AkhlaqArtikelTokoh
Trending

KH. Ahmad Dahlan: Manifestasi Nyata Sang Mujadid di Nusantara

Agus Miswanto, MA (Anggota DPS Lazismu Jateng, Dosen Prodi HES UNIMMA

 

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imron [3]:104)

Sosok KH. Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis), pendiri Muhammadiyah, merupakan ulama diakui secara luas oleh sejarawan dan ulama sebagai salah satu Mujadid paling berpengaruh di abad ke-20 di kawasan Nusantara, karena gerakannya memenuhi seluruh kriteria teologis dan sosiologis pembaruan Islam. Dan alasan pembaharuan di Indonesia paling tidak ada dua sebab yaitu, faktor praktek agama yang dirasakan banyak penyimpangan (inhiraf) seperti syirik, tahayul, bid’ah, khurafat. Disamping itu, ada persoalan fenomena kemrosotan sosial, ekonomi, dan politik  bagi umat Islam di Indoensia yang diakibatkan keterjajahan oleh kaum kolonial. Dan secara internal diri, KH Ahmad Dahlan memiliki dorongan teologis yang kuat dimana banyak ayat Alqur’an dan juga al-hadis yang memerintah untuk melakukan kerja tajdid itu. Diantaranya adalah QS Ali Imron ayat 104 dan 110.

إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Apabila seorang mujtahid berijtihad kemudia ijtihadnya benar maka dia memperoleh dua pahala, dan apabila berijtihad kemudian ijtihadnya salah maka dia memperoleh satu pahala. (Muttafaq ‘Alaih).

Ijtihad adalah mekanisme pembaruan berkelanjutan yang melintas zaman. Tanpa ijtihad maka persoalan umat tidak akan bisa diurai, dan akan semakin jauh dari bimbingan syariat. Ijtihad merupakan istrumen menghdupkan (ihya) syariat di tengah umat, dan sekaligus mengembalikan umat (i’adah) dalam dekapan hidayah Allah SWT. Dan dalam hadis lain, bahwa kiprah seorang mujtahid bagi kehidupan umat akan terus ada sampai akhir zaman.

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun seseorang yang memperbarui agamanya. (HR. Abu Dawud).

Memperbarua agama yang telah rusak karena terjabik oleh zaman merupakan tugas seorang ulama dalam setiap periode. Ulama adalah pewaris para nabi dalam ilmu syariat yang memahami persolan ushul dan furu, yang faham persoalan iman dan kufur. Kemampuan ilmu yang dimiliki oleh adalah furqan, kekuatan yang membedakan antara yang benar dan salah, antara haq dan bathil. Sehingga seorang ulama harus berperan sebagai mujadid untuk zamanya. Ini yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan.

A.     10 Karakter teladan yang Patut di Contoh

Dalam sejarah Islam Indonesia, KH. Ahmad Dahlan (1868–1923) bukan sekadar ulama, melainkan arsitek peradaban yang meletakkan dasar Islam modernis. Berikut adalah pembuktian karakteristik Mujadid dalam diri beliau:

1)      Pemahaman Mendalam terhadap Al-Qur’an dan Sunnah (Kapasitas Intelektual)

Seorang Mujadid harus memiliki kemampuan istinbath atau ijtihad dan pemahaman komprehensif dalam hukum Islam. Dan KH. Ahmad Dahlan adalah termasuk seorang ulama yang memiliki kemampuan yang dalam ilmu syariah. Hal ini dibuktikan dari sisi keilmuan yang beliau miliki. Kyai Dahlan tidak hanya belajar di pesantren tradisional Jawa, tetapi juga menimba ilmu di Makkah (Haramain) dan berguru pada ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Yang paling krusial, beliau berinteraksi dengan pemikiran pembaruan dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha melalui majalah Al-Manar. Dan Beliau tidak menelan mentah-mentah tafsir lama, melainkan menggali langsung dari Al-Qur’an dengan pendekatan yang segar (seperti pemaknaan ulang Surah Al-Ma’un).

2)      Menghidupkan Kembali Ajaran Islam yang Asli

Seorang mujadid mengembalikan umat kepada kemurnian tauhid dan ibadah. KH. Ahmad Dahlan memiliki slogan utama dakwahnya adalah “Ar-Ruju’ ila Al-Qur’an wa As-Sunnah” (Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah). Beliau melihat Islam di Jawa saat itu telah bercampur aduk dengan sinkretisme yang mengaburkan esensi ajaran Nabi. Dalam praktik dakwahnya, Beliau mengajarkan bahwa Islam itu sederhana, rasional, dan lurus, membebaskan umat dari belenggu taklid buta kepada pendapat ulama yang tidak berdasar dalil kuat.

3)      Membersihkan Agama dari TBC (Takhayyul, Bid‘ah, Churafat)

Seorang mujadid menghapus praktik menyimpang dan mistisisme yang tidak syar’i dalam kehidupan masyarakat. Dan ini  adalah sisi paling konfrontatif dari dakwah beliau KH. Ahmad Dahlan. Kyai Dahlan dengan tegas menentang praktik klenik, pemujaan kuburan keramat, dan tradisi kenduri yang memberatkan secara ekonomi namun dianggap sebagai ritual agama. Beliau meluruskan akidah masyarakat Kauman yang saat itu masih percaya pada kekuatan mistis benda-benda atau roh leluhur, menegaskan bahwa pertolongan hanya dari Allah (Tauhid murni).

