ArtikelTuntunan

Ayat-Ayat Perumpamaan Dalam Al-Qur’an Dan Hikmahnya

Memahami Amtsālul Qur’ān: Menyingkap Makna, Pesan Tauhid, dan Hikmah Kehidupan melalui Perumpamaan Ilahi.

Senin Pahing, 12 Oktober 2026 1 Jumadilawal 1448 H


Amtsālul Qur’ān (أمثال القرآن) merupakan ungkapan perumpamaan dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kebenaran iman, nilai amal, bahaya kemunafikan, serta hakikat kehidupan melalui gambaran yang dekat dengan pengalaman manusia. Air, api, cahaya, biji-bijian, pohon, dan hewan bukan sekadar hiasan bahasa; semuanya mengantarkan pembaca kepada perenungan moral dan spiritual.

DOWNLOAD BUKU AYAT PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN

Al-Qur’an menyampaikan pelajaran dalam bentuk argumentasi, kisah, hukum, nasihat, dan perumpamaan. Dengan amtsāl, persoalan yang tidak mudah dilihat secara langsung menjadi lebih dapat direnungkan melalui pengalaman inderawi. Akan tetapi, gambarannya harus dibaca menurut maksud ayat dan konteks tafsir, bukan dipaksakan menjadi pernyataan ilmiah tentang setiap sifat benda atau makhluk yang disebut.

1. Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Perumpamaan?

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” QS. Al-Hasyr [59]: 21 (Baca tafsir)

Bagian akhir QS. Al-Hasyr [59]: 21 berada dalam konteks perumpamaan tentang sebuah gunung yang akan tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah seandainya Al-Qur’an diturunkan kepadanya. Tafsīr Ibn Kathīr mengaitkan gambaran ini dengan keagungan Al-Qur’an dan tuntutan agar hati manusia melembut ketika membaca dan merenungkannya.

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” QS. Al-‘Ankabut [29]: 43 (Baca tafsir)

Hikmah utama perumpamaan bukan berhenti pada kesan indahnya bahasa, melainkan mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, perenungan, dan amal.

2. Ragam Perumpamaan dalam Ilmu Al-Qur’an

Secara pedagogis, perumpamaan dapat dikenali dari bentuknya. Pertama, perumpamaan eksplisit yang menggunakan ungkapan seperti mathal atau ka-mathal, misalnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 17 dan QS. Al-‘Ankabut [29]: 41. Kedua, penggambaran perbandingan yang hidup tanpa harus memakai kata mathal, misalnya gambaran gibah pada QS. Al-Hujurat [49]: 12. Pembedaan tersebut membantu pembaca tidak menganggap semua kiasan sebagai satu bentuk retorika yang sama.

Dalam tradisi ‘Ulūm al-Qur’ān, pembahasan gaya bahasa Al-Qur’an dapat ditelusuri, antara lain, melalui karya al-Zarkasyī, Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, dan al-Suyūṭī, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Tafsir al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, dan Ibn Kathīr memperlihatkan cara perumpamaan dipahami dalam kaitan dengan redaksi dan konteks masing-masing ayat.

LANJUT BACA — HALAMAN 2: Iman, Cahaya, dan Kebenaran ›

3. Iman dan Petunjuk: Api, Cahaya, dan Pohon

3.1 Api yang Padam: Gambaran Orang Munafik

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

“Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api. Setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak dapat melihat.” QS. Al-Baqarah [2]: 17 (Baca tafsir)

Konteks ayat-ayat awal surah Al-Baqarah membicarakan kondisi orang munafik. Cahaya yang hilang mengisyaratkan hilangnya kemampuan memperoleh manfaat dari petunjuk. Ayat berikutnya, QS. Al-Baqarah [2]: 19, menggunakan gambaran hujan lebat, kegelapan, guruh, dan kilat. Pelajarannya adalah agar keimanan tidak berhenti sebagai penampilan lahiriah.

