ArtikelOrganisasiTuntunan

Dakwah yang Menggembirakan

Oleh : Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag ( Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng)

Pendahuluan

Dakwah adalah mengajak umat kepada kebaikan. Agar ajakan berhasil maka gembira dan menggembirakan mutlak perlu dikedepankan, bukan menakut-nakuti sehingga orang memilih lari menjauh.

Suatu ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang anak kecil yang sedang bermain. Beliau mendekatinya sambil tersenyum, lalu memanggil dengan panggilan sayang:

يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

“Wahai Abu ‘Umair, bagaimana kabar burung kecilmu?”(HR Bukhari)

Nabi ﷺ bercanda dengan anak kecil bernama Abu ‘Umair tentang burung peliharaannya. Ini adalah dakwah yang menyenangkan. Beliau masuk ke hati anak-anak dengan humor dan kelembutan. Anak-anak merasa dihargai, sehingga cinta kepada Islam bisa ditumbuhkan sejak dini.

Selain itu, sahabat Nabi bernama Mus‘ab bin ‘Umair رضي الله عنه diutus Nabi ke Madinah untuk berdakwah. Ia tidak memulai dengan ancaman, melainkan dengan bacaan Al-Qur’an yang indah dan wajah cerah penuh senyum.

Ketika Sa‘d bin Mu‘adz datang dengan marah, Mus‘ab berkata dengan tenang:

“Duduklah, dengarkan dulu apa yang aku sampaikan. Jika engkau suka, terimalah. Jika tidak, aku akan berhenti.” Sa‘d pun duduk, mendengar bacaan Qur’an, lalu hatinya luluh dan akhirnya masuk Islam. Metode Mus‘ab adalah menyenangkan dan memberi pilihan, bukan memaksa. Dengan cara ini, dakwah terasa ringan dan penuh harapan.

Dakwah dengan Senyum dan Kelembutan

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

(HR. الترمذي)

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Senyum adalah ibadah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Dengan senyum, dakwah menjadi lebih menyenangkan dan membuka hati orang lain. Bahkan bukan hanya dai yang erlu murah senyum, banyak profesi lain yang juga mutlak memerlukan murah senyum.

Imam al-Ghazali pernah mneyatakan :

إِنَّ الْقُلُوبَ تَمِيلُ إِلَى اللِّينِ، فَمَنْ دَعَا بِاللِّينِ كَانَ أَقْرَبَ إِلَى الْقَبُولِ مِنَ الْقَسْوَةِ

“Hati manusia cenderung kepada kelembutan. Dakwah dengan kelembutan lebih mudah diterima daripada dengan kekerasan.”

Jadi perlu dingat para pendakwah, kelembutan adalah kunci. Orang lebih mudah menerima pesan kebaikan bila disampaikan dengan bahasa yang lembut dan menyejukkan.

Terkait dengan dakwah yang menggembirakan, Rasulullah SAW memberi petunjuk :

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

(متفق عليه)

“Permudahlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.”       ( Mutatfaq ‘alaih)

Prinsip ini menegaskan bahwa dakwah harus memberi harapan sekaligus motivasi. Jika hanya menakut-nakuti, orang bisa menjauh dan tidak simpati. Tetapi bila disertai kabar gembira, orang akan mendekat dengan sukarela.

Para dai senior berpesan:

أَقْوَى الدَّعْوَةِ هِيَ الدَّعْوَةُ بِالْخُلُقِ، فَإِنَّ الْخُلُقَ لُغَةٌ عَالَمِيَّةٌ يَفْهَمُهَا الْجَمِيعُ

“Dakwah yang paling kuat adalah dakwah dengan akhlak, karena akhlak adalah bahasa universal.”

Dakwah tidak harus di mimbar. Ia bisa hadir di rumah dengan kasih sayang, di kampus dengan integritas, dan di masyarakat dengan kepedulian. Akhlak adalah dakwah yang paling nyata di masyarakat.

Kita juga harus sadar, dakwah sebagai cahaya yang menyinari dnegan terang namun lembut, bukan api yang panas dan membakar

Allah berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ

(QS. النور: 35)

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, di dalamnya ada pelita besar…”

Dakwah adalah bagian dari cahaya Allah. Seorang da’i harus menjadi pelita yang menuntun, bukan api yang membakar. Dakwah yang menggembirakan akan menuntun manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.  Dakwah yang menggembirakan adalah dakwah yang menghadirkan manfaat nyata. Dengan senyum, kelembutan, dan akhlak, kita bisa menjadi cahaya bagi sesama.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button