Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin online yang dimuliakan Allah Swt,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terlalu fokus pada hal-hal yang besar. Kita mengagumi pencapaian raksasa, gedung pencakar langit, mesin-mesin industri yang masif, atau gelar akademik yang mentereng. Sebaliknya, kita sering abai pada hal-hal kecil. Kita mudah meremehkan suara orang kecil, mengabaikan prosedur keselamatan yang sepele, atau lupa mensyukuri nikmat-nikmat sederhana.
Padahal, jika kita membuka lembaran sejarah Al-Qur’an, ada seorang raja dan nabi yang memiliki kekuasaan paling masif di muka bumi, namun kemuliaannya justru diuji dan dibuktikan melalui interaksinya dengan makhluk yang sangat kecil: seekor semut. Beliau adalah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang melakukan pawai militer besar-besaran. Bayangkan, pasukannya terdiri dari manusia, bangsa jin, dan burung-burung yang berbaris rapi. Bumi bergetar oleh derap langkah pasukan raksasa ini.
Namun, ketika iring-iringan itu mendekati sebuah lembah, Nabi Sulaiman menghentikan seluruh pasukannya. Mengapa? Bukan karena ada musuh raksasa yang menghadang, melainkan karena pendengaran tajam dan kepekaan batin yang dikaruniakan Allah kepadanya menangkap sebuah suara kepanikan dari makhluk yang ukurannya bahkan tak lebih besar dari sebutir kerikil. Seekor semut sedang berseru memperingatkan koloninya agar menyingkir dari jalur pasukan Sulaiman.
Momen yang sangat menyentuh hati ini diabadikan dengan indah oleh Allah SWT dalam QS. An-Naml [27] ayat 18-19:
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ . فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Yang artinya: “Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'”
Mari kita petik pesan utama dari peristiwa ini.
Pertama, lihatlah respons Nabi Sulaiman. Beliau tidak tersinggung atau marah meskipun semut itu berkata “agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman”. Beliau justru tersenyum. Senyum itu adalah simbol kerendahan hati (tawadhu’). Orang yang benar-benar besar dan berilmu tidak akan merasa terhina oleh suara yang lemah. Ia memiliki kepekaan atau empati yang tinggi terhadap keselamatan makhluk di sekitarnya.
Kedua, teguran semut itu seketika mengingatkan Sulaiman kepada Sang Pencipta. Kekuasaannya tidak membuatnya lupa diri, melainkan langsung memicu doa syukur yang sangat mendalam: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu…”
Bagaimana kita mengaplikasikan kepekaan Nabi Sulaiman ini dalam peran kita sehari-hari?
Bagi rekan-rekan yang berada di dunia teknik, pendidikan vokasional, atau operasional mesin dan alat berat; kisah ini sangat relevan. Ketika kita mengoperasikan unit mesin raksasa yang bobotnya berton-ton, kita memegang kendali yang sangat besar. Namun, celaka sering kali terjadi bukan karena kegagalan hal besar, melainkan karena kita mengabaikan hal kecil. Kita mengabaikan prosedur Job Safety Analysis (JSA), meremehkan mur yang longgar, atau tidak peduli pada keselamatan rekan kerja di area blind spot. Meneladani Nabi Sulaiman berarti memiliki kepekaan terhadap detail-detail “kecil” tersebut, memastikan keamanan lingkungan sekitar sebelum kita mengerahkan kekuatan mesin kita.
Bagi teman-teman mahasiswa dan kaum muda yang sedang merintis masa depan, yang sedang sibuk mempersiapkan berkas akademis, meriset kurikulum, atau mengikuti ketatnya seleksi beasiswa S2 seperti LPDP. Perjuangan itu memang besar dan melelahkan. Tapi di tengah ambisi besar itu, jangan sampai kita menginjak “semut-semut” di sekitar kita. Jangan abaikan orang tua yang menanti sapaan kita, jangan acuhkan teman yang butuh bantuan, dan jangan lupakan adab keseharian. Berhentilah sejenak dari kesibukan luar biasa kalian, tersenyumlah, dan doakan keselamatan orang tua sebagaimana doa Nabi Sulaiman.
Oleh karena itu, jamaah sekalian, mari kita latih kepekaan hati kita. Kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa keras suaranya menghardik, melainkan dari seberapa tajam telinganya mendengar rintihan mereka yang lemah. Jangan remehkan perbuatan baik sekecil apa pun, karena di mata Allah, yang kecil jika dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai surga.
Mari kita tundukkan kepala, memohon kepada Dzat Yang Maha Mendengar.
Ya Allah, Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Karuniakanlah kepada kami hati yang peka dan penuh empati. Jangan biarkan ilmu, jabatan, atau kekuatan yang kami miliki membuat kami sombong dan buta terhadap penderitaan orang lain. Bimbinglah kami agar senantiasa pandai mensyukuri nikmat-Mu dan nikmat yang Engkau berikan kepada orang tua kami. Dan jadikanlah kami, dengan rahmat-Mu, bagian dari hamba-hamba-Mu yang saleh.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





