
Berbicara tata cara salat tarawih, dalil yang paling jelas dan sahih adalah hadis Aisyah yang berbunyi :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ : أَخْبَرَنَا مَالِكٌ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ ، وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.صحيح البخاري (2/ 66)
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullāh ibn Yūsuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Mālik, dari Sa‘īd ibn Abī Sa‘īd al-Maqburī, dari Abī Salamah ibn ‘Abd al-Raḥmān, bahwa ia bertanya kepada ‘Āisyah ra. tentang bagaimana salat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan. Maka ‘Āisyah menjawab: “Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah di bulan Ramadan, dan tidak pula di selainnya, lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat — jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya — kemudian beliau salat empat rakaat lagi — jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya — kemudian beliau salat tiga rakaat.” ‘Āisyah berkata: “Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum berwitir?”Beliau menjawab: “Wahai ‘Āisyah, kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.”Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (2/66):
Mengapa hadis ini dianggap sebagai dalil salat tarawih dan juga salat lail? Karena jelas Aisyah menjawab pertanyaan tabiin bernama Abī Salamah ibn ‘Abd al-Raḥmān yang menanyakan bagaimana salat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan? Jawaban yang diberikan tentu tidak akan keluar dari pertanyaan, di mana intinya Ibunda Aisyah sebagai salah seorang yang paling dekat dengan kehidupan malam Nabi menjelaskan bahwa salat Rasulullah SAW baik di bulan Ramadan atau di luar tidak lebih dari 11 rakaat dengan pelaksanaan 4 + 4 +3 dilakukan dengan bagus dan lama.
Ada yang mengatakan ini dalil salat witir, buktinya itu dikerjakan Nabi baik di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan. Jawabannya tentu anggapan ini tidak cukup beralasan. Apa iya Rasulullah baik di Ramadhan atau diluar Ramadhan hanya salat witir saja 11 rakaat. Apa ada ulama yang menuntunkan formasi witir 4+4+3. Dan apa fungsi menyebut 3 tersendiri kalau semuanya itu salat witir.
Di lain hadis, Ibunda Aisyah jelas menceritakan salat Rasulullah yang berwitir 5 rakaat dan sisanya tentu bukan witir atau qiyamu lail (tahajud) seperti riwayat berikut ini.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْهَا بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ مِنَ الْخَمْسِ حَتَّى يَجْلِسَ فِى الآخِرَةِ فَيُسَلِّمَ. )سنن أبي داود ـ محقق وبتعليق الألباني (1/ 511)
Dari ‘Āisyah ra. ia berkata: “Rasulullah ﷺ salat malam sebanyak tiga belas rakaat. Beliau berwitir dengan lima rakaat, dan tidak duduk pada satu pun dari lima rakaat itu hingga duduk pada rakaat terakhir, lalu beliau salam.” (HR Abu Dawud, disahihkan al-Albani)
Selain itu, Imam al-Bukhari juga memberi bab hadis Aisyah yang kita kutip (formasi 4+4+3) dengan judul Bab Qiyam Nabi SAW pada malam Ramadhan dan selainnya. Hal ini perlu dingat bahwa sebutan ibadah malam hari waktu itu yang terkenal qiyam Ramadhan atau di luar Ramadhan disebut qiyam lail, belum menggunakan terminologi salat tarawih. Selain itu, qiyam Ramadhan di zaman Nabi dan kahalifah Abu Bakar tampaknya belum begitu populer dalam arti dikerjakan secara terbuka berjamaah hingga dibuat berjamaah secara formal di masa khalifah Umar. Sehingga wajar masih ada perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat tarawih masa itu hingga hari ini.
