Jebakan Kesombongan dan Bahaya Merasa Hebat Sendiri dari Kisah Tragedi Qorun
Kisah Kaum dan Tokoh Ingkar

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Di era media sosial saat ini, kita sangat akrab dengan istilah flexing atau pamer harta. Memamerkan saldo rekening, mobil mewah, hingga gaya hidup liburan ke luar negeri seolah menjadi perlombaan. Banyak yang mengukur kesuksesan hidup murni dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit orang yang ketika mencapai kesuksesan tersebut merasa bahwa semuanya adalah murni hasil keringat, kepintaran, dan usahanya sendiri, tanpa ada campur tangan Tuhan.
Fenomena merasa hebat dan sombong atas harta ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun yang lalu, sejarah telah mencatat seorang tokoh yang menjadi simbol kekayaan sekaligus kesombongan abadi. Namanya bahkan kita gunakan hingga hari ini untuk menyebut harta temuan, yaitu “Harta Karun”. Ya, tokoh tersebut adalah Qarun, seorang umat Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Qarun pada awalnya adalah manusia biasa. Namun, ketika Allah melimpahkan kekayaan yang luar biasa kepadanya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya saja sangat berat dipikul oleh sekelompok orang yang kuat, hatinya berubah. Kekayaan itu menutupi mata batinnya. Ketika ia dinasihati oleh kaumnya untuk bersyukur, untuk tidak berbuat kerusakan, dan untuk mengingat akhirat, Qarun justru membalasnya dengan ucapan yang sangat sombong.
Kesombongan Qarun ini diabadikan dengan jelas oleh Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 78:
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qasas: 78)
Pesan utama dari ayat ini sangatlah tajam. Kesalahan terbesar Qarun bukan semata-mata karena ia kaya raya. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya; banyak sahabat Nabi seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang sangat kaya, namun kekayaan mengantarkan mereka ke surga. Kesalahan fatal Qarun terletak pada kata-katanya: “Aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”
Ia menafikan peran Allah. Ia menghapus nama Sang Pemberi Rezeki dari kisah suksesnya. Kesombongan inilah yang kemudian mengundang bencana dahsyat, di mana Allah membenamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi.
Dalam kehidupan sehari-hari, “penyakit Qarun” ini bisa menjangkiti siapa saja dari kita, tanpa kita sadari. Bagi rekan-rekan pelajar atau pemuda; ketika kalian berhasil lulus dengan nilai terbaik, diterima di kampus favorit, atau mendapat pekerjaan bergaji tinggi, pernahkah terbesit di hati, “Ini kan karena aku pintar, karena aku rajin belajar siang malam”? Jika ya, berhati-hatilah, itu adalah percikan sifat Qarun.
Bagi para pedagang, pengusaha, atau pekerja; ketika omzet bisnis meroket dan karir melesat, lalu kita berkata, “Ini karena strategi marketing saya yang hebat,” dan melupakan bahwa Allah-lah yang menggerakkan hati pembeli, maka kita sedang meniti jalan kesombongan Qarun.
Harta, kecerdasan, dan jabatan hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja oleh Pemilik Sebenarnya. Jangan biarkan titipan itu membuat kita sombong dan merendahkan orang lain. Jadikanlah setiap nikmat sebagai sarana untuk lebih taat beribadah dan lebih banyak berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah.
Mari kita tundukkan hati, memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat sombong dan kufur nikmat.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan sekecil apa pun. Jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur. Jika Engkau titipkan harta dan kelebihan kepada kami, jadikanlah hal itu sebagai jalan untuk meraih keridhaan-Mu, bukan jalan kebinasaan kami. Lindungilah kami dari fitnah dunia yang menyesatkan.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Aqulu qawli hadza, wastaghfirullaha li walakum.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)



