Artikel

Rajab : Bulan Suci Yang Terlupakan, Gerbang Menuju Ramadhan (Perspektif Muhammadiyah)

📅 Selasa, 13 Mei 2026 | 25 Zulkaidah 1447 H

Rajab : Bulan Suci Yang Terlupakan, Gerbang Menuju Ramadhan (Perspektif Muhammadiyah)

Oleh : Legiman, S.Pd., M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Ketua Umum PCPM Cawas)

Pendahuluan

Bulan Rajab, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, merupakan salah satu dari asyhurul hurum (bulan-bulan suci) yang Allah muliakan dalam firman-Nya (QS. At-Taubah: 36). Namun, dalam kesibukan kehidupan, seringkali Rajab hanya menjadi penanda waktu, berlalu tanpa makna signifikan sebelum masyarakat bersiap menyambut Ramadan. Melalui sudut pandang yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah shahihah, tulisan ini akan mengulas hakikat dan semangat Rajab yang sejalan dengan prinsip “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah” (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah).

Kedudukan Istimewa: Momentum Refleksi dan Penguatan Tauhid

Sebagai bulan haram, Rajab mengandung pesan moral universal: larangan untuk menzalimi diri sendiri dan orang lain. Muhammadiyah menekankan bahwa kemuliaan Rajab bukan terletak pada ritual-ritual khusus yang tidak berdasar, tetapi pada peningkatan ketakwaan dan penghindaran maksiat. Dalam konteks kekinian, momentum ini harus dimaknai sebagai periode untuk menguatkan komitmen tauhid, meneguhkan etika sosial, dan menjauhi segala bentuk kezaliman, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Keutamaan beramal saleh di bulan ini adalah konsekuensi logis dari nilai kesuciannya, sebagaimana keutamaan amal di tanah haram (Makkah), bukan karena adanya pahala khusus yang secara tekstual disebutkan untuk amalan tertentu di bulan Rajab.

Peristiwa Isra’ Mi’raj: Substansi, bukan Ritual Perayaan

Muhammadiyah, berdasarkan penelitian tarikh yang cermat, memandang bahwa penetapan tanggal 27 Rajab sebagai waktu pasti Isra’ Mi’raj tidak memiliki dasar dalil yang kuat (qath’i). Oleh karena itu, organisasi ini tidak mengadakan atau menganjurkan perayaan khusus pada tanggal tersebut. Penekanan utama diletakkan pada substansi peristiwa itu sendiri: sebuah mukjizat besar yang menegaskan kekuasaan Allah, ujian keimanan, dan hadiah teragung berupa kewajiban shalat lima waktu.

Peringatan Isra’ Mi’raj hendaknya diwujudkan dalam bentuk penguatan pemahaman akidah, peningkatan kualitas dan kekhusyukan shalat, serta peneladanan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban, bukan sekadar pada upacara seremonial. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah mengajak umat untuk menghayati makna perjalanan spiritual tersebut melalui pengajian, kajian tafsir, dan dialog keilmuan yang mencerahkan.

Amalan Utama: Keumuman Ibadah, bukan Kekhususan Ritual

Muhammadiyah menuntunkan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang menyatakan keutamaan khusus untuk puasa atau shalat malam di seluruh atau sebagian hari tertentu di bulan Rajab. Amalan yang dianjurkan adalah amalan sunnah yang berlaku di semua waktu, seperti:

· Puasa Sunnah: Puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, atau puasa sunnah mutlak tanpa mengkaitkan dengan Rajab. Adapun puasa khusus di tanggal 27 Rajab secara tersendiri tidak diajarkan Rasulullah SAW.
· Peningkatan Ibadah Rutin: Meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat wajib, shalat malam (Tahajud), sedekah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar serta dzikir. Semua ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan mental dan spiritual menuju Ramadan, bukan karena Rajab memiliki keutamaan ritual khusus.
· Persiapan Ilmu: Rajab adalah waktu yang tepat untuk mempelajari fiqh puasa, zakat, dan ibadah Ramadan lainnya, sehingga Ramadan dapat dijalani dengan pemahaman yang benar.

Filosofi Persiapan: Rajab sebagai Peringatan Awal

Istilah “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban menyiram, dan Ramadan memanen” adalah sebuah pesan moral (hikmah) yang indah untuk memotivasi peningkatan ibadah, bukan hadits Nabi. Muhammadiyah memandangnya sebagai ungkapan hikmah yang menggambarkan kesinambungan amal. Rajab berfungsi sebagai peringatan awal (early warning) bagi kaum beriman untuk mulai menyiapkan diri, membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya, dan membiasakan diri dengan amalan-amalan baik, sehingga memasuki Ramadan dalam kondisi yang prima.

Koreksi atas Tradisi: Menjauhi Bid’ah dan Mengokohkan Tauhid

Inilah poin sentral dalam pandangan Muhammadiyah mengenai Rajab. Organisasi ini dengan tegas mengingatkan umat untuk menjauhi berbagai praktik yang tidak memiliki tuntunan yang sah dari Rasulullah SAW, seperti:

· Shalat khusus Ragha’ib di malam Jumat pertama Rajab.
· Peringatan Isra’ Mi’raj dengan acara-acara yang bersifat festifal dan ritus tertentu.
· Puasa atau doa-doa yang dikhususkan hanya untuk bulan Rajab dengan keyakinan adanya pahala khusus yang telah ditetapkan.
· Ziarah kubur secara massal khusus di bulan Rajab dengan keyakinan tertentu.

Semua praktik di atas dianggap bid’ah dhalalah (inovasi yang sesat) karena tidak berdasar pada dalil yang kuat dan justru dapat mengaburkan kemurnian ajaran Islam. Muhammadiyah mengajak umat untuk mengisi Rajab dengan amalan-amalan yang bersifat substantif dan berdampak sosial, seperti meningkatkan silaturahim, memediasi konflik (mengingat ia bulan haram), dan menyantuni kaum dhuafa.

Penutup

Bulan Rajab adalah anugerah waktu yang diberikan Allah sebagai kesempatan untuk bernafas sejenak dari kesibukan dunia, merenung, dan mulai berlari-lari kecil menuju garis start Ramadan. Sudut pandang Muhammadiyah mengajak kita untuk memuliakannya bukan dengan menciptakan ritual baru, tetapi dengan mengintensifkan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan, membersihkan hati, dan membekali diri dengan ilmu. Dengan demikian, Rajab benar-benar berfungsi sebagai gerbang spiritual yang mengantarkan kita ke bulan suci Ramadan dalam keadaan siap lahir dan batin, penuh dengan semangat untuk menggapai ridha Ilahi melalui ibadah yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Marilah kita isi Rajab dengan tadarus Al-Qur’an, puasa sunnah, dan amal saleh, sebagai persiapan terbaik untuk menyambut tamu agung, Ramadan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button