Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Di era modern ini, mempertahankan prinsip kebenaran dan keimanan sering kali terasa berat. Kita hidup di zaman di mana godaan untuk menggadaikan iman sangatlah besar. Kadang-kadang, hanya karena takut tidak diterima dalam pergaulan, takut kehilangan pekerjaan, atau takut di-bully di media sosial, seseorang rela menanggalkan syariat agama.
Menggenggam agama di zaman fitnah ini ibarat menggenggam bara api; panas dan menyakitkan. Namun, jika kita merasa ujian kita hari ini sudah sangat berat, mari kita menengok sebuah kisah nyata di masa lalu. Kisah sekelompok manusia yang ujian imannya bukan sekadar kiasan “bara api”, melainkan mereka benar-benar dihadapkan pada lautan api yang menyala-nyala. Mereka dikenal dalam sejarah sebagai Ashabul Ukhdud atau Orang-orang Pembuat Parit.
Kisah ini terjadi pada masa kepemimpinan seorang raja zalim yang memaksa seluruh rakyatnya untuk menyembah dirinya. Namun, berkat dakwah seorang pemuda yang teguh bertauhid, masyarakat perlahan-lahan menyadari kebenaran dan berbondong-bondong beriman kepada Allah SWT.
Melihat rakyatnya berpaling dari menyembahnya, sang raja murka luar biasa. Ia memerintahkan pasukannya untuk menggali parit-parit yang sangat besar dan memanjang (ukhdud). Parit itu kemudian diisi dengan kayu bakar dan dinyalakan api yang sangat besar dan panas.
Raja itu lalu memberikan ultimatum yang mengerikan: Siapa pun yang bersedia murtad dan kembali menyembah raja, ia akan dibiarkan hidup. Namun, siapa yang bersikeras mempertahankan iman kepada Allah, maka ia akan dilemparkan hidup-hidup ke dalam parit api tersebut. Di titik inilah, ratusan hingga ribuan orang beriman, termasuk wanita dan anak-anak, memilih melompat ke dalam kobaran api daripada harus menggadaikan tauhid mereka.
Peristiwa luar biasa yang menunjukkan puncak keteguhan iman ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Buruj [85] ayat 4-8:
قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ . ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ . إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ . وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ . وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
Yang artinya: “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
Mari kita petik pesan utama dari ayat-ayat ini.
Pertama, perhatikan ayat ke-8. Apa kesalahan orang-orang mukmin itu sehingga mereka dibakar hidup-hidup? Apakah mereka memberontak? Apakah mereka korupsi atau merampok? Tidak. Kesalahan mereka di mata penguasa zalim hanyalah satu: “karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Ayat ini menegaskan bahwa ujian kelurusan iman pasti akan selalu datang dan berbenturan dengan kebatilan.
Kedua, secara kasat mata di dunia, orang-orang beriman itu tampak kalah karena hangus terbakar, sementara sang raja tampak menang. Namun, Al-Qur’an membalikkan logika tersebut. Di awal ayat (ayat ke-4), Allah langsung memvonis “Qutila” (Binasalah/Terlaknatlah) bagi sang raja dan pasukannya. Hakikat kemenangan yang sejati bukanlah sekadar selamat fisiknya di dunia, melainkan keberhasilan membawa iman yang utuh hingga nafas terakhir menuju surga-Nya.
Bagaimana kita membumikan keteguhan iman ini dalam kehidupan kita sekarang? Tentu, kita tidak sedang dihadapkan pada parit api secara harfiah. Namun, “parit api” itu hadir dalam bentuk lain.
Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa; di dunia akademik dan pergaulan, kalian sering dihadapkan pada pilihan sulit. Misalnya, saat ujian, seluruh kelas sepakat untuk mencontek atau memanipulasi data tugas. Jika kalian memilih jujur karena takut kepada Allah, kalian mungkin akan dikucilkan, dimusuhi, atau dianggap sok suci. Dikucilkan oleh teman-teman itu rasanya panas seperti terbakar. Namun, ingatlah kisah Ashabul Ukhdud. Bertahanlah dengan kejujuran dan tauhid kalian. Jangan melompat ke dalam “api” kemaksiatan hanya demi diterima oleh manusia.
Bagi Bapak/Ibu dan kita semua di dunia kerja atau bermasyarakat; “parit api” itu bisa berupa tawaran pekerjaan yang menggiurkan namun mensyaratkan kita melepas identitas keislaman kita. Bisa juga berupa tawaran dana besar, posisi empuk, atau proyek bernilai tinggi namun harus didapat lewat jalan suap, korupsi, atau riba. Hawa nafsu dan tuntutan ekonomi akan berteriak menyuruh kita mengambilnya.
Di titik krisis itulah keimanan kita diuji. Mampukah kita berkata “Tidak” pada harta yang haram demi menjaga tauhid kita, meskipun risikonya kita hidup dalam kesederhanaan? Orang-orang Ashabul Ukhdud rela melepas nyawanya demi Allah, masakan kita tidak rela melepas sedikit kemewahan duniawi demi Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki?
Oleh karena itu, mari kita tancapkan akar tauhid ini kuat-kuat di dalam dada kita dan keluarga kita. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang singkat. Jangan gadaikan surga yang abadi demi kenikmatan atau rasa aman sesaat di dunia.
Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kekuatan dari Allah SWT.
Ya Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keberanian dan keikhlasan berkorban seperti orang-orang mukmin dalam peristiwa Ashabul Ukhdud. Lindungilah kami dan generasi muda kami dari segala fitnah yang memaksa kami melepaskan iman. Berikanlah kami kekuatan untuk menolak yang haram, dan matikanlah kami kelak dalam keadaan husnul khatimah, membawa iman yang utuh di hadapan-Mu.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(PCM Gunungpati II Kota Semarang)





