Artikel
Trending

Belajar Sabar dalam Menuntut Ilmu dengan Menjadikan Tugas dan Ujian Sebagai Kawah Candradimuka

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah,

Belakangan ini, kita sering mendengar istilah burnout atau kelelahan mental, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Fenomena mengeluh di media sosial tentang tumpukan tugas, susahnya soal ujian, hingga dosen atau guru yang dianggap terlalu menuntut, seolah menjadi makanan sehari-hari. Banyak yang merasa jenuh, stres, bahkan tidak sedikit yang ingin menyerah dan berhenti belajar.

Tentu, merasa lelah adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, mari kita ubah sudut pandang kita. Hari ini, kita akan merenungkan mengapa segala tugas, hafalan, ujian, dan rintangan di bangku sekolah maupun perkuliahan sejatinya bukanlah beban yang didesain untuk menyiksa kita, melainkan sebuah sarana latihan mental agar kita menjadi manusia yang tangguh.

Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah sekadar aktivitas duniawi untuk mendapatkan ijazah atau mencari pekerjaan. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung, dan setiap ibadah pasti membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam menuntut ilmu berarti menahan diri dari kemalasan, menahan ego untuk tidak bermain saat harus belajar, dan menahan keluh kesah saat tugas datang silih berganti.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bersabar dalam menempuh beratnya jalan pendidikan. Beliau bersabda dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim:

 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

 

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Mari kita perhatikan redaksi hadis tersebut. Rasulullah menggunakan kata “salaka thariqan” (menempuh suatu jalan). Kata “jalan” di sini mengisyaratkan sebuah proses dan perjalanan. Sebuah perjalanan pasti memakan waktu, menguras tenaga, dan terkadang kita harus melewati jalan yang menanjak, berbatu, atau berlubang. Jalan menuntut ilmu bukanlah karpet merah yang empuk; ia berisi duri-duri ujian, bukit-bukit tugas, dan badai ujian akhir.

Lalu, mengapa balasannya adalah kemudahan jalan menuju Surga? Karena orang yang berhasil melewati jalan ilmu itu adalah orang-orang yang telah lulus ujian kesabaran.

Pesan utamanya sangat praktis untuk kita terapkan. Jadikanlah setiap tugas, makalah, atau hafalan yang menumpuk sebagai sarana melatih otot-otot mental kita. Jika saat ini kita terbiasa lari dari tugas atau menyerah pada soal yang sulit, maka kelak di dunia kerja dan kehidupan nyata, kita akan menjadi pribadi yang mudah putus asa saat dihadapkan pada masalah keluarga atau ekonomi. Ujian akademik hari ini adalah simulasi untuk ujian kehidupan esok hari.

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari; bagi rekan-rekan pelajar, ketika teman-teman kalian asyik bermain game online atau scroll media sosial hingga larut malam, sementara kalian harus menahan kantuk untuk menyelesaikan tugas matematika atau menghafal ayat Al-Qur’an, sadarilah bahwa saat itu kalian sedang mempraktikkan tingkat kesabaran yang tinggi. Saat kalian mendapat nilai yang kurang memuaskan meski sudah belajar keras, lalu kalian tidak marah melainkan mengevaluasi diri dan belajar lebih giat lagi, itulah yang disebut kedewasaan. Lelahnya kalian di meja belajar hari ini, insyaallah akan ditimbang sebagai pahala jihad di jalan Allah.

Bagi Bapak/Ibu orang tua, mari kita dukung anak-anak kita. Jangan hanya menuntut mereka mendapat nilai seratus, tapi hargailah proses, keringat, dan kesabaran mereka. Ajarkan mereka untuk tahan banting, agar mereka tidak menjadi generasi stroberi yang tampak indah di luar namun mudah hancur saat ditekan.

Tidak ada orang berilmu yang mendapatkan ilmunya dengan bersantai-santai. Mari kita perbarui niat kita. Ganti keluhan dengan dzikir, ganti rasa malas dengan tekad yang kuat.

Mari kita tutup majelis kultum ini dengan berdoa, memohon agar Allah SWT senantiasa mengaruniakan kita keikhlasan dan kesabaran dalam menuntut ilmu.

Ya Allah, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Karuniakanlah kepada kami, anak-anak kami, dan generasi muda kami kesabaran yang tak bertepi dalam mencari ilmu-Mu. Jadikanlah setiap lelah kami sebagai lillah, setiap keringat kami sebagai penggugur dosa, dan setiap ujian yang kami hadapi sebagai pengangkat derajat kami di sisi-Mu. Mudahkanlah jalan kami menuju surga-Mu melalui ilmu yang bermanfaat.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

Aqulu qawli hadza, wastaghfirullaha li walakum.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button