Artikel

Mengapa Karakter Lebih Utama dari Sekadar Nilai Akademik

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haq. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Di era modern yang serba kompetitif ini, kita dihadapkan pada sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan. Banyak orang tua, lembaga pendidikan, dan masyarakat yang menjadikan angka, nilai rapor, atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai satu-satunya tolak ukur kesuksesan seorang anak. Kita berlomba-lomba mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, namun sering kali abai dalam membentuk generasi yang cerdas secara emosional dan spiritual.

Akibatnya, hari ini kita tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak orang bergelar tinggi, namun sayangnya, tidak sedikit dari orang-orang pintar tersebut yang justru menggunakan kecerdasannya untuk menipu, korupsi, atau merendahkan orang lain. Fenomena ini muncul dari satu akar masalah yang sama: hilangnya prioritas “Adab sebelum Ilmu”.

Dalam tradisi keilmuan Islam, mempelajari adab dan akhlak adalah fondasi dasar yang harus dibangun sebelum seseorang mengisi akalnya dengan berbagai macam disiplin ilmu. Ulama-ulama terdahulu bahkan menghabiskan waktu lebih lama untuk mempelajari adab dibandingkan mempelajari ilmu fikih atau hadis. Mengapa demikian? Karena ilmu tanpa adab ibarat pedang tajam di tangan orang yang buta; ia bisa melukai siapa saja, termasuk dirinya sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus ke muka bumi ini dengan membawa misi utama yang bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan memperbaiki karakter manusia. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keshalihan akhlak (akhlak yang mulia).” (HR. Ahmad)

Pesan utama dari hadis ini sangatlah jelas dan praktis. Ilmu dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tujuannya adalah untuk membentuk manusia yang berkarakter, beradab, dan berakhlak mulia. Sehebat apa pun hafalan kita, setinggi apa pun nilai akademik kita, jika tidak tecermin dalam perilaku yang santun, kejujuran, dan rasa hormat kepada sesama, maka ilmu tersebut belumlah memberikan keberkahan.

Mari kita lihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi rekan-rekan pelajar dan mahasiswa, bayangkan ada seorang siswa yang nilai matematikanya selalu seratus, juara kelas, dan selalu memenangkan olimpiade. Namun, saat di rumah, ia membentak ibunya, tidak menghargai gurunya di sekolah, dan meremehkan teman-temannya yang kurang pintar. Di sisi lain, ada seorang siswa yang nilainya rata-rata, namun ia sangat hormat pada gurunya, jujur saat ujian (tidak menyontek), dan ringan tangan membantu temannya. Siapakah yang hakikatnya lebih sukses? Tentu saja yang kedua. Ilmu siswa pertama hanya sampai di kertas, sementara ilmu siswa kedua telah mendarah daging menjadi karakter.

Bagi para orang tua; contoh ini menjadi pengingat bagi kita. Jangan sampai kita marah besar ketika anak kita mendapat nilai merah di sekolah, namun kita diam saja ketika anak kita berbohong, meninggalkan shalat, atau berbicara kasar kepada orang tua. Mari kita ubah cara pandang kita. Nilai akademik memang penting untuk masa depan, tetapi akhlak mulialah yang akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Ilmu itu membuat kita pintar, tetapi adablah yang membuat kita dihargai. Orang yang beradab sudah pasti bisa mencari ilmu, tetapi orang yang berilmu belum tentu memiliki adab. Oleh karena itu, mari kita jadikan adab dan akhlak mulia sebagai mahkota dalam kehidupan kita dan anak-anak kita.

Mari kita tutup majelis yang insyaallah penuh barakah ini dengan doa, memohon kepada Allah agar kita dikaruniai akhlak yang mulia.

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa fisik kami, maka baguskanlah pula akhlak kami. Karuniakanlah kepada kami dan generasi penerus kami kelembutan hati, keluhuran budi, dan adab yang baik. Jadikanlah ilmu yang kami pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, yang menuntun kami pada ketawadhuan, bukan pada kesombongan.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button