
Dalam pidato reflektifnya menyambut 80 tahun kemerdekaan Indonesia, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menggarisbawahi pencapaian, tantangan, dan harapan bagi bangsa. Peringatan ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momen krusial untuk menghayati makna luhur kemerdekaan sebagai mandat utama dalam mewujudkan cita-cita para pendiri negara.
Pencapaian dan Harapan
Haedar Nashir mengapresiasi kemajuan signifikan yang telah dicapai Indonesia dalam delapan dasawarsa di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, sosial, politik, dan ekonomi. Ia menyoroti peran generasi muda—milenial dan Gen Z—sebagai sumber daya insani yang akan melanjutkan estafet perjuangan bangsa di era postmodern yang kompleks.
Secara khusus, ia mengapresiasi kemauan politik Presiden Prabowo Subianto yang dinilai telah mengambil langkah-langkah berani untuk menata pemerintahan yang baik (good governance), fokus pada pengembangan SDM, memihak rakyat kecil, dan menegakkan kedaulatan bangsa melalui kebijakan berbasis Asta Cita. Kebijakan ini diharapkan membawa harapan baru bagi terwujudnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, dan sejahtera.
Tantangan dan Ironi Kemerdekaan
Di sisi lain, Haedar Nashir menyoroti “panorama buram” yang menjadi paradoks di usia 80 tahun kemerdekaan. Ia mengkritik keras praktik penyalahgunaan kekuasaan oleh individu-individu yang tidak bertanggung jawab, yang seolah menikmati buah kemerdekaan tanpa pengabdian.
Berbagai masalah kronis menjadi ironi pahit kemerdekaan, di antaranya:
- Korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
- Oligarki politik dan ekonomi.
- Eksploitasi sumber daya alam dan konsesi merugikan kepada pihak asing.
- Kesenjangan sosial dan kemiskinan yang dibiarkan.
- Kebijakan yang memberatkan dan menghimpit kepentingan rakyat.
Praktik-praktik ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan panjang dan penuh pengorbanan para pahlawan yang berjuang melawan penjajahan selama ratusan tahun.
Panggilan untuk Kembali ke Jati Diri Bangsa
Haedar Nashir mengajak seluruh elemen bangsa, terutama para elite di eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, dan Polri, untuk meneladani para pendiri negara. Ia menekankan pentingnya menjadikan konstitusi sebagai mandat utama untuk mengabdi, bukan untuk meminta. Hal ini mencakup perlindungan terhadap seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam ketertiban dunia.
Ia juga menyerukan penegakan hukum yang substansial, bukan sekadar administratif, untuk mencapai rasa keadilan sejati di masyarakat. Para pengusaha besar didorong untuk berkorban bagi negara dan tidak menjadi “vampir ekonomi” yang mencari keuntungan di atas penderitaan rakyat.
Mengutip pesan Bung Karno, ia mengingatkan bahwa negara Indonesia didirikan “semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu”. Oleh karena itu, kepentingan negeri harus diletakkan di atas kepentingan pribadi, kroni, dan dinasti. Persatuan sejati hanya dapat diraih melalui empati, kepedulian, dan semangat berbagi, bukan dominasi.
Pada akhirnya, pidato ini merupakan seruan moral agar di usianya yang ke-80, Indonesia dapat benar-benar mewujudkan tema kemerdekaannya: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”.
File lengkap dapat dibaca melalui link: DOWNLOAD
Pidato Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan Haedar Nashir x (1)



