
Oleh : Afriliansyah, S.Pd.ย (Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah PDM Kab. Tegal, Jawa Tengah)
Dakwah dalam Islam bukanlah sebuah tugas yang dibatasi oleh gelar, panggung, atau keluasan ilmu semata.ย Melainkan sebuah kewajiban yang melekat pada setiap Muslim sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Prinsip ini telah ditegaskan dalam Al-Qurโan dan Hadist, serta ungkapan para ulama. Bahkan, Islam sendiri membuka ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk menjadi penyampai kebaikan, meskipun hanya satu ayat yang ia ketahui.
Allah ๏ทป berfirman dalam Al-Qurโan:
ูฑุฏูุนู ุฅูููููฐ ุณูุจูููู ุฑูุจูููู ุจููฑููุญูููู ูุฉู ูููฑููู ูููุนูุธูุฉู ูฑููุญูุณูููุฉ
โSerulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.โ (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini tidak membatasi dakwah hanya untuk kelompok tertentu. Kata โudโuโ (serulah) bersifat umum, mencakup siapa pun yang memiliki kemampuan menyampaikan kebaikan. Para mufassir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan metode dakwah yang harus disesuaikan dengan kondisi madโu (objek dakwah), namun tidak menutup kewajiban untuk berdakwah itu sendiri.
Dalam ayat lain, Allah ๏ทป menegaskan:
ููููุชูููู ู ูููููู ู ุฃูู ููุฉู ููุฏูุนูููู ุฅูููู ูฑููุฎูููุฑู
โHendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.โ (QS. Ali Imran: 104)
Kata โminkumโ (di antara kalian) disini menunjukkan bahwa dakwah adalah tanggung jawab seluruh umat Islam. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa meskipun ada fardhu kifayah dalam dakwah, setiap individu tetap memiliki bagian sesuai kemampuan, baik dengan lisan, tulisan, maupun sikap.
Lebih jauh lagi, Allah ๏ทป berfirman:
ููู ููู ุฃูุญูุณููู ููููููุง ู ููู ููู ุฏูุนูุง ุฅูููู ูฑูููููู
โSiapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.โ (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan orang yang berdakwah. Tidak disebutkan bahwa harus ulama besar atau orang berilmu tinggi, tetapi siapa saja yang menyeru kepada Allah dengan niat yang benar.
Landasan paling kuat tentang konsep โsatu ayatโ dalam dakwah terdapat dalam sabda Rasulullah ๏ทบ:
ุจููููุบููุง ุนููููู ูููููู ุขููุฉ
โSampaikanlah dariku walaupun satu ayat.โ (HR. Bukhari)
Hadis ini dijadikan prinsip dasar utama bahwa ilmu sekecil apa pun yang telah dipahami, wajib disampaikan jika bermanfaat. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran menyampaikan ilmu yang telah diyakini kebenarannya, meskipun hanya sedikit, selama tidak terjadi kesalahan dalam penyampaiannya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ู ููู ุฏูููู ุนูููู ุฎูููุฑู ูููููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑู ููุงุนููููู
โBarang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.โ (HR. Muslim)
Hadis ini memperluas makna dakwah. Tidak hanya menyampaikan secara langsung, tetapi juga menunjukkan, mengarahkan, atau memfasilitasi kebaikan termasuk bagian dari dakwah itu sendiri.
Para ulama klasik maupun kontemporer menegaskan pentingnya menyampaikan ilmu sesuai kapasitas. Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa setiap orang yang mengetahui sebuah ebenaran wajib menyampaikannya sesuai kemampuan, tanpa menunda-nunda atau merasa harus mencapai kesempurnaan terlebih dahulu. Menahan ilmu yang bermanfaat tanpa alasan syarโi dianggap sebagai bentuk kelalaian.
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat dakwah menjelaskan bahwa seruan kepada Allah mencakup segala bentuk ajakan menuju tauhid, ketaatan, dan akhlak yang baik, baik itu melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan. Dengan demikian, dakwah tidak dibatasi oleh adanya metode tertentu.
Makna โmeski hanya satu ayatโ memiliki kedalaman yang luas. Ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada kebaikan yang dianggap remeh. Satu ayat yang benar dapat menjadi sebab seseorang mengenal Allah, memperbaiki shalatnya, atau meninggalkan perbuatan maksiat. Oleh karena itu, nilai dakwah tidak diukur dari banyaknya ilmu, tetapi dari keikhlasan dan kebenaran isi yang disampaikan.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, dakwah dengan satu ayat bisa terwujud dalam banyak bentuk sederhana. Seseorang yang mengingatkan temannya untuk shalat tepat waktu, yang mengajarkan satu doa pendek, atau yang menulis satu kalimat nasihat di media sosial, semuanya termasuk bagian dari dakwah. Bahkan sikap jujur, amanah, dan akhlak yang baik juga merupakan bentuk dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan).
Para ulama juga menekankan bahwa penyebaran ilmu harus dilakukan dengan hikmah. Hikmah berarti menempatkan suatu hal pada tempatnya, termasuk dapat memahami siapa yang diajak berbicara, kapan waktu yang tepat, dan bagaimana cara yang lembut. Dakwah yang benar bukan hanya menyampaikan isi, tetapi juga menjaga cara penyampaiannya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan dan tidak disebarkan akan hilang keberkahannya. Sebaliknya, ilmu yang disampaikan akan berkembang dan menjadi cahaya bagi banyak orang. Oleh karena itu, menyampaikan satu ayat lebih baik daripada menyimpan banyak ilmu tanpa manfaat.
Dalam konteks modern, dakwah semakin luas jangkauannya. Media digital memungkinkan satu ayat tersebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Namun prinsipnya tetap sama: kejujuran, ketepatan ilmu, dan keikhlasan tetap menjadi syarat utama. Tanpa itu, dakwah bisa kehilangan nilai keberkahannya.
Kesadaran bahwa setiap Muslim mampu berdakwah, meski hanya satu ayat, juga menghilangkan rasa minder dalam beragama. Tidak ada alasan untuk merasa tidak pantas menyampaikan kebaikan selama apa yang disampaikan benar dan berasal dari ilmu yang sahih. Justru menahan diri dari menyampaikan kebaikan tanpa alasan yang dibenarkan syariat dapat menjadi kerugian besar.
Pada akhirnya, dakwah adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hal kecil. Satu ayat yang disampaikan hari ini bisa menjadi sebab hidayah bagi seseorang di masa depan. Dan dalam pandangan Allah , tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun itu.
Maka, prinsip โBerdakwahlah meski hanya satu ayatโ bukan sekadar slogan, akan tetapi refleksi dari ajaran Islam yang sangat luas, ringan, dan penuh rahmat. Ia mengajarkan bahwa setiap Muslim memiliki peluang untuk menjadi jalan kebaikan, selama ia mau memulai dari apa yang ia mampu.




