AkhlaqArtikelIbadahTuntunan

KHUTBAH JUM’AT: MENJAGA IKATAN KEKERABATAN

Silaturahim sebagai jalan menghadirkan rahmat Allah di tengah keluarga

Jumat Pon, 14 Agustus 2026 1 Rabiulawal 1448 H


DOWNLOAD NASKAH KHUTBAH JUM’AT


KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid. Ketakwaan juga tampak dalam cara kita berbicara kepada orang tua, menghormati saudara, menolong kerabat yang kesulitan, menyelesaikan perselisihan, dan menahan diri agar tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Muhammad SAW, juga doa keselamatan bagi keluarga beliau, para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta para ulama dan mujahid fi sabilillah hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu amanah yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering terlupakan, yaitu menjaga ikatan kekerabatan atau silaturahim.

Kemajuan teknologi membuat kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada sangat jauh. Akan tetapi, kadang-kadang hubungan dengan saudara sendiri justru terasa semakin renggang. Ada keluarga yang tidak saling menyapa karena pembagian warisan. Ada saudara yang bertahun-tahun tidak bertemu karena salah paham. Ada hubungan yang rusak karena utang, perbedaan pilihan, perkataan yang menyinggung, atau pesan di media sosial yang diterima tanpa tabayun. Perselisihan yang semula kecil kemudian diwariskan kepada anak-anak dan cucu-cucu.

Islam tidak memandang keluarga sekadar sebagai hubungan biologis. Keluarga adalah amanah, tempat pertama seseorang belajar kasih sayang, tanggung jawab, pengorbanan, dan akhlak. Karena itu, memelihara hubungan kekerabatan menjadi bagian penting dari ketakwaan.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisā’ [4]: 1:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءًۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan Allah menciptakan pasangannya darinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam ayat ini, perintah bertakwa disandingkan dengan perintah memelihara hubungan kekeluargaan. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak cukup berhenti pada ibadah pribadi. Kesalehan juga harus tampak dalam hubungan sosial, terutama kepada orang-orang yang memiliki hak kekerabatan dengan kita.

Orang tua memiliki hak untuk dihormati dan dirawat. Saudara memiliki hak untuk disapa dan diperhatikan. Kerabat yang lemah memiliki hak untuk ditolong sesuai kemampuan. Kerabat yang bersalah tetap memiliki hak untuk dinasihati dengan cara yang baik. Allah menutup ayat tersebut dengan penegasan bahwa Dia selalu mengawasi kita. Boleh jadi orang lain tidak mengetahui mengapa dua saudara tidak lagi berbicara, tetapi Allah mengetahui sebab, niat, perkataan, dan tindakan masing-masing.

Rasulullah ﷺ menjelaskan kedudukan ikatan kekerabatan dengan sabda beliau:

إِنَّ الرَّحِمَ شِجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ اللَّهُ: مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

Artinya: “Sesungguhnya hubungan kekerabatan adalah jalinan yang berasal dari Ar-Raḥmān. Allah berfirman: ‘Siapa yang menyambungmu, Aku menyambungnya; dan siapa yang memutusmu, Aku memutusnya.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 5988 dan berstatus sahih.

Kata raḥim, yang menunjuk kepada hubungan kekerabatan, memiliki kaitan penamaan dengan Ar-Raḥmān, nama Allah Yang Maha Pengasih. Maknanya bukan bahwa hubungan kekerabatan merupakan bagian dari zat Allah—Mahasuci Allah dari hal demikian—melainkan bahwa hubungan itu memiliki kaitan yang kuat dengan rahmat dan kasih sayang. Orang yang memeliharanya memperoleh pertolongan, kebaikan, dan rahmat Allah. Sebaliknya, orang yang memutuskannya sedang menempatkan dirinya dalam ancaman terputus dari pertolongan dan kebaikan-Nya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Memutus hubungan kekerabatan bukan persoalan ringan. Allah memperingatkan dalam QS. Muḥammad [47]: 22–23:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ ۝ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَارَهُمْ

Artinya: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah; lalu dibuat tuli pendengarannya dan dibutakan penglihatannya.”

Ayat ini menempatkan pemutusan hubungan keluarga berdekatan dengan kerusakan di bumi. Sebab, konflik keluarga sering kali tidak berhenti pada dua orang. Ia dapat berkembang menjadi fitnah, permusuhan antargenerasi, perebutan hak, hilangnya rasa aman, dan terlantarnya anggota keluarga yang lemah. Anak-anak akhirnya mewarisi kebencian terhadap saudara yang bahkan belum pernah mereka kenal.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan yang sangat keras:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Artinya: “Tidak masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim no. 2556b dan berstatus sahih.

