
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Di zaman sekarang, kita sering kali melihat sebuah fenomena di mana kekuasaan, jabatan, atau kecerdasan intelektual justru membuat seseorang menjadi sombong. Banyak orang yang ketika ditegur atau diberi tahu tentang suatu kebenaran, mereka menolaknya mentah-mentah hanya karena gengsi. Ego merasa lebih pintar, lebih kaya, atau lebih berkuasa sering kali menjadi hijab (penghalang) terbesar masuknya hidayah ke dalam hati.
Hari ini, mari kita belajar dari salah satu kisah paling menakjubkan dalam Al-Qur’an tentang seorang pemimpin besar. Beliau memiliki segalanya: kerajaan yang sangat luas, pasukan yang tak tertandingi, harta yang melimpah, dan singgasana yang luar biasa megah. Beliau adalah Ratu Balqis, penguasa negeri Saba.
Awalnya, Ratu Balqis dan kaumnya menyembah matahari. Ketika Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam mengirimkan surat yang berisi ajakan untuk berserah diri kepada Allah, bagaimana respons Balqis? Apakah ia marah, tersinggung, atau langsung menabuh genderang perang karena merasa negaranya kuat? Tidak.
Di sinilah Al-Qur’an menonjolkan kecerdasan dan kedewasaan seorang Ratu Balqis. Ia tidak gegabah. Ia mengumpulkan para menterinya untuk bermusyawarah, mengirim utusan untuk menguji Nabi Sulaiman, hingga akhirnya ia sendiri datang menemui Nabi Sulaiman. Ia menggunakan akal sehatnya untuk mencari tahu kebenaran, bukan menuruti hawa nafsu kekuasaannya.
Puncak dari kisah perjalanan hidayah Balqis diabadikan oleh Allah SWT dalam Surah An-Naml ayat 44, saat ia masuk ke istana Nabi Sulaiman:
قِيلَ لَهَا ٱدْخُلِى ٱلصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَن سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُۥ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّن قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: ‘Sesungguhnya ia adalah istana yang licin dibangun dari kaca.’ Berkatalah Balqis: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.'” (QS. An-Naml: 44)
Ayat ini adalah deklarasi kemenangan akal sehat dan kerendahan hati. Ketika melihat mukjizat dan kebesaran yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman—yang melampaui segala kemegahan duniawi yang ia miliki—Balqis tidak gengsi untuk mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengucapkan: “Rabbi inni zhalamtu nafsi…” (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku). Balqis rela menanggalkan kesombongan kerajaannya demi tunduk kepada Rabb semesta alam.
Pesan utama dari kisah ini sangatlah praktis untuk kehidupan kita sehari-hari. Kecerdasan dan kekuasaan yang sejati adalah ketika hal tersebut mampu mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah.
Bagi rekan-rekan pelajar, mahasiswa, atau kaum muda, saat kita menuntut ilmu dan meraih banyak prestasi, jangan sampai gelar akademik atau kepintaran membuat kita merasa paling benar sehingga sulit menerima nasihat dari orang tua, guru, atau teman. Teladanilah Ratu Balqis: gunakan kecerdasan itu untuk menganalisis kebenaran, dan miliki kerendahan hati untuk menerimanya ketika kebenaran itu datang.
Bagi para pemimpin, ayah di dalam keluarga, atau siapa pun yang memiliki amanah; kisah ini mengajarkan pentingnya menahan diri, bermusyawarah, dan tidak mengambil keputusan saat sedang emosi atau merasa terancam egonya. Kebesaran jiwa Ratu Balqis terbukti ketika ia lebih memilih jalan damai dan pencarian kebenaran dibandingkan mengorbankan rakyatnya dalam peperangan yang sia-sia.
Kebenaran tidak akan pernah merendahkan martabat kita, justru kebenaranlah yang akan meninggikan derajat kita di hadapan Allah. Mari kita buka hati kita lebar-lebar terhadap hidayah. Jangan biarkan harta, jabatan, atau gengsi menghalangi kita dari ampunan dan kasih sayang Allah.
Sebagai penutup, mari kita berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai kejernihan akal dan kerendahan hati
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Karuniakanlah kepada kami hati yang tawadhu’, yang mudah menerima nasihat dan hidayah-Mu, serta jauhkanlah kami dari kesombongan yang dapat membutakan mata hati kami.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




