Mudah Dakwah di Era Digital atau di Masa Rasulullah SAW? Masihkah Kita Mengeluh?
Oleh : Heri S. Abdullah

Di era digital saat ini, dakwah memiliki jangkauan yang luar biasa luas. Satu unggahan bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan ini, tantangan dakwah juga semakin kompleks: banjir informasi, hoaks, komentar negatif, dan algoritma media sosial yang tak selalu berpihak pada kebaikan. Maka muncul pertanyaan: lebih berat mana, dakwah di era digital atau di masa Rasulullah SAW?
Dakwah di Masa Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memulai dakwahnya di tengah masyarakat jahiliyah yang keras, penuh penolakan, bahkan ancaman fisik. Beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun, lalu secara terang-terangan setelah turunnya perintah Allah:
> ููุงุตูุฏูุนู ุจูู
ูุง ุชูุคูู
ูุฑู ููุฃูุนูุฑูุถู ุนููู ุงููู
ูุดูุฑูููููู
> โMaka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.โ
> (QS. Al-Hijr: 94)
Beliau dan para sahabat mengalami boikot, penyiksaan, bahkan pengusiran. Namun, mereka tetap teguh dan sabar.
Dakwah di Era Digital
Di era digital, tantangan dakwah bukan lagi cambuk dan pedang, melainkan distraksi, fitnah digital, dan budaya viral yang sering kali menjauhkan dari nilai-nilai Islam. Meski tidak berisiko nyawa, dakwah digital menuntut konsistensi, kreativitas, dan kesabaran menghadapi komentar pedas dan misinformasi.
Namun Allah tetap memuliakan siapa pun yang meneruskan misi dakwah:
> ูููุชูู
ู ุฎูููุฑู ุฃูู
ููุฉู ุฃูุฎูุฑูุฌูุชู ููููููุงุณู ุชูุฃูู
ูุฑูููู ุจููฑููู
ูุนูุฑูููู ููุชููููููููู ุนููู ูฑููู
ููููุฑู ููุชูุคูู
ูููููู ุจููฑูููููู
> โKalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maโruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.โ
> (QS. Ali Imran: 110)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa dakwah adalah tugas mulia, namun harus dilakukan dengan hikmah dan kelembutan. Beliau menulis bahwa tantangan zaman akan selalu berubah, tetapi esensi dakwah tetap: menyampaikan kebenaran dengan sabar dan kasih.
Syaikh Yusuf Al-Qaradawi juga menyebut bahwa media digital adalah โpedang bermata duaโโbisa menjadi ladang pahala atau sumber fitnah, tergantung bagaimana digunakan.
Masihkah Kita Mengeluh?
Jika Rasulullah SAW tetap berdakwah meski diancam dan disakiti, apakah kita pantas mengeluh hanya karena algoritma tidak mendukung konten kita? Atau karena followers tidak bertambah?
Dakwah bukan tentang popularitas, tapi tentang menyampaikan kebenaran. Rasulullah bersabda:
> ุฎูููุฑู ุงููููุงุณู ุฃูููุฑูุคูููู
ู ููุฃูุชูููุงููู
ู ููุขู
ูุฑูููู
ู ุจูุงููู
ูุนูุฑููููุ ููุฃูููููุงููู
ู ุนููู ุงููู
ูููููุฑู
> โManusia terbaik adalah yang paling bertakwa, menyuruh kepada kebaikan, melarang dari kemunkaran.โ
> (HR. Ahmad)
Penutup
Dakwah di era digital memang berbeda, tapi bukan berarti lebih ringan. Tantangannya berubah bentuk, namun semangatnya tetap sama. Maka, daripada mengeluh, mari kita teruskan estafet dakwah dengan semangat Rasulullah: sabar, santun, dan konsisten.
Kalau kita punya smartphone dan akses internet, kita sudah punya alat dakwah. Tinggal satu pertanyaan: mau digunakan untuk apa?
Oleh : Heri S. Abdullah
(Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah di Banjarnegara)




