AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Menundukkan Dunia dengan Ilmu dan Syukur: Teladan Kepemimpinan Nabi Sulaiman AS

Kisah Teladan para Nabi dan Rosul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah,

Di abad modern ini, manusia telah mencapai lompatan teknologi yang luar biasa. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu menciptakan mesin-mesin raksasa, mengendalikan alat berat bertenaga ribuan tenaga kuda untuk membelah gunung dan membangun peradaban. Manusia juga mampu terbang melintasi benua dalam hitungan jam, serta menundukkan gelombang tak kasat mata untuk berkomunikasi ke ujung dunia.

Namun, fenomena yang sering kita saksikan adalah pencapaian dan kekuasaan ini seringkali melahirkan kesombongan. Jabatan yang tinggi, ilmu yang mumpuni, atau kekayaan melimpah seringkali membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Di titik inilah, kita perlu becermin pada sejarah peradaban terhebat yang pernah ada di muka bumi, yaitu era kepemimpinan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Nabi Sulaiman AS diberikan mukjizat kerajaan yang tidak akan pernah tertandingi oleh siapa pun hingga akhir zaman. Jika penguasa hari ini hanya memimpin manusia, Nabi Sulaiman memimpin kolaborasi peradaban antara manusia, bangsa jin, dan hewan. Beliau memahami bahasa burung dan semut. Lebih dari itu, elemen alam seperti angin ditundukkan oleh Allah Swt untuk menjadi kendaraan logistik super cepat bagi pasukannya.

Nabi Sulaiman memiliki segala alasan duniawi untuk menjadi sombong. Beliau memiliki kekuasaan militer mutlak, kecerdasan tanpa tanding, dan kekayaan yang melimpah ruah. Namun, apakah beliau menjadi tiran? Sama sekali tidak. Kerajaan raksasa itu justru dibangun di atas fondasi ketauhidan dan rasa syukur yang sangat dalam.

Mari kita perhatikan bagaimana adab Nabi Sulaiman saat meminta karunia kerajaan tersebut. Allah SWT merekam doanya dalam QS. Shad [38] ayat 35-36:

 

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ . فَسَخَّرْنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦ رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ

 

(Qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li’aḥadim mim ba’dī, innaka antal-wahhāb. Fa sakhkharnā lahur-rīḥa tajrī bi’amrihī rukhā’an ḥaiṡu aṣāb)

Yang artinya: “Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.’ Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya.”

Jamaah online rahimakumullah,

Ada pesan utama yang sangat indah dari ayat ini. Sebelum Nabi Sulaiman meminta kerajaan dunia (hab lī mulkan), kata pertama yang keluar dari lisannya adalah memohon ampunan (rabbigfir lī). Ini adalah adab kepemimpinan tertinggi. Nabi Sulaiman menyadari bahwa kekuasaan tanpa kebersihan hati dan ampunan dari Allah Swt hanya akan menjadi bencana.

Kekuasaan atas angin dan bangsa jin yang diberikan kepadanya bukanlah hasil dari sihir kegelapan, melainkan fasilitas dari Allah Swt (fa sakhkharnā) karena ketaatannya. Beliau mempekerjakan jin untuk membangun infrastruktur masjid dan tempat ibadah, bukan untuk hal-hal yang mistis atau syirik. Ilmu dan kekuasaan di tangan hamba yang bersyukur akan menghasilkan peradaban yang penuh rahmat.

Lalu, bagaimana kita membumikan mentalitas Nabi Sulaiman ini dalam realitas kita di era modern?

Bagi teman-teman pelajar, saat ini kalian sedang membangun “kerajaan masa depan” kalian melalui pendidikan. Mungkin ada yang sedang berjuang keras menempuh pendidikan vokasi/teknik, atau sedang gigih mempersiapkan diri menembus beasiswa pendidikan pascasarjana (S2). Tanamkanlah niat seperti Nabi Sulaiman. Kejarlah ilmu setinggi mungkin, kuasailah teknologi mutakhir, namun selalu mulai dengan memohon ampunan dan petunjuk Allah Swt. Jadikan ilmu dan gelar yang kalian raih kelak sebagai alat untuk memakmurkan umat, bukan sarana untuk menyombongkan diri.

Bagi Bapak/Ibu sekalian, dan kita yang bergerak di dunia profesional dan masyarakat, hari ini kita mungkin tidak bisa menundukkan jin atau memerintah angin secara langsung. Namun, dengan ilmu teknik dan pengetahuan, manusia modern mampu merancang sistem kelistrikan yang rumit, mengoperasikan ekskavator dan alat berat yang mampu memindahkan bukit, serta membangun gedung-gedung pencakar langit.

Saat kita berada di posisi pengambil keputusan, atau saat kita memiliki wewenang keahlian teknis yang sangat besar, ingatlah bahwa hakikatnya Allah-lah yang menundukkan besi dan teknologi itu untuk kita. Jangan sampai kecanggihan alat dan fasilitas di tangan kita justru membuat kita jauh dari masjid. Jadikanlah setiap amanah keahlian dan kepemimpinan kita sebagai bentuk ibadah, sejalan dengan prinsip hablum minallah dan hablum minannas.

Oleh karena itu, mari kita menata kembali niat kita. Raihlah prestasi setinggi-tingginya, jadilah ahli di bidang kita masing-masing, namun pastikan hati kita tetap merunduk rendah di hadapan Allah Swt. Pemimpin sejati bukanlah dia yang ditakuti karena jabatannya, melainkan dia yang mampu menundukkan egonya sendiri untuk mengabdi pada kebenaran.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon pertolongan dari Allah SWT.

Ya Allah, Yang Maha Memiliki Kerajaan Langit dan Bumi. Ampunilah dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat dan keahlian yang membawa kebaikan bagi umat. Jauhkanlah kami dari sifat sombong atas segala pencapaian kami. Jadikanlah kami pemimpin-pemimpin yang adil bagi keluarga dan lingkungan kami, serta hamba-hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat sebagaimana Engkau ajarkan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd

(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button