Penulis kitab المنهل العذب المورود شرح سنن أبي داود Mahmud Muhammad Khitāb al-Subkī (محمود محمد خطاب السبكي), seorang ulama besar dari Mesir memberikan penjelasan hadis Aisyah sebagi berikut :
(ش) (قوله كيف كانت صلاة رسول الله الخ) أي كيف كانت صفة صلاة رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في ليالي رمضان وكم كان عددها بدليل إجابتها بالعدد ثم بيان الصفة. ويحتمل أن السؤال عن الصفة فقط كما هو ظاهر لفظ كيف فأجابت ببيانها. ومن لوازمه بيان العدد. ويحتمل أن السؤال عن العدد فقط فتكون كيف بمعنى كم فأجابت ببيانه ثم أتبعته ببيان الصفة. وخص السؤال عن الصلاة في رمضان لما علم من حثه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم على الصلاة فيه فظن أبو سلمة أنه كان يخصه بصلاة فأخبرته بأن فعله في رمضان وغيره سواء (وقوله ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة) تعني غير ركعتي الفجر فلا ينافي ما تقدم من أنه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم كان يصلي ثلاث عشرة ركعة.)المنهل العذب المورود شرح سنن أبي داود (7/ 269)
Tentang sabda: “Bagaimana salat Rasulullah ﷺ …” maksudnya adalah bagaimana sifat salat Rasulullah ﷺ di malam-malam Ramadan dan berapa jumlah rakaatnya, sebagaimana ditunjukkan oleh jawaban ‘Āisyah dengan menyebut jumlah rakaat lalu menjelaskan sifatnya. Bisa jadi pertanyaan itu hanya tentang sifat salat, sebagaimana tampak dari kata “bagaimana”, lalu ‘Āisyah menjawab dengan penjelasan sifatnya, dan konsekuensinya juga menyebut jumlah rakaat. Bisa juga pertanyaan itu tentang jumlah rakaat saja, sehingga kata “bagaimana” bermakna “berapa”, lalu ia menjawab dengan jumlahnya kemudian menambahkan penjelasan sifatnya.
Pertanyaan itu dikhususkan tentang salat di Ramadan karena diketahui bahwa Nabi ﷺ sangat menganjurkan salat di bulan itu, sehingga Abū Salamah mengira beliau memiliki salat khusus di Ramadan. Maka ‘Āisyah menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ di Ramadan dan di luar Ramadan sama saja. Adapun sabdanya: “Beliau tidak menambah di Ramadan dan tidak pula di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat” maksudnya adalah selain dua rakaat fajar. Maka hal ini tidak bertentangan dengan riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ salat tiga belas rakaat. (al-Manhal al-‘Adhb al-Mawrūd Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (7/269):
Sekarang terkait cara melakukan 4 4 3 itu apakah sekali salam atau salam setiap dua rakaat? Penulis kitab Fatḥ al-‘Allām bi Sharḥ al-I‘lām bi Aḥādīth al-Aḥkām (فتح العلام بشرح الإعلام بأحاديث الأحكام) Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari (زكريا الأنصاري) salahs eorang ulama besar mazhab Syafi’i menjelaskan.
وفيه أن كل أربع منها بتسليم واحد والثلاث الأخيرة بتسليم واحد وهو جائز وإن كان الأفضل لنا أن كل ثنتين بتسليم واحد، لخبر صلاة الليل مثنى مثنى مع زيادة تعدد السلام.)فتح العلام بشرح الإعلام بأحاديث الأحكام (ص: 236)
“Di dalamnya (hadis tersebut) terdapat penjelasan bahwa setiap empat rakaat dilakukan dengan satu salam, dan tiga rakaat terakhir juga dengan satu salam. Hal itu boleh dilakukan, meskipun yang lebih utama bagi kita adalah setiap dua rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadis ‘Salat malam itu dua rakaat-dua rakaat’ dengan tambahan penjelasan adanya salam berulang.”
Jadi walaupun beliau bermazhab Syafi’I, dengan lugas mengatakan salat 4 4 3 boleh dilakukan dengan sekali salam, walau yang utama menurut beliau tetap bersalam setiap dua rakaat.
