Ketika Jasad Hadir Tanpa Ruh Guru

Oleh: Pujiono
Mudir PonpesMu Manafiul Ulum Sambi Boyolali
Ada masa di mana seorang guru hadir di sekolah, tetapi sejatinya hanya jasadnya yang datang. Ia memang menunaikan tugas, hadir sesuai jadwal, mencatat kehadiran, dan mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Namun ruh keguruan—semangat, kepedulian, dan cita—telah pergi entah ke mana. Ia hadir secara fisik, tetapi jiwanya seolah tak ikut hadir di ruang kelas.
Guru semacam ini tidak lagi memancarkan energi kehidupan di sekolahnya. Ia tidak peduli apakah muridnya berkembang atau tidak, apakah sekolahnya maju atau tertinggal, apakah lembaganya bertumbuh atau perlahan sekarat. Semua terasa datar, hambar, tanpa ruh perjuangan. Sekolah menjadi seperti tubuh tanpa jiwa; ada aktivitas, tetapi tak ada arah dan nyala semangat.
Lebih menyedihkan lagi, ada pula yang tidak peduli pada perkembangan sekolah karena sudah merasa nyaman dengan pekerjaan sampingan. Ada yang menjadi juragan les, berdagang, makelar tanah, bahkan sibuk dengan bisnis pribadi; sehingga profesi guru hanya dijadikan status formal semata. Datang sekadar memenuhi absensi, bukan menunaikan amanah dakwah pendidikan. Ruhnya tersandera oleh kenyamanan duniawi, lupa bahwa panggilan guru adalah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan.
Padahal, bagi sekolah swasta—terlebih sekolah Islam dan Muhammadiyah—murid adalah nyawa. Tanpa murid, sekolah kehilangan denyut kehidupan. Maka setiap guru semestinya ikut bergerak mencari murid, menyapa masyarakat, menanamkan kepercayaan, dan menegakkan marwah sekolahnya. Guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga pejuang peradaban dan duta lembaga. Setiap langkahnya adalah dakwah, setiap tutur katanya adalah cermin nilai Islam yang hidup.
Namun ketika seorang guru datang hanya untuk “menunaikan jadwal”, bukan menunaikan misi dakwah pendidikan, ketika ia lebih senang berkegiatan di luar, enggan mengajar, dan tidak mau memikirkan kemajuan lembaga, maka lambat laun sekolah itu akan berjalan tersendat. Orang-orangnya sibuk mencari aman, tidak mau repot, enggan berinovasi, dan takut menghadapi perubahan. Lama-lama, sekolah seperti itu akan kehilangan ruh perjuangan dan akhirnya tertinggal dalam kompetisi kehidupan.
Pesan Prof. Malik Fadjar terasa kian menggema di tengah realitas ini:
> “Jangan sampai Amal Usaha Muhammadiyah hanya besar di bangunannya yang megah, tetapi sunyi seperti kuburan Cina—megah, luas, tapi sepi tanpa kehidupan.”
Kalimat itu seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Gedung boleh tinggi, fasilitas boleh modern, tetapi ruh gerakan harus tetap hidup. Suara jangkrik jangan sampai lebih nyaring daripada semangat guru dan murid di dalam kelas. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga transfer ruh perjuangan.
Mari kita hidupkan kembali ruh keguruan. Datanglah ke sekolah bukan hanya membawa jasad, tetapi juga membawa semangat, cinta, dan kepedulian. Jadikan setiap jam mengajar sebagai ibadah, setiap murid sebagai amanah, dan setiap langkah di halaman sekolah sebagai bagian dari dakwah. Karena dari sanalah lahir perubahan, dan dari gurulah kehidupan sekolah menemukan maknanya.
Sekolah tidak butuh guru yang sekadar datang, tapi guru yang membawa cahaya.
Maka, pertanyaannya: Apakah engkau datang membawa cahaya hari ini?
Jawabnya ada di hati masing-masing.
*)Materi Pembinaan di MIM & MTS Muhammadiyah Demangan Sambi, 6 November 2025




