Pengajian Ahad Pon PCM Kalibening, Ustaz Mintaraga Tekankan Keteladanan Keluarga dan Kesalehan Sosial

Pengajian rutin tersebut dihadiri sekitar 3.000 hingga 4.000 jemaah. Antusiasme warga tampak sejak awal kegiatan hingga tausiyah utama yang disampaikan Pembina Ma’had Fastabiqul Khoirot Purwokerto, Ustaz H. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A.
Mengangkat tema “Hidup Seimbang: Berikhtiar Dunia, Berbekal untuk Akhirat”, Ustaz Mintaraga mengajak jemaah memahami bahwa keberhasilan hidup seorang muslim tidak semata-mata diukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari ketenangan hati, keteladanan dalam keluarga, serta kepedulian kepada sesama.
“Islam hadir untuk memindahkan manusia dari kegelapan menuju cahaya,” terang Ustaz Mintaraga dalam tausiyahnya.
Menurutnya, kegelapan atau dhulumat menggambarkan kondisi ketika manusia kehilangan petunjuk sehingga mudah berbuat zalim, menghalalkan berbagai cara dan mengabaikan hak orang lain demi kepentingan pribadi.
Sebaliknya, cahaya atau nur merupakan simbol petunjuk Islam yang membuat manusia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Ia juga mengajak jemaah memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT, termasuk kesuburan tanah, kekayaan laut dan sumber daya alam Indonesia. Nikmat tersebut, kata dia, harus dikelola secara bijaksana dan tidak boleh menjadi alasan munculnya keserakahan.
Keluarga Harus Menjadi Sumber Ketenteraman
Salah satu pesan penting yang disampaikan Ustaz Mintaraga adalah pentingnya menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya ketenteraman, ibadah dan keteladanan.
Di tengah perkembangan teknologi digital, ia mengingatkan bahwa kehadiran fisik anggota keluarga belum tentu menjamin terbangunnya komunikasi yang berkualitas. Tidak sedikit keluarga yang secara fisik berkumpul di satu rumah, tetapi masing-masing justru sibuk dengan layar telepon genggam.
Karena itu, komunikasi yang hangat antara suami, istri dan anak perlu dihidupkan kembali.
“Rumah jangan hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi harus menjadi tempat menghidupkan ibadah, membaca Al-Qur’an dan membangun kasih sayang keluarga,” pesannya.
Ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW agar rumah tidak dijadikan seperti kuburan. Rumah yang di dalamnya dihidupkan dengan bacaan Al-Qur’an dan ibadah akan menjadi tempat yang membawa keberkahan bagi penghuninya.
Dalam kehidupan rumah tangga, Ustaz Mintaraga juga mengingatkan tanggung jawab besar seorang suami terhadap keluarganya. Pernikahan merupakan miitsaaqan ghalizhan, sebuah perjanjian yang kuat sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nisa ayat 21.
Karena itu, kepemimpinan dalam keluarga bukan sekadar persoalan hak, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa doa memperoleh hasanah fid-dunya wa fil-akhirah menunjukkan pentingnya keseimbangan kehidupan seorang muslim.
Kebaikan dunia tidak hanya berupa harta yang melimpah. Kesehatan, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, serta rumah yang memberikan ketenteraman juga merupakan bagian dari hasanah fid-dunya.
Rumah yang lapang, menurutnya, tidak selalu berarti bangunan yang besar. Kelapangan juga dapat bermakna hati yang tenteram, penuh syukur dan tidak mudah mengeluh.
Sementara itu, hasanah fil-akhirah merupakan tujuan akhir kehidupan, yakni keselamatan di Padang Mahsyar, kemudahan dalam hisab dan memperoleh surga Allah SWT.
“Jangan hanya sibuk mengejar kehidupan dunia sampai lupa menyiapkan bekal untuk akhirat,” tegasnya.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, Ustaz Mintaraga menegaskan bahwa Islam tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diilmui, diamalkan dan diperjuangkan secara terorganisasi.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan semangat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang dinamis dan progresif.
Dakwah Muhammadiyah, menurutnya, setidaknya harus menghadirkan tiga orientasi, yakni menggembirakan, mencerahkan dan memakmurkan.
