
Tujuan Hidup Muslim
Masyhuda Darussalam,S.Pd,M.Pd (1558269 Anggota Bidang Dakwah PCPM Muntilan )
Ada satu doa pendek yang diajarkan Allah melalui Alquran kepada kita semua. Doa pendek ini merefleksikan tujuan hidup kita sebagai seorang muslim. Sehingga seringkali orang menyebut doa ini sebagai doa sapu jagat yaitu Surat Al Baqarah ayat : 201.
رَبَّنَاا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.”
Dunia dan seluruh isinya sesungguhnya merupakan tujuan hidup jangka pendek dari setiap pribadi muslim. Tujuan jaga pendek yang mengantarkan kita untuk meraih tujuan jangka panjang yaitu akhirat dan ridho Allah.
Untuk kedua tujuan ini Islam mengajarkan nilai keseimbangan, bekerjalah buat duniamu seolah kau akan hidup selamanya tetapi bekerjalah buat akhiratmu seolah kau akan mati besok. Nilai keseimbangan ini kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya dalam berbagai aspek kehidupan. Bagaimana Si Kaya harus membantu yang miskin?, Bagaimana Si Miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain? kelihatan nilai keseimbangan itu.
Bagaimana Si Tua menyayangi yang muda?, Bagaimana yang Muda menghormati yang tua?. Bagaimana tuan rumah menghormati tamu?. Bagaimana tamu menjadi orang yang tahu diri?.
Ini semua merefleksikan adanya nilai keseimbangan. Jadi seakan ini dunia, ambil apa yang perlu, nikmati apa yang boleh, kalau bisa jangan gagal kalau di dunia ini tapi kalaupun kau gagal di dunia kau akan masih punya akhirat. Inilah sumber optimisme kehidupan seorang muslim. Dia tidak boleh gagal kalau bisa di dunia ini tapi kalau pun gagal kau masih punya akhirat. Karena kau punya akhirat caramu mencapai dunia ini diwarnai oleh keyakinan terhadap adanya akhirat nanti. Ini yang menyebabkan seseorang muslim berbeda dengan yang lain dan dia tidak terjebak menghalalkan sebuah cara untuk mencapai satu tujuan. Keyakinan adanya akhirat melahirkan etika dalam kehidupan seorang muslim pada cara bagaimana dia mencapai dunia ini, dia tidak terjebak menghalalkan cara, dunia ini tujuan jangka pendek ambil apa yang perlu, nikmati apa yang boleh, tapi jangan membuat cacat akhiratmu karenanya. Inilah yang membedakan kita dengan yang lain. “Iya sih, saya kepengen kaya tapi kalau korupsi akhirat saya bagaimana nanti?’. “Iyalah, saya kepengen naik pangkat tinggi, jabatan tinggi, tapi kalau fitnah orang, hantam kiri sikat kanan, teman jadi lawan lawan pun jadi teman, akhirat saya bagaimana nanti?”. Ini melahirkan etika pada tata cara mencapai kehidupan dunia tidak terjebak menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan. Karena apa?, tidak satu perbuatan dunia yang bagaimanapun kecilnya yang tidak akan berakibat akhirat.
Raih duniamu, ambil apa yang perlu, nikmati apa yang boleh, tapi pada sisi lain jaga jangan sampai dia membuat cacat di akhirat nanti.