Ancaman tersebut menunjukkan besarnya dosa memutus silaturahim tanpa alasan yang dibenarkan. Hadis ini tidak boleh digunakan untuk mudah memvonis orang tertentu sebagai penghuni neraka. Maksudnya adalah peringatan keras bahwa pelakunya terancam tidak masuk surga bersama rombongan pertama apabila belum diampuni Allah. Karena itu, jangan sampai kemarahan sesaat berubah menjadi keputusan memutus hubungan sepanjang hayat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Silaturahim bukan hanya mengunjungi kerabat yang selalu mengunjungi kita. Silaturahim juga bukan sekadar membalas hadiah, membalas undangan, atau berbuat baik kepada saudara yang lebih dahulu berbuat baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya: “Orang yang menyambung silaturahim bukanlah sekadar orang yang membalas kebaikan. Akan tetapi, orang yang benar-benar menyambung silaturahim ialah orang yang tetap menyambungnya ketika kerabatnya memutuskannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 5991 dan berstatus sahih.

Di sinilah letak kemuliaan akhlak. Jika kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik, kita sedang melakukan pertukaran kebaikan. Namun, jika kita tetap mengucapkan salam ketika dicueki, tetap mendoakan ketika disakiti, dan tetap menawarkan jalan damai ketika hubungan diputus, kita sedang beribadah kepada Allah.

Menyambung silaturahim tidak berarti membenarkan semua kesalahan kerabat. Ia juga tidak berarti membiarkan kekerasan, penghinaan, manipulasi, atau kezaliman terus berulang. Islam tidak memerintahkan seseorang menyerahkan dirinya kepada bahaya. Batas yang sehat boleh dibuat untuk mencegah mudarat. Komunikasi dapat dilakukan melalui perantara yang aman, pesan yang santun, bantuan seperlunya, atau doa dari kejauhan. Yang harus dihindari ialah kebencian yang dipelihara, keinginan membalas dendam, membuka aib, dan meniadakan seluruh hak kekerabatan tanpa alasan yang benar.

Allah juga memerintahkan agar kerabat memperoleh haknya. Firman-Nya dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 26:

وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Artinya: “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros.”

Hak kerabat tidak hanya berbentuk uang. Hak itu dapat berupa perhatian, penghormatan, perlindungan, nasihat, kunjungan, dan pertolongan ketika dibutuhkan. Jika memiliki kelapangan harta, bantulah kerabat yang kesulitan tanpa merendahkan mereka. Jika belum mampu membantu secara materi, berikanlah perkataan yang baik, informasi yang bermanfaat, tenaga, waktu, dan doa.

Silaturahim bukan beban yang mengurangi rezeki. Justru Rasulullah ﷺ menjadikannya salah satu sebab datangnya keberkahan. Beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan jejak umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan kekerabatannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 5986 dan Muslim no. 2557; statusnya muttafaq ‘alaih.

Kelapangan rezeki tidak selalu berarti jumlah harta yang semakin besar. Ia dapat berupa kecukupan, ketenteraman, kesehatan, kemudahan, pertolongan keluarga, dan keberkahan dalam penghasilan. Panjang umur dapat bermakna umur yang diberkahi sehingga diisi dengan amal yang luas manfaatnya, atau tambahan umur sesuai ketetapan Allah yang dicatat oleh para malaikat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu, apa yang dapat kita lakukan mulai hari ini?

Pertama, dahulukan hak orang tua dan kerabat terdekat. Jangan sampai kita dikenal ramah oleh banyak orang, tetapi kasar kepada orang tua. Jangan sampai kita mudah membantu orang jauh, tetapi tidak peduli kepada saudara yang benar-benar membutuhkan.

Kedua, rawat komunikasi secara berkala. Silaturahim tidak harus selalu menunggu hari raya. Sebuah salam, panggilan telepon, kunjungan singkat, atau menanyakan kabar dapat mencegah jarak berubah menjadi permusuhan.

Ketiga, jaga lisan dan jari-jari kita. Jangan menyebarkan aib keluarga, menyindir melalui media sosial, atau menulis pesan ketika kemarahan sedang memuncak. Banyak hubungan rusak bukan karena persoalan besar, melainkan karena kata-kata yang tidak dijaga.

Keempat, selesaikan perselisihan dengan tabayun dan keadilan. Jika terjadi persoalan warisan, utang, atau hak keluarga, selesaikan berdasarkan aturan yang benar. Libatkan mediator yang adil dan tepercaya. Jangan menjadikan silaturahim sebagai alasan untuk menutupi kezaliman, tetapi jangan pula menjadikan perselisihan sebagai alasan untuk meniadakan persaudaraan.

