Berharap kepada Manusia Membuat Kecewa, Maka Bertawakkallah Hanya Kepada Allah
Oleh: Nisa Alya Rohmah (Mahasiswa Sekolah Tabligh Banjarnegara)
Oleh: Nisa Alya Rohmah (Mahasiswa Sekolah Tabligh Banjarnegara)
Ada satu kenyataan yang sering kita temui dalam hidup: manusia mudah berharap, tetapi mudah pula kecewa. Kita berharap seseorang selalu ada untuk membantu, berharap teman tidak berubah, berharap manusia memenuhi janji-janjinya, berharap diberi perhatian, dipuji, dan dipahami. Namun entah berapa kali harapan itu justru membuat hati sakit. Ada yang pergi tanpa pamit, ada yang berjanji lalu mengingkari, ada yang kita bantu sepenuh tenaga tetapi saat kita butuh, mereka tidak hadir. Pada akhirnya, manusia menyadari bahwa bergantung pada sesama manusia ibarat bersandar pada tembok rapuh yang mudah runtuh diterpa angin.
Al-Qur’an memberikan arahan yang jauh lebih mulia: berharaplah hanya kepada Allah, tempat kembali seluruh hati yang terluka dan seluruh jiwa yang lelah. Allah berfirman, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Maidah: 23). Ayat ini tidak hanya memerintahkan, tetapi juga mengingatkan bahwa ukuran keimanan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia menggantungkan harapannya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Salah satu kisah sahabat yang menggambarkan makna tawakal dan menjauhi ketergantungan pada manusia adalah kisah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Pada masa awal dakwah di Makkah, Abdullah adalah sahabat yang sering dipukul dan dihina karena keberaniannya membaca Al-Qur’an secara terang-terangan di hadapan kaum Quraisy. Saat sahabat lain merasa khawatir, Abdullah justru berkata dengan penuh keyakinan, “Cukuplah Allah menjadi penolongku.” Ia tidak meminta perlindungan kepada orang kaya Quraisy, tidak pula mengadu kepada keluarga, tetapi ia menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada Allah. Karena tawakalnya, Allah memberikan kekuatan luar biasa di dalam hatinya hingga suaranya tetap lantang meski tubuhnya lemah secara fisik. Abdullah tidak kecewa kepada manusia meski mereka menyakitinya, sebab ia tahu harapan sejatinya hanya kepada Allah.
Kisah lain yang tak kalah menggugah hati adalah kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ketika suaminya, Abu Salamah, meninggal dunia. Dalam duka yang dalam, ia mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dari musibah ini dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Muslim). Yang menarik, Ummu Salamah awalnya berkata, “Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?” Ia merasa tidak mungkin Allah mengganti dengan sosok yang lebih baik. Namun Allah membuktikan bahwa harapan yang diserahkan kepada-Nya tidak pernah salah arah. Allah mengganti Abu Salamah dengan sosok termulia di muka bumi: Rasulullah ﷺ sendiri. Dari kisah ini, kita belajar bahwa manusia sering merasa mustahil, tetapi Allah tidak pernah terbatas. Harapan kepada manusia membuat kita cepat putus asa, tetapi harapan kepada Allah membuka pintu keajaiban yang tidak terpikirkan.
Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan bahwa manusia adalah makhluk lemah, tidak layak menjadi tempat ketergantungan mutlak. Beliau bersabda, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Sabda ini tidak menafikan pentingnya saling tolong-menolong antar manusia, tetapi menempatkan hati pada posisi yang benar: bersandar kepada Allah, bukan kepada makhluk. Sebab manusia hanya bisa menolong jika Allah mengizinkannya. Jika Allah menutup pintu, maka semua tangan akan mengecil, semua harapan akan luruh, dan semua rencana akan gagal.
Tidak ada contoh lebih jelas tentang bahaya berharap kepada manusia selain kisah awal hijrah di mana seorang lelaki dari kabilah lain pernah berjanji akan melindungi Rasulullah ﷺ saat menuju Madinah. Namun ketika musuh mendekat, lelaki itu mundur karena takut kehilangan kedudukannya. Rasulullah ﷺ tersenyum tanpa marah sedikit pun. Beliau hanya berkata, “Allah sebaik-baik pelindung.” Dan benar, ketika semua perlindungan manusia hilang, justru Allah menurunkan pertolongan paling dahsyat: para malaikat yang menjaga perjalanan hijrah, angin yang menghalangi musuh, dan keberhasilan Rasulullah tiba di Madinah tanpa luka sedikit pun. Ini menunjukkan bahwa ketika makhluk menjauh, Allah justru semakin dekat.
Seringkali, kekecewaan hadir karena kita menggantungkan kebahagiaan pada makhluk yang sifatnya berubah-ubah. Tidak ada manusia yang mampu memenuhi semua keinginan kita. Bahkan orang yang paling mencintai kita pun memiliki keterbatasan—mereka bisa lupa, bisa sibuk, bisa salah paham, bisa sakit, bisa berubah. Sementara Allah tidak pernah lupa, tidak pernah lalai, dan tidak pernah mengecewakan. Allah mengetahui isi hati yang bahkan kita sendiri sulit memahaminya. Allah mendengar keluhan yang tidak mampu kita ucapkan. Allah menyaksikan air mata yang jatuh diam-diam di tengah malam.
Allah berfirman, “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq: 3). Ayat ini menjadi janji bahwa siapa pun yang menaruh harapan tertinggi hanya kepada Allah, akan dicukupkan kebutuhannya—baik dari arah yang tampak maupun dari jalan yang tidak diduga. Jika Allah yang mencukupi, maka apa lagi yang ditakutkan? Jika Allah yang menolong, maka siapa pula yang bisa menghalangi?
Berharap kepada Allah bukan berarti meninggalkan usaha. Para sahabat adalah generasi yang paling kuat tawakalnya, tetapi mereka juga generasi yang paling keras bekerja. Mereka mengikat unta sebelum melepaskannya, mereka membawa pedang sebelum berperang, mereka berdagang sebelum mendapatkan rezeki. Namun hati mereka tetap menggantung pada Allah, bukan pada pedang, harta, atau manusia. Karena itu, mereka menjadi umat yang paling tenang, paling teguh, dan paling sedikit kecewa.
Di puncak semua ini, ada pelajaran besar: manusia akan selalu membuat kita belajar tentang kecewa, agar kita tahu kepada siapa hati ini seharusnya kembali. Allah sengaja membuat sebagian harapan kepada manusia tidak terpenuhi agar kita paham bahwa tempat bergantung yang paling aman hanyalah Dia. Manusia bisa pergi, tetapi Allah tidak pernah menjauh. Manusia bisa berubah, tetapi Allah tetap. Manusia bisa mengecewakan, tetapi Allah tidak pernah mengecewakan.
Maka ketika hati terasa penuh luka, jangan habiskan energi untuk meratapi siapa yang gagal menepati janji. Kembalilah kepada Allah. Titipkan harapan kepada-Nya. Karena pada akhirnya, hanya Allah yang mampu memberi tanpa diminta, mendengar tanpa keluhan, dan memberi balasan jauh lebih baik dari apa pun yang pernah kita harapkan dari manusia.
Jika engkau berharap kepada manusia, engkau akan kecewa.
Tetapi jika engkau berharap kepada Allah, engkau akan bahagia, meski dunia tidak selalu sesuai rencana. Allahu A’lam Bishoab.