3.2 Cahaya Ilahi: Misykat dan Pelita

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita; pelita itu berada di dalam kaca …” QS. An-Nur [24]: 35 (petikan) (Baca tafsir)

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, al-Ṭabarī mencatat beberapa penjelasan mengenai “cahaya-Nya”, antara lain petunjuk Allah dan cahaya iman dalam hati orang beriman. Karena ada keragaman penafsiran, pembaca perlu berhati-hati: gambaran cahaya di sini tidak berarti Allah identik dengan sebuah lampu atau objek fisik.

3.3 Pohon yang Kokoh: Kalimat yang Baik

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” QS. Ibrahim [14]: 24 (Baca tafsir)

Al-Ṭabarī merekam penafsiran yang menghubungkan kalimah ṭayyibah dengan tauhid, iman, dan amal saleh. Akar yang kokoh dapat direnungkan sebagai keyakinan yang teguh; buah yang terus memberi manfaat (lihat ayat 25) sebagai amal yang tumbuh dari keyakinan tersebut. QS. Ibrahim [14]: 26 menampilkan perbandingan dengan pohon buruk yang tidak memiliki keteguhan.

3.4 Buih dan Air: Kebenaran serta Kebatilan

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

“Adapun buih, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna; sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap berada di bumi.” QS. Ar-Ra‘d [13]: 17 (petikan) (Baca tafsir)

Ibn Kathīr menjelaskan bahwa QS. Ar-Ra‘d [13]: 17 menghadirkan dua perumpamaan: buih di atas aliran air dan kotoran yang terpisah ketika logam dilebur. Keduanya menjadi gambaran bahwa kebatilan tidak memiliki keteguhan seperti kebenaran. Dalam kehidupan kontemporer, ini mengingatkan kita agar tidak menilai suatu informasi hanya dari keramaian atau popularitasnya.

Sesuatu yang tampak paling ramai di permukaan tidak selalu paling bernilai; pelajaran QS. Ar-Ra‘d [13]: 17 mengarahkan manusia kepada manfaat yang bertahan.

LANJUT BACA — HALAMAN 3: Infak, Ilmu, dan Akhlak ›

4. Amal dan Akhlak: Biji, Kitab, serta Perbuatan

4.1 Sedekah sebagai Benih yang Tumbuh

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji.” QS. Al-Baqarah [2]: 261 (petikan) (Baca tafsir)

Ayat ini menunjukkan keluasan ganjaran Allah atas infak yang benar. Ibn Kathīr dan al-Qurṭubī menerangkan keterkaitan antara pertumbuhan benih dan berlipatnya pahala. Namun, angka tujuh ratus di dalam gambaran tersebut tidak patut disederhanakan menjadi rumus pasti pengembalian uang secara material. QS. Al-Baqarah [2]: 264–265 juga mengingatkan bahwa riya, menyakiti penerima sedekah, dan kualitas niat berpengaruh terhadap nilai amal.

Foto ladang gandum hijau, ilustrasi analogi benih yang tumbuh
Ilustrasi tanaman pangan untuk membantu membayangkan pertumbuhan benih. Foto: Jagseer S Sidhu (CC BY-SA 4.0); penyesuaian tampilan 16:9.

4.2 Keledai Membawa Kitab: Ilmu Tanpa Pelaksanaan

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Perumpamaan orang-orang yang dibebani Taurat kemudian tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” QS. Al-Jumu‘ah [62]: 5 (petikan) (Baca tafsir)

Secara langsung, ayat ini berbicara tentang kalangan yang diberi amanah mengemban Taurat tetapi tidak menunaikannya. Al-Qurṭubī juga mengambil pelajaran agar pengemban kitab memahami dan melaksanakan isinya. Relevansinya bagi setiap pencari ilmu adalah melakukan muhasabah: apakah hafalan, kepakaran, dan gelar menghasilkan akhlak dan kemanfaatan? Penerapan nilai tersebut tidak boleh dipakai untuk merendahkan suatu kelompok manusia secara serampangan.

4.3 Gibah: Memakan Daging Saudara yang Telah Mati

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik.” QS. Al-Hujurat [49]: 12 (petikan) (Baca tafsir)

Ini merupakan gambaran perbandingan yang menggugah rasa jijik terhadap gibah. Di ruang digital, pesan ayat ini tampak ketika seseorang menyebarkan aib, potongan percakapan, atau tuduhan tanpa kebutuhan yang dibenarkan. Penting pula membedakan gibah yang dilarang dari penyampaian fakta untuk mencari keadilan, mencegah bahaya, atau memenuhi kewajiban lain menurut ketentuan agama.

