
Di tengah kemajuan teleskop, laboratorium, ilmu kedokteran, dan geologi, manusia tetap berhadapan dengan pertanyaan paling mendasar: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Buku Treasures in the Sunnah: A Scientific Approach karya Dr. Zaghlul El-Naggar mengajak pembaca menelusuri hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ yang berbicara tentang alam semesta, tumbuh-tumbuhan, kesehatan manusia, dan Jazirah Arab. Buku ini tidak memperlakukan alam sebagai benda mati tanpa makna, melainkan sebagai ruang tanda-tanda yang menghubungkan pengamatan, akal, dan keimanan.
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya mempertemukan dua kegiatan yang sering dipisahkan: membaca wahyu dan membaca alam. Namun, pembacaan semacam ini memerlukan disiplin. Teks Al-Qur’an dan hadis harus dibedakan dari penafsiran penulis, sedangkan temuan ilmiah harus dipahami sebagai pengetahuan yang terus diuji dan diperbarui. Dengan sikap itu, “harta karun” dalam Sunnah tidak berubah menjadi slogan, tetapi menjadi undangan untuk belajar dengan jujur dan rendah hati.
Sunnah dan Tradisi Berpikir
Prakata buku menempatkan Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an dan sumber kedua dalam ajaran Islam. Dari titik inilah penulis menelaah isyarat-isyarat tentang penciptaan. Landasan tadaburnya dapat dibaca dalam ayat berikut.
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal; yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191.
Tadabur yang sehat tidak berhenti pada rasa takjub. Ia menggerakkan manusia dari pengamatan menuju tanggung jawab: semakin luas pengetahuan, semakin besar pula amanah untuk menggunakannya dengan benar.

Empat Ruang Jelajah Buku
Isi buku bergerak melalui empat ruang besar. Bab pertama membahas penciptaan dan alam semesta: lapisan bumi, langit, bintang, Matahari, Bulan, hujan, gunung, laut, tulang ekor, dan penciptaan manusia. Bab kedua menelusuri siwak, habbatussauda, zaitun, kurma, serta truffle. Bab ketiga menghubungkan tuntunan berobat, puasa, penyakit, jantung, solidaritas tubuh, dan larangan peramalan. Bab keempat menyoroti Zamzam, perubahan bentang alam Jazirah Arab, api Hijaz, dan cadangan air di kawasan tersebut.
1. Gerhana: Mematahkan Takhayul, Membuka Pengamatan
Salah satu pembahasan paling kuat adalah gerhana. Ketika gerhana Matahari terjadi bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi, sebagian orang menghubungkan kedua peristiwa itu. Nabi ﷺ menolak hubungan takhayul tersebut.
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihatnya, salatlah dan berdoalah kepada Allah.” HR. al-Bukhari, no. 1043.
Hadis ini penting pada dua tingkat. Secara keagamaan, ia mengarahkan manusia kepada ibadah. Secara intelektual, ia memutus anggapan bahwa gejala langit tunduk pada nasib seorang tokoh. Penjelasan astronomi modern menerangkan gerhana melalui kesejajaran Matahari, Bumi, dan Bulan; NASA juga menjelaskan bahwa gerhana menjadi kesempatan ilmiah untuk mempelajari korona Matahari dan lingkungan antariksa. Keimanan di sini tidak menghapus sebab alamiah; ia memberi arah etis dan spiritual ketika sebab itu dipelajari.
2. Tumbuhan: Manfaat, Ikhtiar, dan Batas Klaim
Bab tumbuh-tumbuhan menunjukkan betapa dekatnya Sunnah dengan kehidupan sehari-hari. Siwak hadir sebagai praktik kebersihan mulut; zaitun, kurma, habbatussauda, dan truffle dibahas sebagai bahan pangan atau pengobatan. Al-Qur’an sendiri mengajak manusia memperhatikan tumbuhan sebagai tanda bagi orang yang mau berpikir.
يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرْعَ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلْأَعْنَـٰبَ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Dengan air hujan itu Dia menumbuhkan bagi kamu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.” QS. an-Nahl [16]: 11.

Riset modern memang meneliti siwak. Sebuah uji acak terkontrol tahun 2024 melaporkan bahwa siwak dapat membantu mengendalikan plak, tetapi teknik pemakaian sangat menentukan; penggunaan yang agresif dapat merugikan gusi. Temuan itu memperkuat sebuah prinsip penting: anjuran kebersihan perlu disertai pengetahuan cara penggunaan. Siwak bukan alasan untuk mengabaikan pemeriksaan gigi, pasta gigi berfluorida, atau saran tenaga kesehatan.
Tentang habbatussauda, buku mengutip hadis sahih berikut.
فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ
“Di dalam habbatussauda terdapat penyembuh bagi setiap penyakit kecuali kematian.” HR. al-Bukhari, no. 5688.
