Tabligh Akbar Muhammadiyah Blimbing: 10 Ribu Jamaah dari Berbagai Daerah Padati Lapangan Wonorejo

SUKOHARJO — Sekitar 10 ribu jamaah memadati Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jumat malam (6/11/2026). Ribuan umat Islam dari berbagai penjuru Solo Raya dan sejumlah daerah lainnya berbondong-bondong menghadiri Tabligh Akbar Muhammadiyah bertema “Bersama Satukan Bangsa” yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Muhammadiyah Cabang Blimbing, Daerah Sukoharjo, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Wonorejo.
Antusiasme jamaah terlihat dari luasnya jangkauan peserta yang hadir. Tidak hanya berasal dari wilayah Sukoharjo dan sekitarnya, jamaah juga datang dari Wonogiri, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Salatiga, Semarang, Magelang, dan berbagai daerah lainnya. Kehadiran peserta lintas daerah tersebut menjadikan Lapangan Desa Wonorejo sebagai titik berkumpulnya ribuan umat dalam suasana persaudaraan dan kebersamaan.
Tausiah utama disampaikan oleh mubaligh nasional, Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, Lc., M.A. Kehadiran dai lulusan Universitas Islam Madinah tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pencerahan keagamaan. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memperkuat Ukhuwah Islamiyah sebagai fondasi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.
Ribuan Jamaah dari Berbagai Daerah Padati Lapangan Wonorejo
Meskipun kawasan Polokarto sempat diguyur hujan deras pada petang hari, cuaca berubah menjadi sejuk dan kondusif menjelang acara yang dimulai pukul 20.10 WIB.
Panitia mengatur tata letak area pengajian secara tertib. Jamaah putra menempati sisi barat lapangan, sedangkan jamaah putri menempati sisi timur. Tingginya antusiasme masyarakat membuat lautan manusia memenuhi area lapangan, bahkan meluber hingga ke luar lapangan dan sepanjang koridor jalan desa.
Kehadiran jamaah dari berbagai kabupaten dan kota menunjukkan besarnya semangat masyarakat untuk mengikuti kegiatan dakwah sekaligus mempererat tali silaturahmi. Jarak dan perbedaan daerah asal tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dalam satu majelis ilmu dengan membawa semangat persatuan.
Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Forkopimcam Polokarto, antara lain Camat Polokarto Heri Wahyu Cahyono, S.STP., M.M., Kapolsek AKP Sri Haryanto, S.Sos., serta perwakilan Danramil Polokarto.
Acara ini juga menjadi sarana silaturahmi lintas organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lembaga pendidikan Islam. Turut hadir Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Blimbing H. Andi Asadudin, S.Psi., Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Blimbing Nur Husna, S.Pd., serta Kepala Desa Wonorejo H. Yusuf Aziz Rahma, S.Pd., M.M.
Selain itu, tampak hadir pimpinan pondok pesantren se-Kecamatan Polokarto, perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), serta sejumlah tokoh lembaga pendidikan Islam. Di antaranya Wakil Direktur Ponpes Modern Imam Syuhodo KH. Haidar Mubarak, Lc., M.A., Kabid Litbang PP Al-Ukhuwah Sukoharjo Ustadz Arif Nurrohim, S.Pd.I., M.Pd., dan Wakil Rektor STIS Ukhuwah Ustadz Harun Al Rasyid, S.Pd.I., M.Pd.I.
Ustadz Syafiq Riza Basalamah Tekankan Ta’aruf dan Hak Sesama Muslim
Dalam ceramahnya, Ustadz Syafiq Riza Basalamah mengawali tausiah dengan aksi interaktif yang hangat. Beliau mengajak jamaah untuk saling bersalaman dan memperkenalkan diri kepada orang yang berada di sebelah kanan maupun kiri masing-masing. Langkah tersebut dilakukan agar persaudaraan tidak sekadar tampak secara fisik, tetapi juga tertanam kuat di dalam hati.
“Antum semua yang hadir di sini, apakah sudah kenal dengan yang di kanan dan di kiri antum? Saya khawatir kebersamaan kita hanya jasadnya saja yang duduk bersama, tetapi hati kita tidak saling menyatu,” tegas Ustadz Syafiq Riza Basalamah di hadapan ribuan jamaah.
Beliau kemudian menguraikan firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 1 dan Surah Al-Hujurat ayat 13. Menurutnya, seluruh manusia berasal dari keturunan yang sama, yaitu Nabi Adam AS dan Hawa. Oleh karena itu, keberagaman suku, bangsa, dan latar belakang merupakan sarana untuk saling mengenal (lita’arafu), bukan untuk saling berbangga diri.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi melihat pada hati dan amal perbuatan kalian,” lanjut Ustadz Syafiq.
Selanjutnya, beliau menguraikan enam hak sesama muslim yang wajib dijaga bersama, yaitu menyebarkan salam ketika bertemu, memenuhi undangan, memberikan nasihat yang tulus, mendoakan saudara yang bersin, menjenguk orang sakit, serta mengantarkan dan menyalati jenazah.
Rawat Kebinekaan, Perkuat Ukhuwah Islamiyah
Sementara itu, Kepala Desa Wonorejo H. Yusuf Aziz Rahma mengapresiasi terselenggaranya kegiatan dakwah berskala besar tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur karena Tabligh Akbar ini mampu mempertemukan berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang organisasi dan kelembagaan.
Dalam sambutannya, Yusuf Aziz Rahma menegaskan bahwa perbedaan paham maupun wadah organisasi merupakan keniscayaan yang tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah umat. Sebaliknya, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus dirawat agar persaudaraan tetap terjaga demi keutuhan bangsa Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PCM Blimbing H. Andi Asadudin menyatakan bahwa perbedaan furuiyah tidak seharusnya menjadi penghalang untuk merekatkan Ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, ikatan iman dan kecintaan terhadap tanah air merupakan fondasi penting dalam menjaga kedamaian masyarakat.
Tabligh Akbar Jadi Momentum Penguat Persatuan Bangsa
Hingga acara berakhir menjelang pukul 22.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhusyukan. Setelah pengajian selesai, panitia bersama jamaah bergotong royong membersihkan area lapangan. Hal ini menjadi cerminan nilai-nilai Islam yang senantiasa mengajarkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Membludaknya jamaah dari berbagai daerah, mulai dari Solo Raya hingga Salatiga, Semarang, dan Magelang, menjadi gambaran kuatnya semangat masyarakat dalam menghadiri majelis ilmu. Tabligh Akbar ini bukan sekadar kegiatan pengajian, melainkan juga momentum mempertemukan umat dari berbagai latar belakang dalam satu semangat persaudaraan.
Melalui kegiatan bertema “Bersama Satukan Bangsa” ini, Muhammadiyah Blimbing berharap nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah semakin tumbuh dan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat. Perbedaan organisasi, daerah asal, dan latar belakang bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekayaan yang harus dirawat demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan harmonis.




