Artikel
Trending

Menukar Kemewahan Istana Dunia demi Kedekatan dengan Sang Pencipta

Kisah Wanita Mulia dalam Al-Quran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan fenomena di mana manusia rela mengorbankan apa saja demi meraih kebahagiaan duniawi. Banyak orang rela menggadaikan prinsip, kejujuran, bahkan keimanannya hanya untuk mendapatkan harta, jabatan, atau fasilitas mewah. Dunia dengan segala perhiasannya seolah menjadi tujuan akhir yang membutakan mata hati.

Namun, mari kita sejenak menengok lembaran sejarah yang diabadikan oleh Al-Qur’an. Ada seorang sosok perempuan luar biasa yang justru melakukan hal sebaliknya. Beliau hidup di puncak kemewahan, memiliki kekuasaan, dan tinggal di istana termegah pada zamannya. Beliau adalah Asiyah binti Muzahim, istri dari penguasa paling tiran di muka bumi, yaitu Fir’aun.

Jika kita berbicara tentang kesuksesan duniawi, Asiyah sudah memiliki segalanya. Namun, ketika cahaya hidayah menyapa hatinya, ia menyadari bahwa seluruh kemewahan istana Fir’aun tidak ada artinya dibandingkan dengan keimanan kepada Allah SWT. Ketika Fir’aun mengetahui keimanan Asiyah, ia tidak segan-segan menyiksa istrinya sendiri dengan siksaan yang sangat pedih. Dalam kondisi dijemur di bawah terik matahari dan ditimpa batu besar, Asiyah tidak sedikit pun gentar.

Allah SWT mengabadikan keteguhan hati Asiyah dan doa agungnya dalam Surah At-Tahrim ayat 11:

 

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

 

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.'” (QS. At-Tahrim: 11).

Pesan utama dari ayat ini sangatlah mendalam. Perhatikanlah untaian doa Asiyah. Beliau mendahulukan kata “‘indaka” (di sisi-Mu) sebelum “baitan” (sebuah rumah). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ini menunjukkan Asiyah lebih menginginkan kedekatan dengan Allah (Sang Pemilik Surga) daripada sekadar kenikmatan surga itu sendiri. Ia rela melepaskan istana dunia yang fana, karena ia yakin akan janji istana yang abadi di sisi Tuhannya.

Bagaimana kita mengaplikasikan pesan ini dalam kehidupan kita saat ini?

Bagi rekan-rekan pemuda dan pelajar, terkadang kita berada di lingkungan yang tidak mendukung kebaikan. Mungkin ada tekanan dari teman-teman untuk ikut-ikutan berbuat curang, melanggar aturan, atau terjerumus dalam pergaulan yang salah. Ketika kalian memilih untuk bertahan dalam ketaatan dan akhirnya dijauhi atau diejek, ingatlah Asiyah. Beliau sendirian mempertahankan imannya di tengah istana yang penuh kesesatan. Beranilah tampil beda untuk kebenaran, karena keridhaan Allah jauh lebih berharga daripada validasi manusia.

Bagi kita semua, para orang tua maupun masyarakat umum, kisah ini adalah pengingat keras agar kita tidak menjadi hamba dunia. Jangan sampai demi mengejar karir, menumpuk harta, atau mempertahankan jabatan, kita menghalalkan segala cara dan meninggalkan shalat. Istana dunia yang kita bangun dengan susah payah akan kita tinggalkan, tetapi amal saleh dan keimananlah yang akan membangunkan kita “istana” di surga kelak.

Mari kita jadikan keteguhan Asiyah binti Muzahim sebagai kompas dalam menjalani kehidupan yang penuh fitnah ini. Jangan biarkan gemerlap dunia membutakan kita dari tujuan akhirat. Mari kita berani melepaskan hal-hal yang tidak diridhai Allah, meski itu berat, karena Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Sebelum mengakhiri kultum ini, mari kita menundukkan hati sejenak, memohon kepada Allah SWT:

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Karuniakanlah kepada kami keteguhan iman seperti yang Engkau berikan kepada Asiyah binti Muzahim. Jauhkanlah kami dari fitnah dunia, dan bangunkanlah untuk kami, keluarga kami, dan keturunan kami, sebuah rumah di sisi-Mu di dalam surga Firdaus.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button