Kelima, beranilah menjadi orang pertama yang membuka pintu damai. Jangan berkata, “Saya mau meminta maaf kalau dia meminta maaf lebih dahulu.” Orang yang paling kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertengkaran, melainkan orang yang mampu mengalahkan ego demi mencari rida Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bermuhasabah. Adakah orang tua yang lama tidak kita kunjungi? Adakah saudara yang pesannya kita abaikan karena kesal? Adakah kerabat yang membutuhkan pertolongan, tetapi kita biarkan? Adakah permusuhan keluarga yang diam-diam kita wariskan kepada anak-anak?

Jangan menunggu sakit untuk datang. Jangan menunggu kematian untuk memaafkan. Jangan menunggu penyesalan ketika kesempatan memperbaiki hubungan telah tertutup. Selama kehidupan masih diberikan, pintu silaturahim masih dapat diketuk. Mulailah dengan salam, doa, permintaan maaf, atau ajakan berbicara dengan baik.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، وَأُحَذِّرُكُمْ وَإِيَّايَ مِنْ مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meneguhkan kembali pesan khutbah pertama. Menjaga ikatan kekerabatan adalah bagian dari ketakwaan. Silaturahim bukan sekadar membalas kebaikan, melainkan keberanian tetap berbuat benar ketika hubungan sedang diuji. Memeliharanya menjadi sebab datangnya rahmat dan keberkahan, sedangkan memutuskannya tanpa alasan yang benar mendatangkan ancaman yang berat.

Sepulang dari masjid ini, marilah kita memilih satu tindakan nyata: menghubungi orang tua, menyapa saudara, menolong kerabat, menghentikan sindiran, atau membuka jalan damai. Jangan menunggu pihak lain memulai. Jadilah orang yang lebih dahulu mengucapkan salam dan lebih dahulu mencari rida Allah.

Allah mengajarkan doa agar hati kita dibersihkan dari kebencian:

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 10)

Doa ini mengajarkan bahwa memperbaiki hubungan harus dimulai dengan memohon ampun, membersihkan hati dari dendam, dan mengakui persaudaraan orang-orang beriman.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْبَغْضَاءِ، وَزَيِّنْهَا بِالْإِيمَانِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَحَبَّةِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَأَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَإِخْوَانَنَا وَأَخَوَاتِنَا، وَأَقَارِبَنَا أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ اشْفِ مَرِيضَهُمْ، وَارْحَمْ مَيِّتَهُمْ، وَاقْضِ دَيْنَ مَدِينِهِمْ، وَفَرِّجْ كَرْبَ مَكْرُوبِهِمْ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān [25]: 74)

Melalui doa ini, kita memohon agar keluarga bukan hanya tersambung secara nasab, tetapi juga disatukan oleh iman dan menjadi teladan dalam ketakwaan.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، يَسُودُ فِيهَا الْعَدْلُ وَالْخَيْرُ وَالسَّلَامُ. وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Naḥl [16]: 90)

Ayat ini merangkum jalan perbaikan keluarga: tegakkan keadilan, lakukan kebaikan, penuhi hak kerabat, dan jauhi segala bentuk kezaliman serta permusuhan.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


DOWNLOAD NASKAH KHUTBAH JUM’AT


DAFTAR SUMBER DALIL

UTAMA: https://kasmui.cloud/khutbah/

Ayat Al-Qur’an

  1. QS. An-Nisā’ [4]: 1 — perintah bertakwa dan memelihara hubungan kekeluargaan.
  2. QS. Muḥammad [47]: 22–23 — larangan berbuat kerusakan dan memutus hubungan kekerabatan.
  3. QS. Al-Isrā’ [17]: 26 — perintah memberikan hak kepada kerabat dekat.
  4. QS. Al-Ḥasyr [59]: 10 — doa memohon ampunan dan kebersihan hati dari kedengkian.
  5. QS. Al-Furqān [25]: 74 — doa bagi pasangan dan keturunan.
  6. QS. An-Naḥl [16]: 90 — perintah berbuat adil, ihsan, dan memberi kepada kerabat.

Hadis

  1. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 5988: hubungan kekerabatan sebagai jalinan yang berkaitan dengan Ar-Raḥmān — sahih.
  2. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 5991: penyambung silaturahim bukan sekadar pembalas kebaikan — sahih.
  3. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 5986; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah, no. 2557: silaturahim menjadi sebab kelapangan rezeki dan keberkahan umur — muttafaq ‘alaih.
  4. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah, no. 2556b: ancaman bagi pemutus hubungan kekerabatan — sahih.

Rujukan verifikasi daring: Quran.com dan Sunnah.com.

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button