Pendidikan Al-Qur’an tidak memisahkan iman dari etika: harta menjadi baik ketika diinfakkan dengan benar; ilmu menjadi bermanfaat ketika dipahami dan diamalkan; lisan menjadi mulia ketika menjaga martabat manusia.

LANJUT BACA — HALAMAN 4: Tauhid dan Kefanaan Dunia ›

5. Tauhid dan Hakikat Dunia: Laba-laba, Lalat, dan Hujan

5.1 Sarang Laba-laba: Ketidakandalan Sesembahan Selain Allah

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Sungguh, rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” QS. Al-‘Ankabut [29]: 41 (Baca tafsir)

Al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr menekankan kelemahan pelindung-pelindung yang disembah selain Allah: ketika pertolongan benar-benar diperlukan, sesembahan itu tidak dapat memberikan manfaat sebagaimana diharapkan penyembahnya. Fokus perumpamaan ini adalah ketidakandalan sandaran syirik, bukan klaim sains bahwa setiap benang sutra laba-laba pasti merupakan material paling lemah di alam.

Foto jaring laba-laba yang ditutupi tetesan embun, ilustrasi QS Al-Ankabut 29:41
Contoh jaring laba-laba yang nyata di alam. Foto: Sylvia Duckworth (CC BY-SA 2.0); penyesuaian tampilan 16:9.

5.2 Lalat: Batas Kekuasaan Sesembahan Selain Allah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya apa yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.” QS. Al-Hajj [22]: 73 (petikan) (Baca tafsir)

Lalat, yang lazim dianggap makhluk kecil dan remeh, dihadirkan untuk memperlihatkan keterbatasan objek sesembahan selain Allah. Pesan utamanya adalah teologis: tidak layak sesuatu yang tidak mempunyai kekuasaan ketuhanan dijadikan sesembahan. Ayat ini bukan alasan untuk menghentikan penelitian tentang biologi serangga; pengkajian ilmiah dan pembacaan pesan tauhid bekerja pada pertanyaan yang berbeda.

5.3 Nyamuk: Tidak Ada Makhluk Terlalu Kecil untuk Direnungkan

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.” QS. Al-Baqarah [2]: 26 (petikan) (Baca tafsir)

Al-Qur’an tidak menggantungkan nilai pedagogis sebuah perumpamaan pada besarnya objek. Hal yang kecil pun dapat menjadi sarana penyampaian kebenaran. Penafsiran ungkapan Arab fa-mā fawqahā memiliki rincian dalam tradisi tafsir; jangan menganggap terjemahan satu frasa ini sebagai penetapan pasti urutan biologis semua makhluk.

5.4 Kehidupan Dunia Bagai Tanaman yang Mengering

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ

“Buatkanlah bagi mereka perumpamaan kehidupan dunia seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh-tumbuhan bumi menjadi subur karenanya, kemudian menjadi kering dan diterbangkan angin.” QS. Al-Kahfi [18]: 45 (petikan; terjemahan makna) (Baca tafsir)

Perumpamaan ini menempatkan kesegaran tanaman dan kehancurannya dalam satu rangkaian. Ibn Kathīr menerangkannya sebagai gambaran perubahan dan kefanaan kehidupan dunia. Pesannya bukan menjauhi kerja dan pembangunan, melainkan menghindari keterikatan yang membuat manusia lupa pada tanggung jawab akhirat dan kepentingan sesama.

LANJUT BACA — HALAMAN 5: Hikmah dan Sumber Rujukan ›

6. Hikmah Amtsālul Qur’ān bagi Kehidupan Kontemporer

Perumpamaan-perumpamaan tersebut dapat dipahami melalui tiga gerak pembelajaran: membaca redaksinya dengan teliti, menelusuri konteks dan tafsir ulama, lalu merumuskan tanggung jawab praktis. Urutan ini penting agar pesan moral Al-Qur’an tidak berubah menjadi slogan yang lepas dari makna aslinya.

