Gerak Bersama: Sinergi Pentahelix sebagai Kunci Ketangguhan Sumatera Menghadapi Bencana (Perspektif Muhammadiyah)

Gerak Bersama: Sinergi Pentahelix sebagai Kunci Ketangguhan Sumatera Menghadapi Bencana
(Perspektif Muhammadiyah)
Pendahuluan: Bencana sebagai Ujian dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Dalam pandangan Muhammadiyah, bencana alam dipahami dalam kerangka tauhid dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Bencana merupakan bagian dari sunnatullah (hukum alam) yang dapat menjadi ujian, peringatan, atau akibat dari kelalaian manusia dalam mengelola alam (QS Al-Rum: 41). Pulau Sumatera, dengan segala kerentanannya, menuntut respons yang tidak hanya teknokratis tetapi juga berbasis pada nilai-nilai keislaman yang mendorong amal shaleh, keadilan sosial, dan penguatan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). Pendekatan Pentahelix, dalam perspektif Muhammadiyah, harus dimaknai sebagai bentuk konkrit dari amar maâruf nahi munkar dalam ranah kebencanaan, menggerakkan seluruh potensi masyarakat untuk membangun ketangguhan kolektif.
1. Konteks Kerentanan: Refleksi atas Pengelolaan Lingkungan
Kerentanan Sumatera bukanlah takdir, melainkan juga cermin dari adanya âkerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusiaâ (QS Ar-Rum: 41). Muhammadiyah menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang sesuai dengan prinsip rahmatan lil âalamin. Fragmentasi kebijakan dan praktik eksploitasi sumber daya yang berlebihan adalah bentuk kelalaian yang memperparah risiko. Oleh karena itu, mitigasi bencana harus dimulai dengan gerakan penyadaran ekologis melalui dakwah, pendidikan, dan advokasi kebijakan yang digerakkan oleh Majelis Lingkungan Hidup dan majelis-majelis terkait lainnya di seluruh tingkatan.
2. Pilar Sinergi Pentahelix: Dalam Bingkai Fikih Kebencanaan dan Kemaslahatan
Sinergi lima pihak diwujudkan dalam semangat taâawun âalal birri wattaqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan – QS Al-Maidah: 2).
¡ Pemerintah: Muhammadiyah mendorong negara untuk hadir dengan kebijakan proaktif dan adil. Majelis Tarjih dan Tajdid dapat memberikan tawaran konseptual berbasis maqashid syariah (menjaga jiwa, harta, akal, keturunan, dan agama) dalam perumusan regulasi kebencanaan.
¡ Akademisi/Pakar: Jaringan sekolah, madrasah, dan universitas Muhammadiyah (dikoordinir Majelis Dikti Litbang) harus menjadi pusat riset dan inovasi berbasis sains dan teknologi untuk mitigasi dan adaptasi bencana, sekaligus mendiseminasikan hasilnya dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
¡ Dunia Usaha: Dunia usaha didorong untuk mengimplementasikan CSR yang transformatif, bukan sekadar karitatif, dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan. Lazismu (Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah) dapat menjadi mitra strategis dalam mengelola dana sosial untuk program jangka panjang pengurangan risiko bencana.
¡ Komunitas/LSM (Organisasi Otonom & Majelis): Ini adalah garda terdepan. âAisyiyah, Nasyiatul âAisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, IMM, Tapak Suci, dan majelis-majelis seperti Majelis PKU dan Majelis Kesejahteraan Sosial harus diberdayakan sebagai jaringan siaga bencana berbasis komunitas. Mereka adalah aktor utama dalam pendidikan kebencanaan, simulasi, dan respons cepat dengan mengedepankan kearifan lokal dan nilai-nilai keislaman.
¡ Media: Media milik Muhammadiyah (Suara Muhammadiyah, TVMu, dll) dan kader di media arus utama memiliki tanggung jawab sebagai dai pencerah publik. Mereka harus menyebarkan informasi yang akurat, mendidik, dan menenangkan, serta mengcounter hoaks dan fatalisme dengan narasi yang menguatkan semangat ikhtiar.
3. Rencana Aksi Terpadu: Dari Dakwah hingga Aksi Nyata
¡ Prabencana (Fase Dakwah dan Penyadaran): Integrasikan modul âFiqh Kebencanaanâ dan âAgama Ramah Lingkunganâ dalam pengajian, sekolah, dan khutbah Jumat. Bangun Sekolah/Madrasah Siaga Bencana dan Rumah Sakit Berketahanan Bencana di seluruh ranting Muhammadiyah di Sumatera.
¡ Tanggap Darurat (Fase Ibadah Sosial): Koordinasi berbasis komando di bawah Majelis PKU dan Lazismu sebagai penyedia logistik dan dana darurat. Aktifkan Posko Kemanusiaan dengan protokol yang jelas, memastikan bantuan tepat sasaran, non-diskriminatif, dan bermartabat sesuai prinsip al-âAdalah (keadilan).
¡ Pemulihan & Rehabilitasi (Fase Pembangunan Peradaban): Tidak hanya membangun fisik, tetapi juga jiwa (psikososial) melalui pendampingan oleh majelis dakyah dan lembaga pendidikan. Kembalikan mata pencaharian dengan program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah. Bangun kembali dengan prinsip âBuild Back Betterâ yang secara teologis dimaknai sebagai upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan lebih berkah (hayatan thayyibah).
4. Tantangan dan Solusi: Mengikis Ego Sektoral dengan Semangat Ukhuwah
Tantangan terbesar adalah ego sektoral. Muhammadiyah, dengan jaringannya yang luas dan manajemen modern berbasis nilai, dapat menjadi fasilitator dan perekat kolaborasi antar pihak. Solusinya adalah dengan memperkuat jaringan komunikasi internal (seperti sistem informasi kebencanaan Muhammadiyah) dan membuka ruang dialog lintas aktor secara inklusif. Pelatihan reguler untuk kader dan masyarakat harus menjadi program prioritas.
5. Panggilan untuk Aksi: Dakwah Bil Hal untuk Sumatera Tangguh
Ketangguhan Sumatera adalah tanggung jawab kolektif (fardhu kifayah). Muhammadiyah menyerukan:
¡ Komitmen Politik Kader: Kader yang berada di legislatif dan eksekutif harus mengadvokasi kebijakan kebencanaan yang pro-rakyat dan berbasis ilmiah.
¡ Pendanaan Inovatif Berbasis Keumatan: Optimalkan zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf (ZISWAF) untuk membentuk Dana Abadi Siaga Bencana. Kembangkan skema asuransi syariah untuk kelompok rentan.
¡ Partisipasi Aktif Seluruh Otonom: Setiap elemen Muhammadiyah, sesuai kapasitasnya, harus bergerak dalam satu komando sinergis.
Kesimpulan: Menuju Sumatera yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Membangun ketangguhan Sumatera adalah proyek besar mewujudkan âBaldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafurâ (Negeri yang baik dan diberi ampunan Allah – QS Sabaâ: 15). Sinergi Pentahelix yang dijiwai nilai-nilai Islam Berkemajuan akan mengubah kerentanan menjadi ketangguhan, mengubah risiko menjadi peluang membangun peradaban yang lebih adil, maju, dan berkelanjutan. Melalui gerak bersama yang terorganisir, penuh ilmu, dan dilandasi keikhlasan, Muhammadiyah siap menjadi bagian terdepan dalam gelombang aksi kemanusiaan untuk mengatasi gelombang bencana di Bumi Sumatera. Selamatkan satu nyawa, berarti menyelamatkan seluruh umat manusia.




