
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini hadir di hampir semua bidang kehidupan. Orang dapat memintanya merangkum buku, menjelaskan istilah, mencari informasi, menerjemahkan bahasa, bahkan menjawab pertanyaan tentang ibadah, fikih, akidah, dan berbagai persoalan keislaman. Jawaban diberikan dalam hitungan detik, dengan bahasa yang tampak runtut dan meyakinkan. Kemudahan ini melahirkan pertanyaan penting: bolehkah seorang Muslim bertanya masalah agama kepada AI?
Persoalan tersebut dibahas dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah Edisi 357 (https://www.youtube.com/watch?v=cZ2bgjtx1DU) bertema “Ketika Orang Bertanya Masalah Agama pada AI”. Pembahasan menempatkan AI secara proporsional: bukan sebagai musuh yang harus ditolak sepenuhnya, tetapi juga bukan sebagai otoritas keagamaan yang boleh dipercaya tanpa pemeriksaan. AI adalah teknologi yang dapat membantu manusia, sedangkan tanggung jawab memahami dan mengamalkan agama tetap berada pada manusia.
AI Adalah Alat dan Wasilah
Dalam sudut pandang Islam, AI dapat diposisikan sebagai alat, instrumen, atau wasilah. Nilainya sangat bergantung pada tujuan dan cara penggunaannya. Teknologi yang dipakai untuk mencari ilmu, mempermudah pelayanan, menyusun bahan pembelajaran, atau membantu umat memahami informasi dapat menghasilkan kemaslahatan. Sebaliknya, teknologi yang dipakai untuk menipu, memfitnah, membuat kabar palsu, atau merugikan orang lain berubah menjadi sarana keburukan.
Karena itu, pertanyaan yang paling tepat bukan sekadar “apakah AI boleh digunakan?”, melainkan “untuk apa AI digunakan, dari sumber apa jawabannya dibentuk, dan bagaimana hasilnya diperiksa?” Dalam posisi ini, AI tidak memiliki kehendak keagamaan sendiri. Ia mengolah data dan pola yang tersedia, kemudian menghasilkan respons berdasarkan sistem yang membentuknya.
AI dapat membantu mencari jawaban, tetapi tidak otomatis menjadikan setiap jawabannya benar, sahih, dan sesuai dengan manhaj keagamaan yang diikuti pengguna.
Bertanyalah kepada Ahlinya
Prinsip mendasar dalam mencari jawaban agama adalah perintah untuk bertanya kepada orang yang memiliki ilmu dan kompetensi. Allah berfirman:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” QS. Al-Anbiya [21]: 7.
Istilah ahl al-dzikr menunjuk kepada pihak yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi untuk menjelaskan persoalan. Dalam masalah agama, posisi ini ditempati oleh ulama, ahli tafsir, ahli hadis, ahli fikih, dan lembaga keagamaan yang bekerja melalui metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka bukan hanya mengumpulkan teks, tetapi juga memahami bahasa, konteks, kaidah, perbedaan pendapat, serta keadaan orang yang bertanya.
AI dapat membantu para ahli maupun masyarakat menemukan bahan, menelusuri kata kunci, membandingkan dokumen, atau menyederhanakan penjelasan. Namun, memindahkan seluruh otoritas ahl al-dzikr kepada mesin merupakan langkah yang tidak tepat. AI sebaiknya menjadi asisten pengetahuan, bukan sumber tunggal kebenaran agama.
Bolehkah Bertanya Masalah Agama kepada AI?
Pada dasarnya, bertanya kepada AI tentang agama diperbolehkan sebagai upaya memperoleh informasi awal. Pengguna dapat menanyakan pengertian istilah, daftar ayat yang berkaitan dengan suatu tema, gambaran umum pendapat ulama, tata cara ibadah yang bersifat dasar, atau rujukan awal untuk dipelajari lebih lanjut.
