K.H Sudja Pendiri Rumah Sakit Muhammadiyah

Masyhuda Darussalam,S.Pd, M.P.d (Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gunungpring )
Bayangkan sebuah ruangan rapat sederhana di Yogyakarta awal abad ke 20 di dalamnya para tokoh Muhammadiyah duduk bersila membicarakan masa depan umat, lalu seorang lelaki muda berdiri dengan suara tenang, namun penuh keyakinan beliau mengusulkan sesuatu yang terdengar mustahil “Kita perlu Rumah Sakit” bukan Rumah Sakit kecil, bukan Balai Pengobatan Darurat, tetapi Rumah Sakit Modern seperti milik orang-orang Belanda untuk kaum miskin, untuk mereka yang tidak pernah punya akses kesehatan. Ruangan itu menjadi hening dan peluh pecah menjadi penuh tawa, ide itu dianggap terlalu tinggi, terlalu berani, terlalu nekat untuk sebuah organisasi pribumi di bawah bayang-bayang kolonialisme. Namun, sejarah mencatat bahwa tawa itu tidak pernah menghentikan langkahnya. Namanya Kyai Haji Sudja dan ide yang ditertawakan kala itu hari ini menjelma menjadi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah terbesar di Indonesia.
Pada akhir dekade 1910-an Muhammadiyah masih dikenal sebagai gerakan dakwah dan pendidikan. Sekolah-sekolah mulai berdiri, pengajian berkembang, namun satu persoalan besar menghantui umat yaitu kesehatan. Di masa kolonial Belanda Rumah Sakit Modern hanya diperuntukkan bagi orang Eropa dan Kaum Elit. Rakyat Pribumi, terutama yang miskin hanya mengandalkan dukun, pengobatan tradisional atau pasrah kepada nasib. Kyai Haji Sudja murid langsung Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah melihat hal ini sebagai ketidakadilan struktural terinspirasi tafsir surat Al Ma’un yang diajarkan gurunya yaitu Kyai Haji Ahmad Dahlan. Kyai Haji Sudja memahami bahwa ibadah tanpa keberpihakkan kepada kaum lemah adalah kebohongan spiritual. Dalam sebuah rapat pimpinan Muhammadiyah sekitar tahun 1919 atau tahun 1920 saat ditanya tentang bangunan dan amal usaha Kyai Haji Sudja menyampaikan gagasannya. Rumah Sakit Miskin, Panti Asuhan dan Rumah Sakit untuk kaum Dhuafa banyak yang tertawa. Bukan karena benci tetapi karena merasa ide itu terlalu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin organisasi pribumi tanpa sokongan Kolonial membangun sebuah Rumah Sakit. Namun, Kyai Haji Sudja tidak pernah mundur. Beliau tidak berdebat panjang tetapi beliau bekerja.
Pada tahun 1920 dalam rapat umum terbuka Muhammadiyah tepatnya pada tanggal 17 Juni 1920 lahirlah keputusan penting didirikan bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO dan Kyai Haji Sudja ditunjuk langsung sebagai ketua pertamanya oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. PKO bukan sekedar program, ini adalah revolusi cara beragama, di bawah kepemimpinan Kyai Haji Sudja PKO pekerja secara sistematis membentuk komite sosial, menggalang infak dan wakaf dan mengorganisasi relawan, melibatkan kelompok perempuan seperti Sopo Tresno, hasilnya nyata. Pada 15 Februari 1923 berdirilah Klinik PKO pertama di kampung Jagang Notoprajan Jogjakarta bangunannya sederhana peralatan yang terbatas namun semangatnya luar biasa. Klinik ini melayani pasien miskin tanpa bayaran di muka tanpa membedakan agama atau latar belakangnya. Inilah cikal bakal Rumah Sakit PKO Muhammadiyah Yogyakarta. Rumah Sakit Muhammadiyah pertama di Indonesia dan sampai hari ini terus melayani umat.
Tidak semua murid beruntung memiliki guru yang berani mempercayai Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah pengecualian. Ketika banyak yang meragukan beliau membenarkan, ketika ide ditertawakan beliau mengesahkan, ketika langkah terasa terlalu jauh beliau menguatkan. Meski tidak meninggalkan tulisan, jejak dukungan Kyai Haji Ahmad Dahlan sangat jelas menunjuk Kyai Haji Sudja sebagai ketua PKO yang pertama dan menjadikan PKO salah satu dari empat bagian utama Muhammadiyah pertama yang menegaskan misi PKO sebagai manifestasi Al Ma’un. Pidato – pidato beliau pada Kongres Islam Cirebon 1921 dan Kongres Muhammadiyah 1922 menekankan keberpihakan kepada kaum mustadh’afin adalah inti ajaran Islam tanpa dukungan moral dan struktural dari Kyai Haji Ahmad Dahlan ide dari Kyai Haji Sudja mungkin hanya akan menjadi mimpi.
Kyai Haji Sudja tidak pernah memandang Rumah Sakit sebagai ladang bisnis, baginya rumah sakit adalah tempat ibadah sosial, ruang pemuliaan martabat manusia dan praktek langsung dari surat Al Maun. Pesan beliau jelas layani semua orang tanpa diskriminasi, utamakan kaum duafa atau kaum lemah. jangan menjadikan untung rugi sebagai orientasi utama dalam mengelola Rumah Sakit. Kebijakan nyata yang beliau terapkan sejak 1923, pasien miskin dilayani tanpa bayaran di muka, pasien mampu diminta untuk kontribusi subsidi silang, obat dan makanan pasien miskin dibantu oleh komunitas Sopo Tresno, layanan terbuka bagi non muslim . Model ini menjadi DNA Rumah Sakit Muhammadiyah hingga hari ini. Layanan darurat gratis, subsidi pasien tidak mampu filantropi kesehatan dan pelayanan islam yang inklusif.
Apa yang dulu ditertawakan, kini menjadi penyelamatan jutaan nyawa. Hari ini Muhammadiyah mengelola lebih dari 120 Rumah Sakit, ratusan Klinik dan Balai Kesehatan, melayani jutaan pasien setiap tahun di seluruh Indonesia.Semua itu berawal dari satu ide, satu keberanian, dan satu keyakinan bahwa Iman harus menjelma menjadi sebuah tindakan nyata. Kyai Haji Sudja mengajarkan kita satu hal penting, “Jangan takut ditertawakan jika yang kau perjuangkan adalah kemanusiaan” karena sejarah tidak pernah mencatat siapa yang tertawa tetapi siapa yang mengubah dunia.



