Dinamika PesyarikatanDinamika Tabligh

Rekatkan Hati dan Kuatkan Sinergi, PDM Banjarnegara Gelar Turba Silaturrahmi Jilid II di PCM Wanayasa

BANJARNEGARA – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara sukses menggelar kegiatan Turba Silaturrahmi Jilid II pada Ahad, 11 Oktober 2026. Bertempat di Gedung IPHI Wanayasa (kompleks MBS Wanayasa), kegiatan ini mengusung tema “Merekatkan Hati, Menguatkan Sinergi, Memajukan Persyarikatan dan AUM”.

Kegiatan silaturrahmi tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan PDM Banjarnegara, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), serta jajaran Organisasi Otonom (Ortom). Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari PCM se-Zona 3, meliputi PCM Wanayasa, Kalibening, Pandanarum, Karangkobar, hingga Sumberejo.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi oleh pembawa acara, dilanjutkan tilawah Al-Qur’an oleh Ayunda Nuraini Pangestuti dan saritilawah oleh Ayunda Utari Dwi Setyaningsih. Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Sang Surya, serta mengumandangkan Asmaul Husna.

Dalam sambutannya, Ketua PCM Wanayasa selaku tuan rumah, H. Rohmani, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh jajaran PDM Banjarnegara dan perwakilan PCM/PRM se-Zona 3.

  1. Rohmani memaparkan perkembangan persyarikatan di wilayah Wanayasa yang terus menunjukkan tren positif. Dari 10 ranting aktif, sebanyak 8 ranting di Wanayasa kini telah memiliki mobil operasional layanan KOKAM/sosial untuk melayani jamaah dan masyarakat umum. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada panitia penyelenggara, unsur MBS, Nasyiatul Aisyiyah (NA), ‘Aisyiyah, KOKAM, Pemuda Muhammadiyah, serta pengurus IPHI Wanayasa yang telah mendukung kelancaran acara.

Melalui Turba Silaturrahmi Jilid II ini, diharapkan konsolidasi dan komunikasi antar-cabang maupun ranting di wilayah atas semakin solid, sekaligus menjadi wadah sharing best practices dalam pengelolaan persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Acara inti diisi dengan pengarahan dan pembinaan dari PDM Banjarnegara. Dalam pemaparannya, H. Fahmi Hisyam, S.Ag. menegaskan tiga poin utama pembinaan warga Muhammadiyah:

  1. Taaruf Kita: Memperkenalkan dan mengenali kembali identitas serta potensi warga Muhammadiyah (QS. Al-Hujurat: 13).
  2. Taawun Kita: Meningkatkan kualitas kerja sama dan tolong-menolong ke tingkat yang lebih tinggi.
  3. Tadhamun Kita: Saling menjamin, menanggung, dan menumbuhkan kepedulian yang mendalam tanpa ego kedaerahan.

Mengacu pada keputusan Muktamar ke-48, H. Fahmi menekankan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan berkemajuan. “Maju yang dimaksud adalah semakin masuk ke dalam nilai-nilai Islam dan petunjuk-Nya. Jangan ragu untuk bermimpi dan berdoa setinggi-tingginya (In tansurullaha yansurkum),” tegasnya. Bukti nyata pergerakan ini terlihat dari pesatnya pembangunan MI, MTs, MBS, SMA, hingga fasilitas kesehatan di Batur, Kalibening, dan Sumberejo.

Terkait infaq dan pembangunan AUM, beliau mengajak warga untuk mengubah mindset: penggalangan dana bukan kegiatan “meminta bantuan”, melainkan memberikan kesempatan emas bagi orang lain untuk beramal sholeh (QS. At-Talaq: 2-3). Ukuran kaya bukanlah banyaknya harta, melainkan rasa cukup (qana’ah) dan bersyukur.

  1. Fahmi juga menyoroti krisis kemanusiaan global seperti di Palestina dan Timur Tengah. Beliau mendorong umat Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi) agar bermartabat. Selain itu, beliau memberikan peringatan penting agar struktur kepemimpinan Muhammadiyah terhindar dari gaya kepemimpinan “kasta”.

“Tidak ada kasta dalam Muhammadiyah. Kemuliaan seseorang hanya dinilai dari ketakwaannya (QS. Al-Hujurat: 13). Seluruh pengurus diajak memelihara kemurnian ibadah dari bid’ah, khurafat, dan taklid,” pungkas H. Fahmi.

Sementara itu, Ketua bidang LPCR dan Masjid, H. Widiyasmara, S.Pd., menyampaikan materi terkait pentingnya keselarasan antara AUM (pendidikan, kesehatan, BTM, Lazismu) dengan visi-misi Persyarikatan.

  • Penguatan Ideologi Karyawan: Mengatasi tantangan karyawan AUM yang minim keterlibatan dakwah atau belum memahami kultur Muhammadiyah.
  • Keaktifan Organisasi: Sesuai amanat Musyda Banjarnegara, guru dan karyawan AUM wajib aktif di PCM, PRM, maupun Ortom.
  • Penerapan EKTAM: Kepemilikan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (EKTAM) dijadikan indikator prioritas penerimaan dan keaktifan karyawan. PCM juga merencanakan jalur pelayanan EKTAM khusus bagi karyawan AUM.
  • Kedisiplinan Iuran: Penataan administrasi iuran bulanan Pimpinan Ranting (Rp100.000/bulan dikalikan jumlah pimpinan/anggota) dan Pimpinan Cabang (Rp25.000/pimpinan/bulan).
  1. Widiyasmara menegaskan bahwa di era modern, Muhammadiyah harus dikelola dengan prinsip profesionalitas:
  • Digerakkan dengan Sistem, Bukan Sinten (Tokoh): Berfokus pada tatanan organisasi, bukan sekadar figur.
  • Digerakkan dengan SOP, Bukan Soko: Menjalankan kegiatan berdasarkan Standar Operasional Prosedur yang terukur melalui Key Performance Indicator (KPI).
  • Digerakkan dengan Kepercayaan (Trust): Membangun persyarikatan atas dasar trust dan data yang valid serta terintegrasi.

Melalui komitmen, keikhlasan, dan sinergi yang kokoh antara struktur persyarikatan dan AUM, langkah dakwah amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah di Banjarnegara diharapkan semakin solid dan berdampak luas bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Oleh: Mister Kismadi, SE (Ketua Majelis Pustaka Informasi & LPCR Cabang Kalibening,             KMM PDM Banjarnegara)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button