Khutbah Jum’at : Misteri Ubun-Ubun (Nasiyah): Mengapa Pendusta Diseret Ubun-ubunnya?
Abdul Azis, S.Hum., M.Pd. (Majelis Tablig PCM Kajen)

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله . اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمً.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia iman, Islam, dan akal sehat yang masih menempel di kepala kita. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengawali khutbah di siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian: marilah kita jaga dan tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan sebenar-benar takwa, baik di saat tersembunyi maupun terang-terangan.
Jamaah rahimakumullah,
Al-Qur’an adalah kitab mukjizat yang tidak hanya berbicara tentang hukum dan akhirat, tetapi juga memuat ketelitian bahasa yang luar biasa ketika berbicara tentang anatomi dan psikologi manusia. Salah satu misteri yang sangat menarik untuk kita renungkan adalah penyebutan kata Nasiyah (ubun-ubun atau bagian depan kepala) di dalam Al-Qur’an.
Biasanya, ketika kita merujuk pada kebohongan atau dosa, kita menisbatkannya pada lisan yang berucap, atau hati yang kotor. Namun, dalam teguran yang paling keras kepada gembong kekafiran, Al-Qur’an justru menisbatkan kebohongan dan kedurhakaan itu pada ubun-ubun (otak bagian depan).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam firmannya yakni Surah Al-Alaq ayat 15-16:
كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ )15( نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ 16
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka), (yaitu) ubun-ubun orang yang mendusta lagi durhaka.”
Ayat ini memiliki Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) yang sangat jelas. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa Abu Jahl pernah menyombongkan diri dan mengancam akan menginjak leher Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenamkan wajah beliau ke tanah jika ia melihat Nabi shalat di Ka’bah.
Merespons kesombongan Abu Jahl ini, Allah menurunkan ayat tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan makna lafaz Lanasfa’an bin-nasiyah. Kata saf’a berarti menarik dengan sangat keras, keras, dan penuh kehinaan. Allah mengancam akan menarik ubun-ubun Abu Jahl dengan sangat keras dan melemparkannya ke dalam neraka.
Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah (yaitu) ubun-ubun orang yang mendusta lagi durhaka. Beliau menegaskan: “Artinya, ubun-ubun Abu Jahl itu adalah ubun-ubun yang pendusta dalam ucapannya, dan durhaka (penuh dosa) dalam perbuatannya.”
Mengapa Ubun-Ubun yang Disebut Pendusta?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Di sinilah letak kedalaman tafsir dan mukjizat ilahiah. Mengapa Allah tidak mengatakan “lisan yang mendusta” atau “hati yang durhaka”? Mengapa ubun-ubun?
Ulama tafsir dan ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa nasiyah (ubun-ubun) adalah simbol kepemimpinan, kebanggaan, dan pusat kendali seseorang. Apabila seseorang ditarik ubun-ubunnya, maka hancurlah seluruh harga diri dan kesombongannya. Ia tidak bisa lagi melawan.
Lebih dari itu, jika kita melihat dari kacamata ilmu pengetahuan modern yang semakin menguatkan kebenaran Al-Qur’an, bagian otak yang berada tepat di balik ubun-ubun manusia adalah Prefrontal Cortex (Korteks Prefrontal). Bagian otak inilah yang berfungsi untuk merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, dan merancang kebohongan. Jika seseorang berniat jahat atau ingin berbohong, bagian otak di balik ubun-ubun inilah yang bekerja. Mahasuci Allah yang telah menyebut “ubun-ubun yang mendusta dan durhaka” 1400 tahun yang lalu, jauh sebelum ilmu anatomi modern menemukannya.
Jamaah rahimakumullah,
Bagi orang kafir dan sombong seperti Abu Jahl, nasiyah-nya akan ditarik paksa oleh Malaikat Azab. Namun, bagi seorang mukmin sejati, kita diajarkan untuk menyerahkan nasiyah kita secara sukarela kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perhatikanlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kita sedang dilanda kesedihan dan kegelisahan yang mendalam. Dalam hadis sahih riwayat Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah berdoa:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (laki-laki), anak hamba-Mu (perempuan). Nasiyati bi yadika (Ubun-ubunku berada di Tangan-Mu). Hukum-Mu berlaku atasku, dan takdir-Mu kepadaku adalah adil. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegalauanku.” (HR. Ahmad).
Menyatakan “Ubun-ubunku di Tangan-Mu” adalah bentuk penyerahan total. Kita mengakui bahwa pikiran kita, rencana kita, kebanggaan kita, dan seluruh kendali hidup kita, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk menjaga ubun-ubun kita dari tarikan azab neraka adalah dengan menempelkannya ke tanah dalam sujud. Ketika kita sujud, kita meletakkan bagian tertinggi dan paling membanggakan dari tubuh kita yakni ubun-ubun kita sejajar dengan tanah tempat kita berpijak, demi merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga pikiran kita dari merencanakan dosa, menjaga lisan kita dari kedustaan, dan menjadikan ubun-ubun kita senantiasa tunduk, ruku’, dan sujud kepada-Nya.
بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Di penghujung khutbah ini, mari kita muhasabah kembali. Jangan biarkan ubun-ubun yang telah Allah ciptakan dengan sempurna ini digunakan untuk merancang kedustaan, memikirkan maksiat, atau menumbuhkan bibit-bibit kesombongan. Ubun-ubun yang keras kepala dan enggan sujud, kelak akan diseret dengan penuh kehinaan. Sebaliknya, ubun-ubun yang merendah dalam ketaatan akan diangkat derajatnya oleh Allah Azza wa Jalla.
Mari kita tundukkan hati kita, menengadahkan tangan memohon ampunan kepada Allah Dzat Yang Maha Mendengar.
إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ .اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ .رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




