Ustadz Agus Priyadi: Khitan sebagai Pintu Mewujudkan Anak Sholeh

Banjarnegara– Khitan merupakan salah satu sunnah fitrah yang bertujuan mensucikan anggota badan dari najis. Syariat khitan telah ada sejak Nabi Ibrahim AS.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Agus Priyadi, S.Pd.I. dalam tausiyah Walimatul Khitan Ananda Ahza Zain Arziki, putra keluarga besar Bapak Sarono dan Ibu Susanti di kediamannya Desa Danaraja RT 03 RW 09, Kecamatan Purwanegara, pada Ahad (27/09/2026) kemarin.
Ustadz Agus menjelaskan, sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Nabi Ibrahim AS berkhitan saat usianya 80 tahun dan berkhitan dengan qadum (kapak)”.
Landasan khitan juga diperkuat firman Allah SWT dalam QS An-Nahl ayat 123: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang yang musyrik.”
Khitan Pintu Mewujudkan Anak Sholeh
Lebih lanjut, anggota Korp Mubaligh Muhammadiyah Banjarnegara yang akrab disapa Gus Pri ini menegaskan bahwa khitan adalah pintu menuju anak yang sholeh.
“Anak yang sholeh adalah anak yang taat beragama serta mendoakan orang tuanya. Anak sholeh dapat diwujudkan salah satunya dengan menanamkan nilai-nilai agama, di antaranya dengan melaksanakan khitan sebagai perintah agama yang langsung diajarkan Nabi SAW,” tutur Ustadz Agus.
Menurutnya, anak sholeh merupakan dambaan setiap orang tua. Bukan hanya menjadi kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi aset akhirat yang senantiasa mengalirkan pahala bahkan saat orang tuanya telah meninggal dunia.
Ia juga mengutip QS Al-Furqan ayat 74 agar setiap orang tua berdoa supaya diberi keturunan yang menjadi penyejuk hati dan penenang jiwa (qurrota a’yun).
Pengajian yang dihadiri warga sekitar beserta tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Danaraja tersebut berlangsung khidmat.
Di akhir tausiyah, Ustadz Agus mendoakan agar Ananda Ahza Zain Arziki menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua, serta berguna bagi diri, keluarga, nusa, bangsa, dan agama.
Suasana pengajian terasa hidup dan komunikatif. Gaya penyampaian Ustadz muda ini yang khas dengan guyonan ngapak Banjarnegara dan cerita-cerita lucu membuat jamaah antusias menyimak hingga akhir.




