AkhlaqArtikelTuntunan

Katanya….

Oleh: Akhmad Syifa Utama, S.E.

Ada orang yang hanya mengetahui “katanya…”

Lalu langsung percaya.

Lebih ironis lagi, “katanya” itu kemudian dijadikan dasar pemahaman, dasar penilaian, bahkan dasar untuk menceritakan keburukan orang lain kepada orang yang lain.

Seolah-olah sebuah kabar otomatis menjadi kebenaran hanya karena didengar dari seseorang.

Padahal Allah telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”

(QS. Al-Hujurat: 6)

Menariknya, Allah tidak hanya menyoroti orang yang membawa berita. Allah justru memberi perhatian besar kepada orang yang menerima berita.

Karena sering kali masalah bukan pada siapa yang berbicara, tetapi pada siapa yang terlalu mudah percaya.

Allah memerintahkan:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka tabayyunlah.”

Periksa.

Cari keterangan.

Dengar dari kedua belah pihak.

Jangan terburu-buru menyimpulkan.

Jangan mudah menuduh.

Jangan merasa cukup hanya dengan kalimat:

“Saya dengar…”

“Katanya…”

“Orang-orang bilang…”

Sebab banyak keretakan hubungan, permusuhan, bahkan fitnah besar, berawal dari satu kalimat sederhana:

“Saya kira itu benar.”

Yang lebih mengherankan adalah ketika kesempatan untuk tabayyun sebenarnya terbuka lebar, tetapi gengsi menghalangi seseorang untuk melakukannya.

Ia lebih memilih memelihara prasangka daripada mencari kebenaran.

Lebih nyaman dengan asumsi daripada klarifikasi.

Lebih suka mendengar cerita tentang seseorang daripada bertanya langsung kepada orangnya.

Dan ketika akhirnya datang penjelasan yang benar, fakta yang terang, atau bukti yang jelas, ternyata tidak semua orang siap menerimanya.

Karena masalahnya bukan lagi kurang informasi.

Tetapi sudah masuk ke wilayah yang lebih berbahaya:

kesombongan.

Merasa terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan.

Terlalu gengsi untuk mengatakan:

“Ternyata saya salah.”

Terlalu berat untuk mengucapkan:

“Maaf, saya sudah berburuk sangka.”

Padahal meminta maaf tidak pernah merendahkan kehormatan seseorang.

Justru keengganan meminta maaf sering kali menjadi bukti bahwa ego sedang mengalahkan akal sehat.

Bukankah lebih mulia menjadi orang yang salah lalu mengakui kesalahannya, daripada menjadi orang yang tahu dirinya salah tetapi terus mempertahankan kesalahan demi menjaga gengsi?

Karena pada akhirnya, kebenaran tidak berubah hanya karena kita menolaknya.

Dan kesalahan tidak berubah menjadi benar hanya karena kita enggan mengakuinya.

Lebih dari itu, Rasulullah SAW telah mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”

(HR. Muslim)

Perhatikan baik-baik.

Rasulullah tidak mengatakan seseorang menjadi pendusta karena membuat berita.

Tetapi cukup dengan menceritakan semua yang didengarnya tanpa memastikan kebenarannya.

Betapa banyak fitnah beredar karena seseorang merasa wajib menyampaikan sesuatu yang sebenarnya belum ia ketahui kebenarannya.

Betapa banyak hubungan rusak karena seseorang terlalu ringan lidahnya dan terlalu berat tabayyunnya.

*Refleksi*

Mungkin hari ini yang perlu kita periksa bukan hanya berita yang datang kepada kita.

Tetapi juga hati yang menerima berita itu.

Jangan-jangan yang menghalangi kita dari tabayyun bukan karena sulit mencari kebenaran.

Melainkan karena ego yang terlalu besar untuk menerima bahwa kita mungkin salah.

Sebelum mempercayai sebuah cerita, tabayyunlah.

Sebelum menilai seseorang, tabayyunlah.

Sebelum menyebarkan sebuah kabar, tabayyunlah.

Dan sebelum menceritakan apa yang kita dengar, tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah ini benar, atau hanya sekadar katanya?”

Karena tidak semua yang didengar layak dipercaya.

Tidak semua yang dipercaya layak diceritakan.

Dan tidak semua yang diceritakan akan bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Kadang yang perlu ditabayyuni bukan hanya berita yang datang kepada kita, tetapi juga ego yang ada di dalam diri kita.

@kata.mastama

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button