Selanjutnya kita perhatikan penjelasan dan pemahaman ulama ahli hadis yang lain, yakni pensyarah Sunan Abu Dawud Sharf al-Haqq al-‘Azim abadi (wafat 1329 H/1911 M). Beliau adalah seorang ulama besar dari India, ahli hadis, dan termasuk murid dari para muhaddith di wilayah Hindustan di bawah ini :
( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) : أَيْ أَرْبَع رَكَعَات . وَأَمَّا مَا سَبَقَ مِنْ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ وَاحِدَة فَمَحْمُول عَلَى وَقْت آخَر ، فَالْأَمْرَانِ جَائِزَانِ) عون المعبود – (ج 3 / ص 287)
( Nabi salat empat) artinya empat rakaat, adapun yang telah lalu bahwa Nabi salat dua-dua lantas satu rakaat maka dibawa ke pengertian di waktu yang lain, maka kedua cara itu boleh semuanya. ( ‘Aun al-Ma’bud : 3/287)
Lihatlah, penulis Syarh Sunan Abu Dawud yang berjudul ‘Aun al-Ma’bud, dengan bijak dan arif membolehkan pelaksanaan salat malam/Tarawih baik dengan dua-dua salam atau empat –empat rakaat dengan sekali salam.
Penjelasan yang sama juga kurang lebih diberikan oleh Imam ash-Shan’ani, penulis kitab Subulus Salam, ahli hadis dan fikih ini menyatakan:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : { مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً } ثُمَّ فَصَلَّتْهَا بِقَوْلِهَا ( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٍ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٍ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ { صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى }
“ Dari Aisyah, ia berkata, “ Tidaklah Rasulullah saw menambah baik di bulan Ramadhan maupun di selain bulan Ramadhan lebih dari 11 rakaat, lantas Aisyah menjelaskan dengan kata-katanya,” Beliau salat empat”, (ash-Shan’ani mengatakan)”, hal ini bisa jadi dikerjakan secara bersambung (empat rakaat satu salam) dan makna inilah yang zhahir, dan bisa jadi dilakukan secara terpisah ( dua salam dua salam) namun ini jauh (dari makna zhahir), kecuali tafsir ini sesuai dengan hadis “ Salat lail itu dua-dua”. (Subul as- Salam : 2/275).
Lihatlah, Imam ash-Shan’ani mengomentari bahwa makna yang lebih sesuai dengan zhahir hadis adalah salat empat itu dilakukan sekali salam, sedang jika dipahami dengan dua rakaat salam dua rakaat salam itu makna yang jauh dari zhahir nash, hanya saja memang cocok dengan hadis lain yang menyatakan salat lail itu dua-dua.
Selanjutnya al-Mubarakfuri, ulama ahli hadis penulis Syarh Sunan at-Tirmidzi, juga mengamini pendapat ash-Shan’ani ini dalam Tuhfadz al-Ahwadzi :
قَوْلُهُ : ( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُمَا مُفَصَّلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إِلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةِ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، قَالَهُ صَاحِبُ السُّبُلِ قُلْت الْأَمْرُ كَمَا قَالَ) تحفة الأحوذي – (ج 1 / ص 476)
“ Perkataannya : Nabi salat empat, bisa dipahami bahwasanya empat itu dikerjakan dengan disambung dan inilah yang zhahir, bisa juga dipahami dikerjakan secara terpisah, namun ini jauh dari makna zhahir, hanya saja sesuai dengan hadis yang menyatakan salat lail itu dua-dua. Ini adalah perkataan penulis Subul as-Salam, saya pun sama dengan pendapat ini”. (Tuhfadz al-Ahwadzi: 1/476)
Dari pernyataan ash-Shan’ani yang kemudian diamini oleh al-Mubarakfuri ini, jelas, mengartikan salat empat-empat dengan penjelasan itu dikerjakan dua salam-dua salam adalah pemahaman yang jauh dari zhahir nash. Yang lebih dekat kepada zhahir nash adalah empat rakaat itu dikerjakan dengan satu salam. Maka dari itu amat bijak apa yang difatwakan oleh ulama Muhammadiyah dan Prof. Hasby yang mempersilakan umat untuk memilih apakah mau empat rakaat satu salam ataukah dua rakaat satu salam, tanpa harus meributkan mana yang lebih baik, apa lagi mengharuskan memilih salah satu cara tersebut. Ahmad Hasan tokoh ulama PERSIS sendiri tidak mempermasalahkan mengerjakan Tarawih apakah dua-dua atau empat-empat.
