AkhlaqArtikelTuntunan

Menjadi seorang ustadz atau ustadzah bukanlah sebuah perkara yang mudah

Menjadi seorang ustadz atau ustadzah bukanlah sebuah perkara yang mudah

Oleh : Ali Tuko (Sekolah Tabligh PDM Brebes)

Di balik sebutan tersebut terdapat tanggung jawab yang besar. Seorang ustadz atau ustadzah bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan ilmu agama, tetapi juga dituntut untuk berusaha menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang ustadz atau ustadzah memiliki amanah untuk menyampaikan kebaikan kepada masyarakat. Apa yang disampaikan akan didengar, dipelajari, bahkan mungkin diamalkan oleh orang lain. Karena itu, ilmu yang dimiliki harus disertai dengan keikhlasan, kesabaran, kehati-hatian, dan rasa takut kepada Allah سبحانه وتعالى.

Bukan Sekadar Pandai Berbicara

Menjadi pendakwah bukan hanya tentang kemampuan berbicara di depan banyak orang. Seorang ustadz atau ustadzah harus terus belajar dan memperdalam ilmu. Ia harus berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu, terutama ketika berbicara tentang Al-Qur’an, hadis, hukum Islam, dan persoalan agama.

Ilmu agama memiliki kedudukan yang mulia. Oleh sebab itu, seseorang tidak sepatutnya berbicara tentang agama hanya berdasarkan pendapat pribadi tanpa dasar ilmu yang benar.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

“Fas’alū ahladz-dzikri in kuntum lā ta’lamūn.”
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

Ayat tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu dan bertanya kepada orang yang berilmu.

Harus Menjadi Teladan

Tantangan lain menjadi seorang ustadz atau ustadzah adalah tuntutan untuk memberikan keteladanan. Masyarakat tidak hanya melihat apa yang disampaikan, tetapi juga memperhatikan bagaimana seorang ustadz atau ustadzah bersikap.

Kesabaran, kejujuran, rendah hati, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta menjalankan ibadah merupakan bagian dari keteladanan yang sangat penting.

Namun, seorang ustadz atau ustadzah tetaplah manusia yang memiliki kekurangan. Mereka juga bisa lelah, keliru, dan memiliki persoalan dalam kehidupan. Karena itu, jangan sampai masyarakat menuntut kesempurnaan kepada seorang pendakwah seolah-olah mereka tidak pernah melakukan kesalahan.

Yang terpenting adalah terus berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik.

Banyak Ujian dan Tantangan

Menjadi seorang ustadz atau ustadzah juga tidak terlepas dari ujian. Ada kalanya nasihat yang disampaikan tidak diterima. Ada pula yang salah memahami perkataan, memberikan kritik, atau bahkan mencela.

Dalam kondisi seperti itu, dibutuhkan kesabaran yang besar. Dakwah bukanlah jalan untuk mencari pujian manusia. Tujuan utama berdakwah adalah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengharap ridha Allah سبحانه وتعالى.

Rasulullah ﷺ sendiri menghadapi berbagai macam ujian ketika berdakwah. Namun beliau tetap bersabar, berlemah lembut, dan terus menyampaikan kebenaran.

Menjaga Keikhlasan

Salah satu perkara yang sangat penting bagi seorang ustadz atau ustadzah adalah menjaga niat. Ilmu, ceramah, kajian, tulisan, maupun aktivitas dakwah hendaknya dilakukan karena Allah.

Pujian manusia tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang berada di jalan yang benar. Begitu pula kritikan manusia tidak selalu berarti seseorang berada di jalan yang salah.

Seorang pendakwah perlu terus mengoreksi niatnya: apakah ia berdakwah karena Allah atau karena ingin dikenal, dipuji, mendapatkan kedudukan, atau mendapatkan keuntungan dunia?

Keikhlasan inilah yang harus terus dijaga karena hati manusia mudah berubah.

Terus Belajar dan Memperbaiki Diri

Menjadi ustadz atau ustadzah bukan berarti berhenti belajar. Justru semakin seseorang memahami ilmu, semakin ia menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya masih sangat sedikit.

Maka, seorang pendakwah hendaknya terus belajar kepada guru yang terpercaya, membaca, mengkaji Al-Qur’an dan hadis, serta memperbaiki akhlaknya.

Selain itu, seorang ustadz atau ustadzah juga perlu memahami kondisi masyarakat agar dakwah dapat disampaikan dengan cara yang bijaksana dan mudah diterima.

Menghormati Para Ustadz dan Ustadzah

Karena menjadi seorang ustadz atau ustadzah tidaklah mudah, sudah sepatutnya kita menghormati orang-orang yang mengajarkan ilmu kepada kita. Hargailah nasihat mereka, doakan kebaikan untuk mereka, dan jangan mudah merendahkan atau mencela ketika terdapat kekurangan pada diri mereka.

Menghormati guru dan orang yang menyampaikan ilmu bukan berarti menganggap mereka selalu benar. Jika terdapat kekeliruan, hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, santun, dan berdasarkan ilmu.

Penutup

Pada akhirnya, menjadi seorang ustadz atau ustadzah adalah sebuah amanah yang besar. Bukan sekadar gelar, bukan pula sekadar tampil di depan jamaah, tetapi sebuah perjalanan panjang untuk terus belajar, mengamalkan ilmu, memperbaiki akhlak, dan mengajak manusia kepada kebaikan.

Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan keikhlasan kepada para ustadz dan ustadzah, memberikan kesabaran dalam berdakwah, menambahkan ilmu yang bermanfaat, serta menjadikan mereka teladan yang baik bagi umat.

Dan bagi kita yang sedang belajar agama, marilah kita terus menuntut ilmu, menghormati para guru, serta mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.

“Ya Allah, jadikanlah ilmu yang kami pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, dan jadikanlah kami orang-orang yang mampu mengamalkannya. Aamiin.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button