Flexing Antara Gaya Hidup dan Ajang Validasi Diri

Oleh : Andik Susanto,SPt ( Pegiat Sekolah Tabligh PWM Jateng Di Klaten )
Beberapa waktu yang lalu viral di media sosial seorang crazy rich yang berfoto didepan deretan mobil mewahnya dari berbagai pabrikan sambil menceritakan pencapaian karirnya atau pernah viral juga di medsos foto seorang istri pejabat yang berpose di rumah megahnya yang harganya selangit. Berbagai macam tanggapan netizen atas foto tersebut, tetapi mayoritas tonenya negatip. Setelah viralnya foto foto tersebut akhirnya di medsos banyak kita temui foto foto serupa yang seolah berlomba menunjukkan capaian materi dan karirnya .Belakangan fenomena tersebut disebut dengan flexing. Flexing menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Adalah fenomena memamerkan kekayaan, prestasi, atau gaya hidup mewah secara berlebihan, sdi media sosial, dengan tujuan mencari perhatian, pengakuan, atau membuat orang lain iri. Kata ini berasal dari bahasa Inggris “flex,” yang awalnya berarti “membengkokkan” atau “menunjukkan otot,” tetapi berkembang maknanya menjadi makana dengan tone negatip karena lebih dekat dengan makna pamer. Bentuk bentuk flexing Biasanya berupa unggahan foto atau video yang menampilkan barang-barang mewah (mobil sport, jam tangan mahal), liburan ke tempat eksotis, atau pencapaian-pencapaian tertenntu.Perkembangan selanjut nya makna flexing menjadi gaya Bahasa payoratif karena tujuannya lebih pada egosentris untuk menunjukkan eksistensi diri secara berlebihan validasi capaian diri dan bentuk bentuk serupa yang kurang bermanfaat. Bagaimana Islam memandang fenomena flexing .Allah Berfirman dalam surat Luqman ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia dengan kesombongan, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” (QS. Luqman: 18). Ayat ini menceritakan tentang nasehat Lukman kepada anakanya agar tidak sombong dan membanggakan diri atas capaian duniawinya kepada oaring lain. Membanggakan diri ini sebenarnya bentuk baku dari perbuatan flexing, sedangakn sombong Adalah out put yang dihasilkan dari flexing, jadi sudah sangat jelas flexing bertentangan dengan Nasehat Lukman yang diabadikan Allah dalam surat Lukman ayat 18.Begitu pula Rosul Saw mengingatkan dalam hadistnya tentang tiga perkara penyebab kerusakan dan tiga perkara yang memiliki output positip bagi umatnya.Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ دَرَجَاتٌ وَ ثَلَاثٌ كَفَارَةٌ أَمَّا المنْجِيَاتُ فَخَشْيَةُ اللهِ تَعَالى فِي السِّر ِوَالعَلَانِيَةِ وَالقَصْدُ فِي الفَقْرِ وَالغِنَى وَالعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالغَضَبِ وأَمَّ المهلِكَاتُ فَشُحٌّ شَدِيْدٌ وَهَوَى مُتَبَّعٌ وَإِعْجَابُ المرْءِ بِنَفْسِهِ وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ فَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ وَأَمَّا كَفَارَةُ فَإِسْبَاغُ الوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلىَ الجَمَاعَةِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ
“Tiga perkara yang dapat menyebabkan selamat, tiga perkara yang dapat menyebabkan kerusakan, tiga perkara yang dapat mengangkat derajat, dan tiga perkara yang dapat menebus dosa. Adapun tiga perkara yang menentukan keselamatan adalah: takut kepada Allah (takwa), baik dalam keadaan sepi maupun ramai, penuh kesederhanaan, baik ketika dalam keadaan fakir maupun
berkecukupan, dan bersikap adil baik pada waktu senang maupun saat marah. Dan tiga perkara yang dapat menyebabkan rusak adalah: bakhil (pelit) yang berlebihan, mengikuti hawa nafsu, membanggakan diri sendiri.”
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
Dua Hadist yang kami kutip ini mengingatkan pada kita sebagai umatnya bahwa membanggakan diri merupakan salah satu dari pintu kerusakan yang bisa menimpa bagi pelakunya,out put dari membanggakan diri maka timbullah kesombongan dalam diri, yang semuanya dilarang oleh Nabi Saw maka sudah seyogyanya kita menjauhi perilaku membangakan diri dan kesombongan diri seperti flexing agar pintu kerusakan bisa tertutup.