Menggembirakan berarti dakwah harus mampu merangkul masyarakat dan menghadirkan ketenangan. Mencerahkan berarti membuka pikiran dan hati melalui tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan memakmurkan berarti menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Jangan sampai dakwah membuat orang menjauh. Dakwah harus menggembirakan, mencerahkan dan akhirnya memakmurkan,” ujarnya.
Lebih jauh, Ustaz Mintaraga menekankan bahwa masyarakat utama tidak mungkin terbentuk tanpa keluarga-keluarga yang baik.
Karena itu, penguatan komunitas menjadi penting. Ia mendorong dihidupkannya kembali Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ) dengan basis komunitas kecil di lingkungan warga.
Menurutnya, kelompok-kelompok kecil di masyarakat dapat menjadi ruang untuk saling membantu, belajar dan menguatkan. Mulai dari belajar merawat jenazah, membantu tetangga yang terkena musibah hingga bergotong royong memenuhi kebutuhan warga yang sedang mengalami kesulitan.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak ibadah muta’addiyah, yakni amal ibadah yang manfaatnya dirasakan orang lain, seperti sedekah dan membantu meringankan beban sesama.
“Kesalehan jangan berhenti pada kesalehan pribadi. Orang yang baik adalah orang yang kebaikannya juga dirasakan oleh orang lain,” tuturnya.
Untuk membangun masyarakat utama, ia menyebut tiga pilar yang perlu diperkuat, yakni Education (pendidikan), Environment (lingkungan), dan Experience (pengalaman).

Pesan Kerukunan dan Kepedulian Sosial
Sebelum tausiyah utama, Ketua PCM Kalibening H. Hidayanto mengajak warga menjaga kerukunan dan ukhuwah Islamiyah. Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar mencari rezeki dunia dan mempersiapkan bekal akhirat.
Sementara itu, Camat Kalibening Agus Purnomo, S.H., mengapresiasi kondusivitas dan kerukunan masyarakat di wilayahnya. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan sejumlah imbauan, mulai dari kewaspadaan terhadap judi online, penghematan air selama musim kemarau, kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi hingga pembersihan saluran air untuk mengantisipasi banjir menjelang musim penghujan.
Perwakilan PDM Banjarnegara, H. Ali Mubasir, turut mengapresiasi pelaksanaan pengajian. Ia juga menyampaikan aksi sosial Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Banjarnegara dalam membantu warga terdampak kekeringan melalui penyaluran puluhan ribu liter air bersih, di antaranya ke Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja.
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara, H. Marno, mengingatkan jemaah bahwa ibadah ritual semestinya melahirkan dampak sosial. Salat, misalnya, tidak boleh berhenti pada gerakan fisik, tetapi harus membentuk pribadi yang jujur, peduli dan menghadirkan rahmat bagi lingkungan.
PCM Kalibening Sampaikan Laporan Keuangan
Dalam kegiatan tersebut, PCM Kalibening juga menyampaikan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada warga persyarikatan.
Bendahara PCM Kalibening Agus Budiyono memaparkan bahwa pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalibening mencatat pemasukan Rp1.084.235.000 dan pengeluaran Rp990.611.992, dengan saldo akhir pembangunan Rp93.723.078.
Untuk kas operasional PCM Kalibening, pemasukan tercatat Rp11.387.863 dan pengeluaran Rp6.857.233. Adapun saldo kas PCM yang dilaporkan mencapai Rp432.204.870.
Selain itu, dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dihimpun melalui KL Lazismu Kalibening mencapai Rp32.825.500.
Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan penampilan paduan suara, qariah cilik Hafizhah yang merupakan Juara I MTQ tingkat Kabupaten, serta khitobah dai cilik Ananda Hafizhah dengan tema “Membiasakan Hidup Jujur Anti-Korupsi.”
Kegiatan Pengajian Ahad Pon tersebut ditutup dengan semangat penggerak persyarikatan:
Muhammadiyah: Menggembirakan.
Cabang Kalibening–Pandanarum: Mencerahkan.
Ranting Karanganyar: Memakmurkan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa dakwah Muhammadiyah di tingkat ranting dan cabang tidak hanya diarahkan pada penguatan pemahaman keagamaan, tetapi juga pada pembentukan keluarga yang kokoh, masyarakat yang peduli dan kehidupan sosial yang semakin berkemajuan.
Oleh: Mister Kismadi, SE
Ketua Majelis Pustaka Informasi & LPCR Cabang Kalibening, KMM PDM Banjarnegara