Kebolehan tersebut harus disertai kesadaran bahwa AI bekerja berdasarkan data yang mungkin tidak lengkap, tidak mutakhir, tercampur dengan pandangan yang berbeda, atau keliru dalam menisbahkan suatu pendapat. Model AI juga dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan meskipun sumbernya lemah atau bahkan tidak ditemukan. Karena itu, jawaban AI harus diperlakukan sebagai respons informasional yang perlu diperiksa, bukan sebagai keputusan final.
AI Tidak Otomatis Mengeluarkan Fatwa
Ketika pengguna menulis perintah seperti “berikan fatwa tentang masalah ini”, keluaran AI tetaplah respons yang dihasilkan sistem. Ia belum otomatis menjadi fatwa yang memiliki bobot sebagaimana fatwa seorang mufti atau keputusan kolektif lembaga tarjih. Fatwa lahir melalui penguasaan dalil, metodologi istinbat, pemahaman realitas, pertimbangan kemaslahatan, serta tanggung jawab ilmiah dan moral.
Dengan demikian, jawaban AI dapat menjadi bahan untuk menyusun pertanyaan yang lebih baik kepada ulama. Ia juga dapat membantu pengguna memahami istilah sebelum berkonsultasi. Namun, AI tidak seharusnya dijadikan legitimasi untuk membenarkan keputusan yang sejak awal sudah diinginkan pengguna.
Bayani, Burhani, dan Irfani: Di Mana Batas AI?
Dalam pembahasan tarjih, pemahaman agama tidak hanya berhubungan dengan teks, tetapi juga dengan penalaran dan kedalaman kemanusiaan. Tiga pendekatan yang sering disebut ialah bayani, burhani, dan irfani.
| Pendekatan | Ruang Kerja | Posisi AI |
|---|---|---|
| Bayani | Teks Al-Qur’an, hadis, bahasa, kaidah, dan penjelasan ulama. | Dapat membantu pencarian, pengelompokan, ringkasan, dan perbandingan teks, tetapi sumbernya harus diverifikasi. |
| Burhani | Penalaran, ilmu pengetahuan, data, dan analisis rasional. | Sangat berguna untuk perhitungan, pengolahan data, pencarian pola, serta penyajian argumentasi. |
| Irfani | Kedalaman hati, kebijaksanaan, kepekaan moral, dan pemahaman terhadap kondisi orang yang bertanya. | Memiliki keterbatasan karena keluaran yang tampak empatik belum sama dengan pengalaman batin, tanggung jawab, dan kebijaksanaan seorang manusia. |
AI relatif kuat dalam mengolah teks dan data. Ia dapat menemukan ayat, menampilkan berbagai pendapat, menghitung angka, atau merangkum dokumen. Namun, persoalan agama sering bersifat kasuistik. Jawaban yang tepat untuk seseorang belum tentu tepat untuk orang lain karena latar belakang, niat, keadaan psikologis, risiko, dan akibat tindakannya berbeda.
Seorang ulama dapat mempertimbangkan siapa yang bertanya, apa persoalan sebenarnya, apakah pertanyaan itu lahir dari keinginan bertobat, mencari pembenaran, mencegah keburukan, atau menyelesaikan konflik. Kepekaan seperti ini tidak cukup dihasilkan dengan sekadar membuat jawaban AI terdengar lebih “manusiawi”.
Membedakan Perkara Usul dan Furuk
Ketika jawaban AI berbeda dengan pendapat ulama, pengguna perlu mengenali apakah persoalan itu berkaitan dengan usul atau furuk. Perkara usul menyangkut pokok ajaran yang telah jelas, seperti dasar-dasar akidah dan rukun Islam. Jawaban yang bertentangan dengan prinsip pokok tidak dapat diterima hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Adapun perkara furuk merupakan persoalan cabang yang dapat memuat perbedaan pendapat. Dalam wilayah ini, AI mungkin menampilkan jawaban dari mazhab, ulama, atau lembaga yang berbeda. Pengguna harus mengetahui kerangka jawaban tersebut: pendapat siapa, dalilnya apa, konteksnya bagaimana, dan apakah sesuai dengan manhaj keagamaan yang diikuti.