Seorang muslim yang baik tentu yang pandai meraih dua tujuan tersebut, mencapai kebaikan di dunia dan di akhirat. Sementara Rasul pernah mengajarkan bukan orang yang terbaik dari kamu orang yang hanya mengejar dunia dengan menyia-nyiakan akhiratnya, seperti juga bukan orang yang terbaik yang mengutamakan akhirat dengan menyia-nyiakan dunianya. Tapi orang yang terbaik adalah orang yang bisa mengkombinasikan keduanya. Untuk mencapai tujuan ini, dunia sebagai tujuan jangka pendek bisa di raih dengan ilmu, pengetahuan, pengalaman dan nasib. Makin banyak ilmu makin mudah meraih dunia makin banyak kita dengan pengalaman makin mudah meraih dunia atau karena faktor nasib lalu kita bisa meraih dunia. Sementara akhirat hanya bisa diraih dengan prestasi ibadah kepada Allah. Kalaupun ada efek dunianya dari salat kita, dari puasa kita, dari haji kita, dari zakat kita itu sekedar sedikit efek tapi sasaran utama adalah akhirat dan ridho Allah. Untuk mencapai 2 tujuan ini Allah memberikan alat-alat untuk mencapai tujuan dan dalam kaidah Ushul fiqih dijelasin bahwa alat dan tujuan hukumnya sama. Jadi kalau tujuan ke situ alatnya harus ada untuk membawa kita ke arah itu. Saudara wajib naik ke loteng, tidak bisa naik ke loteng kalau tidak ada tangga, maka tangga itu menjadi wajib adanya. Untuk mencapai 2 tujuan kebaikan dunia dan akhirat ini, Allah memberikan alat kepada kita. Apa alatnya? dalam surah At-taubah ayat 111 bisa kita lihat:
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١١١
Artinya : Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung.
Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri mereka, harta mereka, bagi mereka adalah surga. Ayat ini merupakan transaksi yang sangat transparan, pembeli Allah, penjual kita orang-orang beriman, dagangannya harta dan diri, harganya adalah surga. Sekali harta dan diri sudah kita jual kepada Allah tentu tidak akan kita jual lagi kepada yang lain. Jadi dengan kata lain, harta itu semua bentuk materi yang kita kuasai uang, tanah, kebun pabrik dan sebagainya. Lalu yang dimaksud dengan diri itu apa?, Semua kekayaan yang ada dalam pribadi kita. Konsep, pikiran, ide, wewenang, jabatan, kemampuan, itu semua adalah diri. Untuk tujuan jangka pendek harta dan diri harus jadi rahmah bagi lingkungan. Untuk tujuan jangka panjang harta dan diri harus menunjang jalan menuju ridho Allah. Itulah jalan kalau kita ingin mencapai فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً dengan kata lain, yang alat itu jadikan dia sebagai alat. Jangan dia dijadikan tujuan, sekali alat kita jadikan tujuan maka kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya. Begitulah dalam waktu sering menggeser alat menjadi tujuan, tujuan kita adalah kekuasaan, tujuan kita adalah kekayaan, tujuan kita adalah popularitas, tujuan kita adalah menghimpun segala macam kekuatan. Padahal itu cuma sekedar alat untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Kalau alat kita jadikan tujuan, kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya. Dan akhirnya kita akan terjerat kepada fatamorgana. Kita sangka itulah tujuan itu, kita sangka sudah sampai kepada titik yang kita tuju padahal cuma pandangan yang menipu saja. Akhirnya kita terjerat dalam arus siklus yang berkali-kali diperingatkan oleh Alquran Alhakumut Takasur kamu telah celaka lantaran berlomba-lomba menjadikan alat sebagai tujuan. Berlomba-lomba menjadikan alat sebagai tujuan. Karena itu gunakanlah alat sebagai alat untuk mencapai tujuan dan bukan malah alat yang dijadikan tujuan. Berapa banyak pun harta kita memiliki dia cuma alat. Setinggi apapun kedudukan yang kita capai dia cuma alat. Sebanyak apapun ilmu pengetahuan yang kita kuasai dia cuma sekedar alat untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Apabila tidak ada nilai keseimbangan akan pincanglah gaya hidup kita, tidak mustahil kita terjebak pada materialisme, hedonisme yang pada akhirnya lagi lagi mengantarkan kita kepada fatamorgana. Semoga ibadah kita semakin menyadarkan kita untuk memperalat yang memang alat dan menjadikan tujuan yang memang tujuan untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat.




