang akan mudah terurai dan menemui solusi. Dengannya pula masalah membuatnya selalu tersenyum, memahami bahwa Allah sedang hadir untuk menguji. Oleh karena itu bagi mereka yang sudah bulat ketaqwaannya, masalah tak pernah menjadi perkara hidup yang membebani.
Masalah bagi orang yang bertakwa hanyalah warna yang memperindah kehidupan. Menjadi media subur menabur benih ketergantungan dengan Sang Pemilik kehidupan. Menjadi tonggak penegas iman bahwa Allah lah yang akan menghantarkan pada sebuah solusi tepat pada saat dibutuhkan. Bagi mereka tidak ada keraguan sedikit pun dengan firmanNya:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq ayat 4)
Akan tetapi, tidak semua orang dimudahkan menggapai maqom taqwa. Banyak pula diantara manusia bahkan yang sudah beriman sekalipun, sangat jarang bertengger di dalamnya. Semuanya bergumul pada masalah yang sama, bahwa kehidupan dunia masih menjadi orientasi utama. Banyak orang yang sudah melengkapi rukun islamnya, bahkan menjadi tergelincir dalam kesesatan saat masalah besar melanda.
Memang ketakwaan butuh sebuah perjuangan panjang. Ornamen keikhlasan, kesabaran, dan ketawakalan perlu dipahat dan dipasang dengan erat. Tanpa ketiganya, takwa belumlah sempurna. Sehingga bagi mereka yang rajin ibadah, kehadiran masalah bisa membuat iman menjadi goyah.
Kesempurnaan ornamen taqwa memang hak priogatif Allah yang disematkan pada mereka yang terpilih. Namun itu tetap bisa diupayakan tergantung sebesar apa modal ketauhidan seseorang. Itu semua bisa direfleksikan dari seberapa baik kualitas shalat yang dijalani.
Dalam shalat kita berkali-kali mendeklarasikan.
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Alfatikhah ayat 5)
Sebuah ucapan yang bisa hanya berupa gimmick atau justru pengakuan dari hati yang terdalam. Hal ini juga menjadi jawaban secara sadar atau tidak akan perintah meminta tolong kepadaNya.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
“Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al-Baqarah 45)
Perintah di atas sudah jelas sebuah tantangan berat. Apalagi ketika hati dan pikiran sudah teramat penat. Perlu kiranya kesadaran yang hebat biar keduanya bisa didapat.
Kesabaran adalah anugerah terbaik yang Allah karuniakan kepada hambaNya. Namun sayang, dorongan nafsu untuk segera menyingkap masalah justru membuat kesabaran menghilang. Jika sudah demikian, bagaimana shalat akan ditegakkan? Secara khusyuk pula!
Padahal kekhusyukan dalam shalat adalah sebuah parameter seorang mukmin yang beruntung, sebagaimana termaktub di awal surat Al Mu’minun. Kekhusyukan juga menjadi prasyarat menjadikan shalat bagian dari rehatnya jiwa terhadap perkara dunia sebagaimana dicontohkan oleh Rasullullah SAW yang mulia. Bukan hanya sekali, tetapi setiap waktu shalat di kumandangkan.
Khusyuk dalam pandangan Ali Bin Abi Thalib dimaknai Kekhusyukan hati. Dari kekhuyukan semacam ini Mujahid menjelaskan ada dua sikap hati yang akan lahir, berupa kekhawatiran sekaligus ketenangan. Kekhawatiran bukan terhadap masalah yang ada, melainkan kekhawatiran bahwa Allah akan menyerahkan sepenuhnya urusan untuk kita pecahkan tanpa uluran pertolongan dariNya. Sedangkan ketenangan berasal dari keyakinan bahwa Allah senantiasa membersamai kita.
Khusyuk semacam itu tidak hadir tanpa upaya. Oleh karenanya, ada sebagian mufassir yang memberikan kita cara untuk khusyuk. Pertama, dengan mengosongkan hati dari remeh temeh perkara dunia. Kedua, Menyibukkan diri dengan menghayati gerakan dan ucapan yang kita lakukan dalam shalat. Ketiga, Menorehkan bekas pengahayatan tersebut ke dalam kalbu hingga mengasilkan keadaan yang membuat jiwa lelap dalam istirahatnya dan terasanya kenikmatan bermunajat kepadaNya.
Ketiga cara tersebut tidak bersifat mutlak. Setiap insan bisa jadi memiliki caranya masing-masing dalam menaklukkan nafsu saat untaian bacaan shalat menjadi syahdu. Meskipun hal tersebut sekali lagi juga adalah pekerjaan yang berat
Namun demikian, tanpa kehadiran khusyuk dalam shalat kita maka kekosongan jiwa selamanya akan menganga. Membuat setiap alunan doa terasa hampa dan membuat jiwa semakin menjauh dariNya. Akan kah kita biarkan hati demikian adanya?
Wallahu a’lam bisshowab.