  • Dalam pendidikan: gunakan pohon berakar kuat (QS. Ibrahim [14]: 24–25) sebagai bahan refleksi tentang hubungan pengetahuan, karakter, dan amal.
  • Dalam pengelolaan harta: pelajari analogi benih yang berbuah (QS. Al-Baqarah [2]: 261), sambil membaca ayat-ayat sesudahnya tentang niat dan larangan menyakiti penerima.
  • Dalam literasi digital: bandingkan informasi yang segera viral dengan buih yang segera lenyap (QS. Ar-Ra‘d [13]: 17). Ini penerapan reflektif, bukan pernyataan bahwa ayat secara langsung membahas media sosial.
  • Dalam akhlak pergaulan: jadikan QS. Al-Hujurat [49]: 12 sebagai pengingat sebelum menuliskan komentar atau menyebarkan kabar yang merusak kehormatan orang lain.
  • Dalam tauhid: bacalah perumpamaan sarang laba-laba (QS. Al-‘Ankabut [29]: 41) dengan menekankan siapa yang disandari dan mengapa sandaran itu tidak mampu memberi pertolongan.
  • Dalam kesadaran waktu: ingatlah pertumbuhan sekaligus luruhnya tanaman (QS. Al-Kahfi [18]: 45); kesempatan hidup harus diisi kerja bermanfaat dan amal saleh.

7. Membaca Perumpamaan dengan Metode yang Bertanggung Jawab

Perlu dibedakan antara bunyi ayat, keterangan tafsir klasik, dan penarikan hikmah untuk masa kini. Sebagai contoh, ketika analogi buih dikaitkan dengan informasi palsu di internet, hal itu merupakan aplikasi nilai, bukan sebab turunnya ayat atau satu-satunya tafsir. Begitu pula, ketika sarang laba-laba disebut rapuh dalam konteks perlindungan, makna keagamaannya tidak boleh dipindahkan begitu saja menjadi hukum universal mengenai kekuatan bahan biologis.

Pembaca sebaiknya memperhatikan siyāq (konteks), kosa kata Arab, ayat sebelum dan sesudahnya, serta riwayat dan pendapat yang dihimpun kitab tafsir. Penafsiran tidak boleh membuat sebuah perumpamaan meniadakan kandungan hukum atau tuntunan lain dalam Al-Qur’an. Perumpamaan juga tidak berarti setiap detail benda pembanding harus memiliki padanan teologis tersendiri.

Rak kitab-kitab klasik sebagai ilustrasi kajian sumber dan literasi tafsir
Foto perpustakaan sebagai ilustrasi telaah kitab tafsir dan literatur. Foto: Missmarettaphotography (CC BY-SA 4.0); penyesuaian tampilan 16:9.

8. Penutup: Dari Memahami Menuju Mengamalkan

Ayat-ayat perumpamaan menghubungkan akal, hati, dan tindakan. Ia mengajari bahwa iman harus kokoh, harta sepatutnya menjadi sarana kebaikan, ilmu memerlukan pengamalan, ucapan harus menjaga kehormatan, dan kehidupan dunia tidak boleh melalaikan tujuan akhirat. Perumpamaan menuntun manusia bukan sekadar mengetahui, tetapi juga merenungkan dan berubah.

Pertanyaan setelah membaca sebuah perumpamaan ialah: “Perubahan apa yang dituntut oleh ayat ini dalam cara saya beriman, berpikir, memperlakukan sesama, dan menggunakan kesempatan hidup?”


DOWNLOAD BUKU AYAT PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN


Sumber Rujukan

Rujukan di bawah mencakup kitab turats dan sumber daring yang dapat diperiksa. Teks Arab yang disajikan merupakan ayat atau petikan ayat; terjemahannya disusun dalam bahasa Indonesia dengan mempertahankan pokok makna, bukan seluruhnya kutipan redaksi resmi yang sama. Pembaca dapat memeriksa ayat utuh melalui tautan terkait.

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/. --- HP: 0818294312, Email: kasmui@mail.unnes.ac.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button