
Tidur sering dianggap sebagai kegiatan biasa: tubuh lelah, mata mengantuk, lalu kita beristirahat. Padahal, jika direnungkan, tidur adalah salah satu nikmat besar yang kita terima setiap hari tanpa harus membelinya. Kita tidak dapat memaksa diri untuk memperoleh tidur yang nyenyak hanya dengan kehendak. Karena itu, Al-Qur’an mengajak manusia melihat tidur bukan sekadar kebiasaan biologis, tetapi juga sebagai tanda kebesaran Allah yang pantas disyukuri.
Mensyukuri nikmat tidur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga berarti memahami fungsi tidur, menjaga waktunya, tidak merusaknya dengan kebiasaan yang buruk, serta meneladani adab tidur yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Dengan cara itu, waktu istirahat yang tampak sederhana dapat menjadi bagian dari ibadah, kesehatan, dan pendidikan jiwa.
1. Tidur dalam Al-Qur’an: Tanda Kekuasaan Allah dan Ruang untuk Beristirahat

Sumber gambar: Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “Sleeping Well”. Lihat sumber.
Salah satu ayat yang secara langsung menyebut tidur terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 23. Ayat ini menarik karena tidur diletakkan sejajar dengan aktivitas manusia mencari karunia Allah. Artinya, kehidupan yang sehat tidak dibangun hanya dengan bekerja, tetapi juga dengan berhenti, beristirahat, dan memulihkan diri.
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَسْمَعُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” QS. Ar-Rum [30]: 23.
Analisis linguistik singkat. Kata مَنَامُكُمْ (manāmukum) berarti “tidur kalian”. Dalam analisis morfologi Al-Qur’an, kata manām berasal dari akar ن و م yang berkaitan dengan tidur, kemudian disambung dengan kata ganti كُمْ yang berarti “kalian”. Bentuknya pada ayat ini berstatus kata benda dan menjadi bagian dari rangkaian “di antara tanda-tanda-Nya”. Dengan pilihan kata ini, tidur tidak dipotret hanya sebagai keadaan pasif, tetapi sebagai sesuatu yang dapat direnungkan sebagai āyah, tanda yang mengarahkan manusia kepada kebesaran Pencipta.
Ayat lain memberi gambaran yang sangat kuat melalui tiga kata: malam sebagai لِبَاسًا (libāsan, pakaian/penutup), tidur sebagai سُبَاتًا (subātan), dan siang sebagai نُشُورًا (nushūran, bangkit dan bergerak kembali).
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِبَاسًۭا وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًۭا وَجَعَلَ ٱلنَّهَارَ نُشُورًۭا
“Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, tidur untuk istirahat, dan menjadikan siang untuk bangkit berusaha.” QS. Al-Furqan [25]: 47.
Kata سُبَاتًا berasal dari akar س ب ت. Dalam khazanah bahasa Arab, akar ini berkaitan dengan makna berhenti, terputus, tenang, atau meninggalkan aktivitas. Karena itu, ungkapan وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًا memberi kesan bahwa tidur adalah masa ketika aktivitas sadar kita diputus sementara sehingga tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Adapun نُشُورًا menghadirkan gambaran “bangkit kembali”: setelah malam dan tidur, manusia kembali bergerak, bekerja, belajar, beribadah, dan menjalankan amanah kehidupannya.
Bahasa Al-Qur’an di sini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Malam menutupi hiruk-pikuk, tidur menghentikan aktivitas, lalu siang membuka kesempatan untuk memulai lagi. Kita sering menyadari nilai tidur justru ketika sulit tidur, sakit, sangat lelah, atau bangun dalam keadaan tidak segar. Dari sini lahir pelajaran sederhana: kemampuan untuk tidur dengan tenang adalah nikmat yang layak disyukuri sebelum nikmat itu terasa berkurang.
Syukur atas tidur berarti mengakui bahwa tubuh memiliki hak untuk beristirahat, sekaligus menggunakan energi setelah bangun untuk hal yang bermanfaat.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa tidur memiliki dimensi spiritual yang membuat manusia rendah hati. Dalam Surah Az-Zumar ayat 42, Allah menyebut pengambilan jiwa ketika mati dan ketika tidur. Ayat ini tidak berarti bahwa tidur secara fisiologis sama dengan kematian. Pesan utamanya bersifat teologis: manusia tidak sepenuhnya menguasai keberlangsungan hidupnya, bahkan ketika ia terlelap.
ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang nyawa seseorang pada saat kematiannya dan nyawa orang yang belum mati ketika dia tidur; lalu Dia tahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” QS. Az-Zumar [39]: 42.