Satu lagi pendaat Syaikh al-Albani juga membolehkan salah satu tata cara salat malam dengan formasi 4+4+3 seperti kutipan berikut ini :
الرابعة : إحدى عشرة ركعة ، يصلي منها أربعاً بتسليمة واحدة ، ثم أربعاً كذلك ، ثم ثلاثاً) .رسالة في قيام رمضان مع رسالة في الاعتكاف (ص: 13)
Yang keempat: sebelas rakaat. Beliau shalat darinya empat rakaat dengan satu salam, kemudian empat rakaat dengan satu salam, lalu tiga rakaat.
Namun harus diakui, riwayat Nabi salat dua salam dua salam baik secara qauli maupun fi’li memang lebih banyak dan jelas tanpa ada perselisihan. Mengingat ibunda Aisyah di lain hadis meriwayatakan Rasulullah SAW salat malam dua rakaat-dua rakaat seperti riwayat di bawah ini.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَنْصَدِعَ الْفَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ ثِنْتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ)…سنن أبي داود ـ محقق وبتعليق الألباني (1/ 511)
Dari ‘Āisyah –raḍiyallāhu ‘anhā– berkata: “Rasulullah ﷺ biasa salat antara selesai salat Isyā’ hingga terbit fajar sebanyak sebelas rakaat. Beliau salam setiap dua rakaat, dan berwitir dengan satu rakaat.” (HR Abu Dawud, disahihkan al-Albani)
Menanggapi adanya perbedaan atau keragaman tata cara salat malam Nabi, penulis kitab al-Asās fī al-Sunnah wa Fiqhihā – al-‘Ibādāt fī al-Islām (3/1260) menjelaskan dengan mnegutip perkataan Ibnu Khuzaimah:
قال ابن خزيمة: قد كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في بعض الليالي أكثر مما يصلي في بعضن فكل من أخبر من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أو من أزواجه أو غيرهن من النساء أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى من الليل عدداً من الصلاة، أو صلى بصفة فقد صلى النبي صلى الله عليه وسلم تلك الصلاة في بعض الليالي بذلك العدد وبتلك الصفة، وهذا الاختلاف من جنس المباح، فجائز للمرء أن يصلي أي عدد أحب من الصلاة مما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه صلاهن، وعلى الصفة التي رويت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه صلاها لا حظر على أحد في شيء منها.الأساس في السنة وفقهها – العبادات في الإسلام (3/ 1260)
Ibn Khuzaymah berkata: “Sesungguhnya Nabi ﷺ terkadang salat di sebagian malam lebih banyak daripada di malam yang lain. Maka setiap sahabat Nabi ﷺ, atau istri-istrinya, atau wanita lain yang mengabarkan bahwa Nabi ﷺ salat malam dengan jumlah tertentu, atau dengan cara tertentu, maka benar bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya di sebagian malam dengan jumlah itu dan dengan cara itu. Perbedaan ini termasuk dalam kategori yang mubah. Maka boleh bagi seseorang untuk salat malam dengan jumlah rakaat yang ia sukai dari apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah melakukannya, dan dengan cara yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah melakukannya. Tidak ada larangan bagi siapa pun dalam hal itu.”
Dengan demikian, amat bijak fatwa yang diberikan majelis tarjih kepada warganya yang mempersilakan/membolehkan salat tarawih/qiyam lail dengan formasi 4+4+3 ataupun 2+2+2+2+2+1 atau 2+2+2+2+3 karena itu bagian dari kelonggaran dan keleluasaan serta keragaman tata cara ibadah. Wallahu a’lam.




