Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jama’ah online yang dimuliakan Allah Swt,
Di era modern ini, kita sering dibuat takjub oleh lompatan kecerdasan manusia. Di bidang medis, dokter bisa melakukan operasi rumit untuk menyelamatkan nyawa. Di bidang teknologi, para ahli teknik mampu merangkai mesin-mesin canggih dan alat berat yang bisa bergerak seolah memiliki nyawa sendiri. Kita berdecak kagum pada kehebatan otak manusia.
Namun, sering kali kekaguman pada dunia material ini membuat kita lupa pada Dzat yang menciptakan material itu sendiri. Kita sering terjebak mengagungkan “ciptaan” dan melupakan “Sang Pencipta”. Untuk mengembalikan kejernihan tauhid kita, mari sejenak kita putar mundur waktu ribuan tahun lalu, menengok kisah seorang utusan Allah Swt yang dikaruniai mukjizat medis dan lisan yang jauh melampaui nalar manusia mana pun. Beliau adalah Nabi Isa ‘alaihissalam.
Nabi Isa diutus kepada Bani Israil pada masa di mana ilmu pengobatan dan tabib sedang berada di puncak kejayaannya. Untuk menundukkan keangkuhan intelektual saat itu, Allah Swt membekali Nabi Isa dengan mukjizat yang membuat tabib paling hebat sekalipun bertekuk lutut.
Bahkan sebelum ia dewasa, Nabi Isa sudah menunjukkan tanda kebesaran Allah Swt. Ketika ibundanya, Siti Maryam, difitnah dan dicemooh oleh kaumnya karena membawa bayi tanpa seorang suami, Maryam hanya menunjuk kepada bayinya. Dan atas kehendak Allah Swt, bayi merah yang masih berada dalam buaian itu berbicara dengan fasih membela kesucian ibunya, mendeklarasikan dirinya sebagai hamba dan nabi Allah Swt.
Setelah dewasa, mukjizat itu berlanjut. Beliau mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit kusta (lepra) yang saat itu dianggap mustahil diobati, hingga menghidupkan orang mati.
Seluruh rentetan mukjizat yang menakjubkan ini dirangkum oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah [5] ayat 110:
إِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ٱذْكُرْ نِعْمَتِى عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلْقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيْـَٔةِ ٱلطَّيْرِ بِإِذْنِى فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًۢا بِإِذْنِى ۖ وَتُبْرِئُ ٱلْأَكْمَهَ وَٱلْأَبْرَصَ بِإِذْنِى ۖ…
Yang artinya: (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus (Jibril). Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku…”
Mari kita garis bawahi pesan utama dari ayat ini. Perhatikan ada satu frasa yang diulang berkali-kali oleh Allah Swt dalam ayat ini: “Bi-idzni” (Dengan seizin-Ku).
Pesan praktisnya sangat kuat yaitu Nabi Isa, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar, adalah seorang hamba. Beliau menyembuhkan bukan karena kekuatan sihir atau karena beliau adalah Tuhan, melainkan murni karena izin Allah Swt. Ini adalah fondasi tauhid kita. Sehebat apa pun seorang makhluk, ia tidak memiliki daya dan upaya tanpa izin dari Sang Khalik.
Bagaimana kita membumikan pemahaman “Bi-idznillah” (dengan izin Allah) ini dalam keseharian kita?
Pertama, bagi rekan-rekan pendidik yang berkecimpung di dunia kejuruan, teknik, maupun riset dan pengembangan (RnD). Terkadang kita merasa bangga luar biasa ketika kurikulum yang kita buat sukses, atau saat merakit dan memperbaiki sistem kelistrikan alat berat yang rumit. Kita merasa pintar. Namun, kisah Nabi Isa mengingatkan kita: sehebat apa pun sistem yang kita bangun, kita hanyalah merangkai apa yang sudah diciptakan Allah Swt. Hanya Allah Swt yang mampu meniupkan “kehidupan” pada segumpal tanah. Maka, jangan biarkan gelar keilmuan atau kemampuan teknis kita membuat kita sombong. Ilmukan diri kita, tapi tetapkan hati kita bertawakal kepada Allah Swt.
Kedua, bagi Bapak/Ibu dalam menghadapi musibah penyakit. Ketika kita sakit parah, kita tentu wajib berikhtiar mencari dokter terbaik dan minum obat. Namun, jangan pernah menyandarkan kesembuhan pada dokter atau obat tersebut. Dokter itu mengobati, tapi yang menyembuhkan hanyalah Allah Swt. Sebagaimana Nabi Isa yang hanya bisa menyembuhkan kusta bi-idznillah (dengan izin Allah Swt). Jika saat ini ada di antara jamaah yang sedang diuji dengan penyakit yang menurut medis sulit disembuhkan, jangan putus asa. Allah Swt yang memberi izin penyakit itu datang, maka Allah Swt pula yang punya kuasa mencabutnya dalam sekejap mata.
Oleh karena itu, jamaah sekalian, mari kita perkokoh tauhid kita. Bersyukurlah atas kecerdasan dan akal yang Allah Swt titipkan, gunakan untuk kemajuan umat, namun jangan pernah melupakan kebergantungan mutlak kita kepada-Nya.
Mari kita tundukkan kepala, memohon kekuatan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Ya Allah, Yang Maha Menghidupkan dan Maha Menyembuhkan. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang teguh memegang kalimat tauhid. Jika saat ini ada di antara kami atau keluarga kami yang sedang berjuang melawan penyakit, maka angkatlah penyakit tersebut, ya Allah. Berikanlah kami kesembuhan yang tiada meninggalkan rasa sakit. Dan karuniakanlah kepada kami lisan yang senantiasa fasih menyuarakan kebenaran, sebagaimana Engkau karuniakan kepada hamba-Mu, Nabi Isa ‘alaihissalam.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Mohon maaf atas segala kekurangan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