Perbedaan jawaban tidak selalu berarti salah. Akan tetapi, AI yang mencampur berbagai pendapat tanpa menjelaskan sumber dan kedudukannya dapat menimbulkan kebingungan. Karena itu, pertanyaan kepada AI sebaiknya dibuat lebih spesifik, misalnya dengan menyebutkan rujukan Majelis Tarjih Muhammadiyah, mazhab tertentu, atau dokumen resmi yang hendak digunakan.
Jawaban AI Bisa Salah atau Kedaluwarsa
Salah satu risiko penting adalah AI menggunakan dokumen lama sementara telah terbit keputusan atau fatwa baru. Dalam tradisi keilmuan, suatu pendapat dapat dikaji ulang, diperbaiki, atau digantikan oleh keputusan yang lebih mutakhir. Apabila dokumen terbaru belum masuk ke basis pengetahuan sistem, AI mungkin tetap mengutip keputusan lama.
Karena itu, jawaban tentang fatwa, keputusan organisasi, pedoman ibadah, atau dokumen resmi harus dibandingkan dengan naskah aslinya. Pengguna juga dapat meminta AI menunjukkan judul kitab, nama penulis, nomor keputusan, kutipan yang relevan, dan tautan sumber. Setelah itu, sumber tersebut tetap harus dibuka dan diperiksa secara langsung.
Langkah Verifikasi Sederhana
- Mintalah AI menyebutkan sumber yang digunakan.
- Periksa apakah kitab, fatwa, ayat, hadis, atau dokumen tersebut benar-benar ada.
- Bandingkan jawaban dengan dokumen resmi atau penjelasan ulama yang kompeten.
- Gunakan lebih dari satu sumber, bukan hanya membandingkan beberapa AI yang mungkin memakai data serupa.
- Periksa tanggal dan versi dokumen agar tidak memakai keputusan lama yang telah direvisi.
- Jangan mengamalkan jawaban yang berdampak besar sebelum berkonsultasi kepada ahli.
Contoh Penggunaan AI yang Bermanfaat
AI dapat digunakan secara produktif untuk pekerjaan yang memiliki aturan jelas, data terstruktur, dan hasil yang dapat diperiksa. Dalam pengajian tersebut, beberapa kemungkinan pemanfaatan yang dibahas antara lain:
- Mencari ayat atau hadis berdasarkan kata kunci, kemudian memeriksa teks dan sumber aslinya.
- Merangkum penjelasan dasar tentang wudu, salat, zakat, dan tema keagamaan lain sebagai bahan awal belajar.
- Membantu menghitung zakat atau pembagian waris ketika variabel dan ketentuannya telah dimasukkan dengan benar.
- Mengolah dokumen keagamaan yang sudah diseleksi menjadi sistem tanya jawab khusus.
- Menerjemahkan rancangan doa ke bahasa Arab sebagai bantuan bahasa, dengan tetap memeriksa tata bahasa dan maknanya.
- Membantu penelusuran dokumen, kitab digital, dan perpustakaan keislaman secara lebih cepat.
Untuk perhitungan seperti zakat dan waris, AI atau aplikasi dapat membantu karena banyak ketentuannya berbentuk angka. Namun, hasil tetap bergantung pada ketepatan data. Kesalahan menentukan ahli waris, status hubungan keluarga, jumlah harta bersih, utang, atau wasiat akan menghasilkan perhitungan yang salah meskipun rumus komputasinya benar.
Etika Bertanya Agama kepada AI
Penggunaan AI dalam bidang agama harus dilandasi niat yang baik dan tanggung jawab. Kemampuan teknologi tidak boleh dipakai untuk memproduksi kebohongan, menyesatkan orang lain, atau membuat seolah-olah seorang ulama mengatakan sesuatu yang tidak pernah disampaikannya.
- Luruskan niat. Gunakan AI untuk belajar, mencari penjelasan, dan meningkatkan kemaslahatan, bukan mencari pembenaran bagi keinginan pribadi.
- Hindari hoaks dan fitnah. Jangan menyebarkan jawaban sebelum memeriksa sumber dan konteksnya.