4)      Menjawab Tantangan Zaman dengan Spirit Islam (Modernisasi)

Karakter seorang mujadid adalah memberi solusi kontemporer dan tidak anti-kemajuan. Kyai Dahlan adalah pelopor integrasi sistem pendidikan. Saat ulama lain mengharamkan sistem sekolah Belanda (karena dianggap tasyabbuh atau menyerupai orang kafir), Kyai Dahlan justru mengadopsinya. Beliau memasukkan pelajaran agama ke dalam sistem kelas, memakai papan tulis, meja, dan kursi. Beliau adalah inisiator Pendirian sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (1911) yang mengajarkan ilmu agama sekaligus ilmu umum (berhitung, ilmu bumi). Ini adalah ijtihad brilian untuk menyelamatkan umat dari kebodohan dan keterbelakangan.

5)      Keikhlasan dan Ketakwaan Tinggi

Karakter seorang mujadid adalah berjuang tanpa pamrih pribadi. Dan KH. Ahmad Dahlan adalah memberikan contoh bahwa seluruh harta dan jiwa beliau diwakafkan untuk perjuangan. Beliau bahkan melelang barang-barang rumah tangganya untuk membiayai sekolah Muhammadiyah dan menggaji guru. Pesan monumental beliau yang menjadi wasiat abadi: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Ini adalah manifestasi puncak dari keikhlasan seorang Mujadid.

6)      Wawasan Luas tentang Realitas Sosial (Teologi Al-Ma’un)

Karakter seorang mujadid mampu membaca problem sosial dan memberi solusi nyata. KH. Ahmad Dahlan, beliau tidak membiarkan Al-Qur’an hanya menjadi bacaan lisan. Melalui pengajaran Surah Al-Ma’un, beliau mengkritik murid-muridnya yang hafal ayat tetapi membiarkan kemiskinan di sekitar mereka. Beliau menerjemahkan ayat “pendusta agama” sebagai orang yang tidak mempedulikan anak yatim dan orang miskin. Ini melahirkan gerakan filantropi Islam modern pertama di Indonesia.

7)      Pengaruh Nyata dan Menggerakkan Perubahan (Institusionalisasi)

Karakter seorang mujadid adalah memiliki dampak signifikan dan mengubah keadaan kaum. KH. Ahmad Dahlan, beliau menyadari bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian (personal), tetapi harus melalui organisasi (jam’iyyah). Sehingga, beliau mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Organisasi ini tidak mati sepeninggal beliau, melainkan tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia yang mengelola ribuan sekolah, universitas, dan rumah sakit.

8)      Menjaga Sunnah dan Syariat (Kasus Arah Kiblat)

Karakter Seorang Mujadid  memiliki kemapuan untuk memelihara syariat dari kesalahan praktik. Salah satu gebrakan awal KH. Ahmad Dahlan adalah meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Berdasarkan ilmu falak (astronomi) yang beliau pelajari, masjid-masjid di Jawa saat itu menghadap lurus ke barat (Afrika), bukan ke arah Ka’bah (barat laut). Beliau mengubah garis shaf di langgar kidulnya agar presisi menghadap kiblat. Meski ditentang keras, ini membuktikan komitmennya pada akurasi pelaksanaan syariat.

9)      Memiliki Keberanian Moral (Moral Courage)

Karakter seorang mujadid adalah berani menyuarakan kebenaran walau berat dan ditentang. KH. Ahmad Dahlan dituduh sebagai “Kyai Kristen” atau “Kyai Kafir” karena memakai dasi, celana pantalon, dan meniru sistem sekolah Belanda. Langgar (musholla) miliknya bahkan pernah dirobohkan oleh massa yang dikerahkan oleh otoritas keagamaan tradisional saat itu. Sekalipun banyak hambatan, beliau tidak mundur. Setelah langgarnya dirobohkan, beliau sempat hendak pergi (hijrah), namun dibujuk kembali dan justru membangun kembali perjuangannya dengan lebih gigih.

10)  Menjaga Kemaslahatan (Penolong Kesengsaraan Oemoem)

Karakter mujtahid adalah ijtihad yang membawa rahmat dan manfaat umum. Tajdid Kyai Dahlan berorientasi pada amal usaha sosial (praksis). Beliau mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO)—cikal bakal PKU Muhammadiyah—untuk melayani kesehatan masyarakat tanpa memandang agama. Pendirian rumah sakit, panti asuhan, dan rumah miskin. Ini membuktikan bahwa Islam hadir untuk menjaga kemaslahatan hidup manusia, bukan hanya mengurusi kematian.

B.     Kesimpulan

Ahmad Dahlan adalah personifikasi seorang Mujadid dalam konteks Islam Nusantara. Beliau memadukan kedalaman ilmu agama (Poin 1), kemurnian akidah (Poin 2 & 3), dengan kecerdasan membaca zaman (Poin 4 & 6). Warisannya bukan hanya buku atau teori, melainkan amal usaha nyata yang masih dirasakan manfaatnya hingga lebih dari satu abad kemudian.

Agus Miswanto

Anggota Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jawa Tengah, dosen hukum Islam di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button