
Luka di Hati Kaum Beriman
Belakangan ini muncul sebuah isu yang membuat hati kaum muslimin terluka: adanya konten atau challenge yang mengaitkan botol minuman keras dengan ayat-ayat Al-Qur’an, seolah Al-Qur’an dapat dijadikan alat tukar, gimmick, atau bagian dari sensasi media sosial dan promosi.
Sebagai seorang muslim, terlebih aktivis dakwah, rasa marah dan cemburu terhadap kehormatan Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajar, bahkan merupakan tanda adanya iman. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar tulisan atau simbol; ia adalah kalamullah, firman Allah yang Mahamulia.
Allah berfirman,
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta alam.” (QS. Al-Waqi‘ah: 77–80)
Ayat ini menunjukkan betapa agung dan mulianya Al-Qur’an. Maka tidak pantas ia ditempatkan dalam konteks yang merendahkan, mencampurkannya dengan simbol-simbol kemaksiatan, apalagi minuman keras yang jelas diharamkan Allah.
Mengolok-olok Agama adalah Kekufuran
Allah telah menegaskan dengan sangat keras tentang orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan, ejekan, atau olok-olokan.
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)
Ayat ini turun tentang orang-orang yang mengucapkan kata-kata merendahkan terhadap Nabi ﷺ dan para sahabat. Ketika mereka berdalih hanya bercanda, Allah tidak menerima alasan tersebut.
Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata,
وهذه الآية الكريمة نصٌّ في أن من هزل بشيء فيه ذكر الله أو القرآن أو الرسول فهو كافر
“Ayat yang mulia ini merupakan nash yang tegas bahwa siapa saja yang bercanda atau mengolok sesuatu yang di dalamnya terdapat penyebutan Allah, Al-Qur’an, atau Rasul, maka ia kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. At-Taubah: 65–66)
Maka menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai bahan sensasi, candaan, atau gimmick yang merendahkan kehormatannya termasuk perkara yang sangat berbahaya.
Bercanda dalam Perkara Agama Tidak Dibenarkan
Sebagian orang mungkin berkata, “Itu hanya konten,” “Hanya challenge,” atau “Hanya kreativitas media sosial.”
Jawabannya, syariat tidak membolehkan menjadikan agama sebagai bahan permainan.
Allah berfirman,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan berkata: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’” (QS. At-Taubah: 65)
Lihatlah, alasan “cuma bercanda” sudah ada sejak zaman Nabi ﷺ, dan Allah membantahnya dengan vonis yang sangat keras.
Al-Qur’an Tidak Boleh Dihina dengan Cara Apa Pun
Para ulama menjelaskan bahwa penghinaan terhadap Al-Qur’an tidak terbatas pada ucapan langsung seperti mencaci mushaf. Segala bentuk perendahan, pelecehan, atau penempatan Al-Qur’an pada konteks yang merusak pengagungannya termasuk dosa besar yang sangat berat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
فإن الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفر يكفر به صاحبه بعد إيمانه
“Sesungguhnya mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir setelah sebelumnya beriman.” (Ash-Sharim al-Maslul, hlm. 524)
Perhatikan, yang disebut adalah ayat-ayat Allah. Maka kehormatan Al-Qur’an wajib dijaga dengan penuh pengagungan.
Ghirah (Cemburu) terhadap Agama adalah Tanda Keimanan
Seorang muslim tidak boleh mati rasa ketika syariat Allah dinistakan. Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah memiliki ghirah (kecemburuan), dan seorang mukmin juga memiliki ghirah. Ghirah Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5223 dan Muslim no. 2761)
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa ghirah seorang mukmin adalah ketidaksukaannya ketika batasan-batasan Allah dilanggar.
Maka ketika Al-Qur’an direndahkan, seorang mukmin seharusnya merasa sedih, marah karena Allah, dan terdorong membela kehormatan agama.
Bukan justru ikut menyebarkan, menertawakan, atau menganggapnya biasa.
Antara Ghirah dan Kebijaksanaan
Namun perlu diingat, ghirah tidak boleh berubah menjadi kezaliman. Kita membela agama dengan ilmu, hujjah, dan adab syar‘i, bukan dengan cacian, fitnah, atau tindakan yang melanggar syariat.
Allah berfirman,
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Kita boleh tegas, tetapi tetap terikat dengan aturan Allah.
Sikap yang Seharusnya Diambil
- Menghadapi fenomena semacam ini, kaum muslimin hendaknya:
- Mengingkari dengan hati dan lisan sesuai kemampuan.
- Tidak ikut menyebarkan konten yang merendahkan Al-Qur’an.
- Memberi edukasi tentang kemuliaan Al-Qur’an.
- Menuntut klarifikasi dan penghentian jika benar ada unsur pelecehan.
- Mendoakan hidayah bagi pelaku agar bertaubat kepada Allah.
Penutup: Jangan Sampai Hati Kehilangan Kepekaan
Saudaraku, bahaya terbesar bukan hanya munculnya konten yang merendahkan agama. Bahaya terbesar adalah ketika umat sudah tidak lagi merasa sakit melihat kehormatan Al-Qur’an dinodai.
Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه berkata,
المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه
“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang khawatir gunung itu akan menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)
Maka bagaimana lagi jika yang diremehkan bukan sekadar dosa pribadi, tetapi ayat-ayat Allah?
Mari kita jaga ghirah ini. Bukan ghirah yang liar, tetapi ghirah yang dibimbing ilmu. Bukan kemarahan untuk melampiaskan emosi, tetapi kemarahan karena Allah. Dan bukan sekadar membela mushaf secara fisik, tetapi juga membela kehormatan wahyu dengan dakwah, pendidikan, dan pengagungan terhadap Al-Qur’an dalam kehidupan kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memuliakan Al-Qur’an, mengamalkannya, membelanya dengan benar, dan diwafatkan di atas iman.
Baarakallahu fiikum