- Jangan membuat deepfake keagamaan. Memalsukan wajah, suara, atau pernyataan tokoh agama merupakan penyalahgunaan teknologi.
- Hormati hak cipta. Jangan mengakui tulisan, karya, atau gagasan orang lain sebagai milik sendiri hanya karena telah diproses AI.
- Jaga adab terhadap ilmu. Hindari sikap merasa tidak lagi membutuhkan guru, kajian, atau proses belajar yang mendalam.
- Jangan menyamakan kelancaran bahasa dengan kebenaran. Jawaban yang rapi tetap dapat mengandung kekeliruan.
- Pertahankan tanggung jawab manusia. Pengguna tetap bertanggung jawab atas keputusan, tindakan, dan informasi yang disebarkannya.
AI Tidak Menggantikan Ulama dan Majelis Ilmu
Anggapan bahwa belajar agama cukup melalui AI mengabaikan dimensi penting dalam pendidikan Islam. Majelis ilmu bukan sekadar tempat memperoleh jawaban. Di dalamnya terdapat proses bertanya, klarifikasi, koreksi, keteladanan, pembentukan adab, interaksi antarmanusia, dan pengalaman spiritual yang tidak diperoleh hanya melalui percakapan dengan mesin.
Ulama juga memikul tanggung jawab moral atas penjelasannya. Ia dapat mengenali kebingungan penanya, meminta informasi tambahan, menghentikan kesimpulan yang tergesa-gesa, dan mempertimbangkan dampak jawabannya. AI dapat meniru pola bahasa empatik, tetapi tidak memikul tanggung jawab keagamaan sebagaimana manusia.
Oleh sebab itu, hubungan yang sehat bukan “AI melawan ulama”, melainkan ulama dan umat menggunakan AI secara kritis. Teknologi membantu mempercepat pencarian dan pengolahan informasi, sedangkan manusia menjaga metodologi, nilai, konteks, dan pertanggungjawaban.
Menjaga Tauhid di Tengah Kemajuan Teknologi
Kemampuan AI yang semakin canggih dapat membuat manusia kagum. Namun, kekaguman kepada teknologi tidak boleh berkembang menjadi ketergantungan yang melalaikan Allah atau menempatkan mesin sebagai sumber kebenaran mutlak. AI tetap merupakan hasil karya manusia, memiliki keterbatasan, dapat gagal, dan dapat digunakan secara salah.
Dasar tauhid menuntun seorang Muslim untuk tidak mempertuhankan teknologi. AI tidak menggantikan Allah, wahyu, ulama, hati nurani, dan tanggung jawab manusia. Ia hanyalah salah satu sarana yang dapat digunakan untuk kebaikan apabila ditempatkan secara benar.
Penutup
Bertanya masalah agama kepada AI dapat dilakukan sebagai langkah awal untuk memperoleh informasi, menemukan rujukan, atau menyusun pertanyaan yang lebih terarah. Namun, jawabannya tidak boleh langsung dianggap sebagai fatwa atau kebenaran final. Pengguna harus memeriksa sumber, memahami perbedaan antara perkara usul dan furuk, membandingkan dengan dokumen resmi, serta berkonsultasi kepada ulama ketika persoalannya kompleks, kasuistik, atau berdampak besar.
Prinsip utamanya ialah menempatkan AI sebagai alat bantu yang berada di bawah kendali nilai, ilmu, dan tanggung jawab manusia. Dengan niat yang baik, adab yang benar, serta sikap kritis, AI dapat mendukung proses belajar agama. Tanpa ketelitian dan etika, teknologi yang sama dapat menghasilkan kebingungan, kesalahan, bahkan penyalahgunaan.
Gunakan AI untuk mendekatkan diri kepada ilmu, bukan untuk menghindari proses belajar; gunakan AI untuk menemukan sumber, bukan menggantikan sumber; dan gunakan AI untuk membantu ulama serta umat, bukan mengambil alih otoritas mereka.
Wallahu a‘lam.





