
Masalah Sehari-hari yang Sering Dihadapi
Di era keterbukaan informasi ini, kita kerap menemukan konten dari misionaris agama tertentu atau kritikus Islam yang berusaha menyudutkan Al-Qur’an. Salah satu klaim populer yang sering diangkat adalah bahwa Al-Qur’an dianggap tidak saintifik karena secara terjemahan menyebutkan bahwa bulan memiliki cahayanya sendiri. Padahal, observasi sains modern telah membuktikan bahwa cahaya bulan hanyalah pantulan dari sinar matahari. Tuduhan ini sering kali membuat sebagian umat Islam yang kurang memahami bahasa Arab merasa bingung atau ragu.
Dalil Al-Qur’an yang Menjadi Perhatian
Ada beberapa ayat yang sering dijadikan sasaran kritik karena terjemahannya, antara lain:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar (dhiya’a) dan bulan bercahaya (nur)…” (QS. Yunus: 5)
وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا
“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya (nur) dan menjadikan matahari sebagai pelita (siraj).” (QS. Nuh: 16)
تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا
Selain itu, dalam QS. Al-Furqan: 61, matahari dan bulan juga disandingkan dengan penyebutan matahari sebagai pelita (siraj) dan bulan yang bercahaya (munira).
Analisis Linguistik: Mengungkap Keindahan dan Presisi Diksi
Bagi mereka yang memahami keindahan bahasa Arab, isu ini justru menjadi bukti mukjizat (i’jaz) Al-Qur’an. Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada lantunan suaranya, melainkan pada presisi atau ketepatan mutlak dalam pemilihan setiap kata.
Dalam Al-Qur’an, kata bulan (qamar) disebutkan sebanyak 27 kali, sedangkan matahari (syamsun) 33 kali. Menariknya, keduanya acap kali disebutkan bergandengan namun dengan sifat cahaya yang selalu dibedakan secara konsisten:
- Sifat Cahaya Matahari: Selalu menggunakan kata Dhiya’a, Siraj, atau Wahhaja.
وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا Contohnya dalam QS. An-Naba: 13, “dan Kami jadikan pelita (siraaja) yang amat terang (yakni matahari).” Menurut kamus Al-Ma’aniy dan Hans Wehr, kata-kata ini merujuk pada obor, pelita yang membakar, menyala, dan memancarkan cahayanya sendiri dari api yang bergejolak. - Sifat Cahaya Bulan: Selalu menggunakan kata Nur dan Munira.
Penjelasan Sederhana: Dhiya’ vs Nur
Dalam Qamus Al-Quran, Raghib Al-Asfahani menjelaskan bahwa kata dhiya’a bermakna api yang menyemburkan percikan sehingga memancarkan cahaya kepada yang lain.
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ
Kitab suci Taurat dalam QS. Al-Anbiya: 48 juga disebut Dhiya’a karena sifatnya memberikan penerangan aktif bagi pembacanya.
Di sisi lain, Muhammad Fuad Abdul Baqi dan pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis mempertegas perbedaannya. Jika dhiya’a adalah pancaran dari sumber yang bersinar sendiri, maka nur adalah pancaran cahaya yang bersumber dari sesuatu yang lain (pantulan) yang menyebabkan mata dapat melihat objek tersebut. Hal ini sejalan dengan tafsir Imam Al-Baidhawi pada ayat ke-5 Surat Yunus, yang menyatakan: “Allah memberikan pengetahuan kepada kita, bahwasanya matahari bersinar dengan dirinya sendiri, sementara bulan bersinar karena menerima pantulan sinar matahari dan menyerapnya.”
Contoh Kasus Nyata di Sekitar Kita
Bayangkan Anda sedang membaca buku di malam hari di bawah sorotan lampu belajar. Cahaya yang keluar dari bohlam lampu tersebut adalah “dhiya’a” karena lampu itu sendiri yang memproduksi terang. Saat cahaya itu mengenai lembaran kertas putih buku Anda hingga tampak silau terang benderang, pantulan cahaya pada kertas itulah yang disebut “nur”. Kertas tidak menghasilkan cahayanya sendiri, ia hanya memantulkan dhiya’a dari lampu. Inilah wujud nyata kutukan bagi mereka yang memahami kitab suci hanya dari permukaan terjemahan tanpa melihat teks aslinya.
Tindakan Praktis yang Bisa Dilakukan
Agar kita tidak mudah terkecoh oleh klaim keliru yang menyerang Islam, ada beberapa langkah yang bisa kita terapkan:
- Biasakan Membaca Tafsir: Jangan berhenti hanya pada membaca terjemahan Al-Qur’an; luangkan waktu untuk membaca tafsir dari para ulama muktabar.
- Tabayyun (Klarifikasi): Jika menemukan klaim miring tentang Islam di media sosial, jangan langsung percaya. Cari tahu penjelasannya dari ustaz atau sumber literatur Islam yang terpercaya.
- Kenali Dasar Bahasa Arab: Mempelajari kosakata dasar Al-Qur’an akan sangat membantu memahami kedalaman makna yang sering hilang dalam terjemahan.
- Gunakan Akal dan Iman Secara Bersamaan: Yakinlah bahwa firman Allah sebagai Pencipta alam semesta tidak akan pernah bertentangan dengan fakta sains yang mutlak.
Pertanyaan Refleksi Diri
Sudah sejauh mana kita berusaha menggali makna Al-Qur’an? Apakah selama ini kita hanya membaca terjemahannya tanpa mencoba memahami keindahan dan mukjizat luar biasa dari pemilihan setiap kata yang Allah turunkan?
Ajakan Beramal (Tantangan 7 Hari)
Mari kita mulai kebiasaan baru! Selama 7 hari ke depan, setiap kali selesai membaca satu halaman Al-Qur’an, pilihlah minimal satu ayat untuk dibaca tafsirnya (misalnya dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Misbah, atau referensi bahasa). Rasakan bagaimana kedalaman makna bahasa Al-Qur’an akan semakin menguatkan keimanan kita.




