Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin online yang dimuliakan Allah,
Dalam dinamika kehidupan modern saat ini, ada satu perasaan yang mungkin pernah mampir di hati kita semua: perasaan terjebak dan putus asa. Saat masalah datang bertubi-tubi, entah itu kegagalan pendidikan, kebangkrutan usaha, atau masalah keluarga yang pelik—kita sering merasa seolah-olah berada di sebuah ruang gelap yang pengap. Tidak ada jalan keluar, tidak ada yang mendengar tangisan kita, dan rasanya kita ingin lari saja dari kenyataan.
Fenomena “ingin lari dari masalah” ini adalah sifat manusiawi. Namun, tahukah kita bahwa ribuan tahun yang lalu, seorang utusan Allah pernah benar-benar lari dari masalahnya, dan sebagai tegurannya, Allah menempatkannya di ruang isolasi paling gelap dan paling menakutkan di muka bumi? Beliau adalah Nabi Yunus ‘alaihissalam.
Nabi Yunus AS diutus berdakwah kepada penduduk Ninawa. Bertahun-tahun beliau mengajak mereka kepada tauhid, namun mereka tetap ingkar dan membangkang. Kecewa dan marah melihat kekerasan hati kaumnya, Nabi Yunus kehilangan kesabaran. Beliau memutuskan pergi meninggalkan mereka tanpa menunggu izin dan perintah dari Allah SWT. Beliau lari menuju pelabuhan dan menaiki kapal yang penuh sesak.
Di tengah lautan, badai dahsyat menghantam. Undian pun dilakukan untuk mengurangi beban kapal, dan nama Nabi Yunus keluar berturut-turut. Beliau pun dilemparkan ke tengah ombak yang ganas. Saat itu juga, Allah memerintahkan seekor ikan paus raksasa (ikan Nun) untuk menelannya bulat-bulat tanpa meremukkan tulang dan dagingnya.
Di titik inilah, Nabi Yunus terkurung dalam apa yang disebut ulama sebagai Tiga Kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar lautan, dan gelapnya perut ikan paus. Tidak ada sinyal, tidak ada oksigen yang cukup, tidak ada manusia yang bisa menolong. Di titik nadir keputusasaan itulah, nurani kenabiannya bangkit.
Dari kedalaman dasar samudra, meluncurlah sebuah doa pertaubatan yang getarannya menembus langit ketujuh hingga mengguncang ‘Arasy Allah. Doa ini diabadikan dalam QS. Al-Anbiya [21] ayat 87:
وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Yang artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.'”
Mari kita bedah pesan utama dari anatomi doa yang luar biasa ini. Saat terjebak, Nabi Yunus tidak memohon, “Ya Allah, keluarkan aku dari perut ikan ini!” Tidak. Beliau justru merangkai doanya dengan tiga fondasi utama:
- Tauhid (Lā ilāha illā anta): Beliau mengakui keesaan Allah, bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berkuasa di alam semesta.
- Tasbih (Subḥānaka): Beliau menyucikan Allah dari segala kekurangan. Artinya, Allah tidak zalim dengan menempatkannya di perut ikan, takdir Allah selalu suci dan sempurna.
- Pengakuan Dosa (Innī kuntu minaẓ-ẓālimīn): Ini yang paling berat bagi ego manusia. Nabi Yunus dengan ksatria mengakui kesalahannya. Beliau tidak menyalahkan kaumnya yang keras kepala, tidak menyalahkan badai, tidak menyalahkan ikan paus, melainkan menunjuk dirinya sendiri: “Sungguh, akulah yang zalim.”
Karena keikhlasan pengakuan inilah, Allah menyelamatkannya dan melemparkannya ke tepi pantai yang tandus, menumbuhkan pohon labu untuk memulihkan fisiknya, dan kaumnya pun akhirnya bertaubat massal.
Hadirin online sekalian, mari kita bawa doa ini ke dalam realitas kita hari ini.
Bagi teman-teman pemuda, pelajar, dan mahasiswa, jalan menuntut ilmu dan merajut masa depan itu tidak mudah. Kadang kita merasa buntu dan ingin menyerah. Misalnya, saat kalian berhadapan dengan kerumitan materi vokasi, ketika logika sistem teknis dan alat berat seolah terlalu sulit untuk dipecahkan. Atau saat kalian sudah belajar mati-matian namun gagal menembus seleksi beasiswa, seperti seleksi beasiswa pascasarjana LPDP atau ujian penting lainnya.
Rasa frustrasi itu wajar. Namun, jangan lari dari kenyataan atau menyalahkan keadaan, menyalahkan guru, dosen, atau penguji. Jangan biarkan diri kalian ditelan oleh “ikan paus” keputusasaan. Ambil napas panjang, sucikan Allah, dan introspeksi diri. Mungkin ada niat kita yang salah, mungkin ibadah kita masih bolong. Akui kekurangan kita, lalu bangkitlah kembali.
Bagi Bapak/Ibu dan jamaah sekalian; masalah utang, konflik rumah tangga, atau beban pekerjaan terkadang membuat dunia terasa gelap gulita. Saat kita merasa terjepit dari segala arah, berhentilah mengeluh. Mengeluh tidak akan menembus langit, tetapi doa Nabi Yunus bisa. Hadapi ujian tersebut, evaluasi diri kita—barangkali ada hak orang lain yang kita rampas atau maksiat yang kita anggap remeh. Jadikan zikir Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn sebagai wirid harian kita yang meresonansi hati.
Oleh karena itu, tidak ada ruang gelap yang terlalu pekat bagi cahaya rahmat Allah. Tidak ada masalah yang terlalu besar jika kita menyelesaikannya dengan tauhid dan pengakuan dosa. Mari biasakan lisan kita beristighfar dengan doa Nabi Yunus ini setiap kali kita merasa terhimpit.
Mari kita tundukkan hati, memohon ampunan kepada Allah SWT.
Ya Allah, Yang Maha Menyelamatkan hamba-Nya dari kegelapan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh kami sering kali menzalimi diri kami sendiri dengan dosa dan kelalaian kami. Ya Allah, keluarkanlah kami dari ‘perut ikan’ permasalahan kami, baik itu kesulitan ekonomi, kebuntuan akademik, maupun himpitan ujian hidup. Terangilah jalan kami dengan cahaya petunjuk-Mu, dan jadikanlah kami hamba yang pantang lari dari amanah.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala kekurangan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




