
Al-Kahfi ayat 110 menegaskan satu keinginan paling agung yang dapat dimiliki seorang hamba: “Barang siapa yang berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang baik dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dalam beribadah kepada-Nya.”
Perhatikan kata yang dipilih Allah: liqo’a (pertemuan).
Pertemuan adalah bahasa cinta.
Pertemuan adalah tanda kerinduan.
Dan mustahil kerinduan terobati
tanpa bertemu dengan yang dirindukan.
Menariknya, ayat ini tidak menyebut surga Tidak menggambarkan taman-taman, istana, atau sungai-sungai. Allah justru menyebut sesuatu yang jauh lebih agung daripada seluruh fasilitas surga: pertemuan dengan-Nya.
Sebagian besar manusia menginginkan surga karena keindahannya—padahal ada nikmat yang jauh lebih tinggi dari itu semua: berjumpa dengan Pencipta kita.
Bayangkan sebuah analogi.
Seorang anak kecil berusia tujuh tahun kehilangan ibunya karena diculik. Ia tumbuh besar tanpa kabar: hidupkah, wafatkah? Bertahun-tahun ia menunggu dalam ketidakpastian, hingga usianya mencapai 37 tahun. Tiba-tiba, ada kabar: ibunya selamat. Ia akan dipertemukan kembali dengan ibunya.
Pertemuan itu akan dilakukan di sebuah hotel mewah berbintang lima di Jakarta. Namun apa yang dirasakan sang anak?
Apakah ia memikirkan fasilitas hotel?
Kolam renang?
Interior yang indah?
Makanannya?
Sama sekali tidak.
Karena bagi hati yang sudah menunggu tiga puluh tahun, kemewahan hotel itu terasa seperti debu. Yang ia pikirkan hanyalah ibu—wajah yang lama tak pernah ia lihat, suara yang sejak kecil tak pernah ia dengar, pelukan yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil.
Fasilitas mewah itu justru terasa pudar, tak memiliki nilai di hadapan nikmat terbesar: bertemu kembali dengan ibunya.
Begitulah keadaan seorang hamba yang benar-benar mencintai Tuhannya.
Ketika ia kembali ke akhirat, yang ia nantikan bukanlah istana, bukan buah-buahan surga, bukan sungai-sungai susu. Itu semua hanya seperti hotel mewah tadi—indah, tetapi bukan tujuan utama.
Yang dirindukan oleh hati seorang hamba adalah Allah.
Yang ditunggu-tunggu adalah pertemuan dengan Tuhan yang selama hidup ia sembah, ia cinta, ia agungkan. Pertemuan yang selama ini hanya ia panjatkan dalam sujud dan doa.
Karena itu Allah memberi dua syarat:
1. Hendaklah ia beramal saleh,
2. Dan jangan mempersekutukan Allah dengan apa pun dalam ibadahnya.
Dua syarat yang tampak sederhana, namun sebenarnya adalah penentu apakah seseorang akan mendapatkan kenikmatan tertinggi dalam kehidupan abadi kelak: melihat Allah, bertemu Allah, dan diridhai oleh-Nya.
Semoga hati kita diselamatkan dari syirik.
Semoga amal kita diperbaiki dan diterima.
Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang kelak diberi anugerah terbesar:
liqo’ullah — pertemuan dengan Tuhan Yang Maha Pengasih.
Cilacap, 21 November 2025