Hadis tentang bahan pengobatan mendorong ikhtiar dan penelitian, tetapi tidak membenarkan penghentian terapi medis yang terbukti. Dosis, interaksi obat, kondisi pasien, serta mutu bukti tetap harus diperiksa oleh tenaga kesehatan.
3. Tubuh Manusia: Ilmu yang Berujung pada Kepedulian
Pembahasan kesehatan dalam buku bukan sekadar daftar bahan obat. Ia juga menyentuh kehalalan pengobatan, manfaat puasa, kedudukan jantung, dan hubungan antaranggotanya. Gambaran orang beriman sebagai satu tubuh mempertemukan bahasa biologis dengan etika sosial.
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Engkau melihat orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan di antara mereka seperti satu tubuh; apabila satu anggota mengeluh sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.” HR. al-Bukhari, no. 6011.
Nilainya tidak bergantung pada penemuan satu mekanisme biologis tertentu. Pesan utamanya jelas: rasa sakit seseorang seharusnya membangunkan kepedulian bersama. Karena itu, ilmu kesehatan dalam kerangka Sunnah tidak cukup berhenti pada tubuh individu. Ia juga menuntut akses pengobatan, kepedulian kepada yang lemah, pencegahan penyakit, dan tanggung jawab sosial.
4. Jazirah Arab: Memori Bumi dan Masa Depan
Bab terakhir membawa pembaca ke Zamzam dan sejarah bentang alam Jazirah Arab. Penulis menghubungkan riwayat-riwayat keagamaan dengan geologi, air tanah, jejak iklim masa lampau, dan peristiwa vulkanik. Bagian ini memperlihatkan bahwa gurun pun menyimpan arsip: batuan, sedimen, fosil, dan jalur air purba dapat merekam perubahan lingkungan dalam rentang waktu yang panjang.
Di sinilah kehati-hatian kembali diperlukan. Data geologi dapat menguatkan bahwa suatu kawasan pernah lebih hijau, tetapi penentuan kapan, bagaimana, dan sejauh mana sebuah hadis berkaitan dengan data tertentu memerlukan kajian lintas bidang. Keselarasan yang menarik adalah pintu penelitian, bukan pengganti penelitian.
Tiga Lapisan yang Jangan Dicampur
| Lapisan | Cara Membacanya |
|---|---|
| Nash | Pastikan teks, terjemahan, konteks, dan sumber ayat atau hadis benar. |
| Penafsiran | Kenali bahwa hubungan antara nash dan fenomena ilmiah merupakan hasil ijtihad atau argumentasi manusia. |
| Sains | Utamakan bukti yang dapat diperiksa, bedakan hipotesis dari konsensus, dan bersedia memperbarui kesimpulan. |
Dengan tiga lapisan tersebut, pembaca dapat menikmati keluasan buku tanpa harus menerima setiap rincian penafsiran ilmiahnya sebagai keputusan terakhir. Pendekatan ini juga melindungi kehormatan wahyu: jika sebuah model ilmiah berubah, yang perlu ditinjau adalah cara manusia menghubungkannya dengan teks, bukan keaslian teks itu sendiri.
Harta karun dalam Sunnah bukan hanya informasi yang “mendahului zaman”. Yang lebih mendasar ialah metode hidup: mengamati tanpa takhayul, berobat tanpa putus asa, memanfaatkan alam tanpa melampaui batas, dan mengubah pengetahuan menjadi kasih sayang.
Penutup: Dari Kekaguman Menuju Amal
Buku ini layak dibaca sebagai peta perjumpaan antara iman dan pengetahuan. Ia mengingatkan bahwa Sunnah berbicara kepada manusia secara utuh: akalnya diajak berpikir, tubuhnya diajak menjaga kebersihan dan kesehatan, hatinya diarahkan kepada Allah, serta kehidupan sosialnya dituntun menuju kepedulian. Pembaca terbaik bukanlah orang yang sekadar mengumpulkan klaim menakjubkan, melainkan orang yang semakin teliti terhadap sumber, semakin rendah hati terhadap bukti, dan semakin baik amalnya.
Sumber Rujukan
- Zaghlul El-Naggar, Treasures in the Sunnah: A Scientific Approach, Al-Falah Foundation, beserta naskah terjemahan yang menjadi sumber utama artikel ini.
- Quran.com, Surah Ali ‘Imran ayat 190–191.
- Quran.com, Surah an-Nahl ayat 11.
- Sahih al-Bukhari no. 1043 tentang gerhana, Sunnah.com.
- Sahih al-Bukhari no. 5688 tentang habbatussauda, Sunnah.com.
- Sahih al-Bukhari no. 6011 tentang orang beriman sebagai satu tubuh, Sunnah.com.
- NASA Science, “Eclipses”, penjelasan resmi tentang mekanisme dan nilai ilmiah pengamatan gerhana.
- Abdellatif dkk., “Comparative Effectiveness of Miswak and Toothbrushing on Dental Plaque and Gingivitis: A Randomized Controlled Trial”, Healthcare, 2024.




