Pembekalan Pra Wisuda Sekolah Tabligh Angkatan 1 PDM Kota Semarang
Bersama bapak Dr. Syakir Jamaluddin, M.A: “Dakwah Solutif, Mencerahkan, Menguatkan dan Menggembirakan”

SEMARANG — Sekolah Tabligh Angkatan 1 Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang memasuki tahapan akhir proses pendidikannya dengan menyelenggarakan Pembekalan Pra Wisuda pada Ahad, 9 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi materi penutup sebelum para peserta mengikuti wisuda Sekolah Tabligh Angkatan 1.
Pembekalan berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 5 PDM Kota Semarang, pukul 09.30–11.00 WIB, dengan menghadirkan Dr. Syakir Jamaluddin, M.A. sebagai pemateri. Tema yang diangkat adalah “Dakwah Solutif, Mencerahkan, Menguatkan dan Menggembirakan”, sebuah tema yang menegaskan kebutuhan terhadap model dakwah yang bukan hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Berdasarkan pengumuman panitia, kegiatan ini secara khusus ditempatkan sebagai pembekalan terakhir sebelum pelaksanaan wisuda siswa Sekolah Tabligh.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar Majelis Tabligh Muhammadiyah Kota Semarang dan Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Semarang dalam menyiapkan kader-kader mubaligh yang memiliki keluasan wawasan, kemampuan komunikasi publik, serta kepekaan terhadap perkembangan sosial masyarakat. Melalui pembekalan ini, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk mampu berbicara di mimbar, tetapi juga diharapkan memahami bahwa medan dakwah semakin luas dan membutuhkan pendekatan yang kreatif, komunikatif, kontekstual, dan tetap berpijak kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Pemateri dan Pengalaman Dakwah
Pemateri, Dr. Syakir Jamaluddin, M.A., memiliki pengalaman di bidang pendidikan, dakwah, hadis, dan fikih. Dalam biodata yang disampaikan bersama materi kegiatan, Syakir tercatat sebagai dosen Ilmu Hadis dan Fiqh di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pernah menjabat Dekan FAI UMY periode 2021–2025, serta menjadi Ketua Divisi Diklat dan Kaderisasi Muballigh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Ia juga dikenal sebagai inisiator program KoPi Ngaji.
Dalam pembekalan tersebut, salah satu pengalaman dakwah yang diketengahkan adalah pengembangan KoPi Ngaji di Omah Sawah Bodeh, Yogyakarta. Program itu menjadi contoh bagaimana pengajian dapat dikembangkan dalam suasana yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat tanpa kehilangan kekuatan substansi keislamannya. Berdasarkan materi yang dipaparkan, KoPi Ngaji lahir pada masa pandemi Covid-19 dan berkembang sebagai pengajian dengan pendekatan yang memadukan penguatan spiritual, komunikasi dakwah yang menyenangkan, ruang interaksi jamaah, dan pemberdayaan ekonomi. Dokumen biodata pemateri juga mencatat KoPi Ngaji di Omah Sawah Bodeh mulai diinisiasi pada 22 Januari 2022.
Karakter Dakwah KoPi Ngaji
Hasil survei terhadap jamaah KoPi Ngaji menunjukkan bahwa program tersebut mendapatkan sambutan positif karena sejumlah karakteristik yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pertama, penceramah harus memiliki keahlian pada bidang yang disampaikan, namun tidak harus selalu berasal dari kalangan akademisi atau mempunyai gelar profesor dan doktor. Kompetensi dan kemampuan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi unsur yang lebih penting.
Kedua, materi dakwah harus berdalil, yaitu menunjukkan landasan Al-Qur’an dan Hadis yang relevan. Prinsip ini penting agar dakwah tetap mempunyai pijakan keagamaan yang kokoh, sekalipun metode penyampaiannya dibuat lebih ringan dan komunikatif.
Ketiga, kajian disajikan secara tematik, mencakup bidang-bidang utama kehidupan Islam seperti aqidah, akhlak, ibadah, dan muamalah. Pola tematik memungkinkan jamaah memperoleh materi yang lebih terarah dan berkaitan langsung dengan problem yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, aspek lain yang mendapat perhatian adalah cara berkomunikasi. Dakwah perlu disampaikan secara menarik, ringan, dan “enteng-gayeng”, sehingga suasana pengajian tidak terasa kaku. Pendekatan demikian bukan berarti mengurangi kedalaman materi, melainkan membuat pesan keagamaan lebih mudah dipahami dan diterima oleh jamaah dari beragam latar belakang.
Kelima, karakter penting berikutnya adalah sifat solutif. Karena itu, pengajian menyediakan kesempatan tanya jawab. Jamaah tidak hanya mendengarkan ceramah secara satu arah, melainkan dapat menyampaikan persoalan yang mereka alami dan memperoleh penjelasan yang sesuai dengan konteks masalahnya. Dari sini, dakwah hadir sebagai proses dialog dan pendampingan, bukan sekadar penyampaian informasi.
Keunikan lain dari KoPi Ngaji adalah pemanfaatan ruang terbuka hijau dan suasana persawahan sebagai tempat pengajian. Lingkungan yang terbuka menciptakan pengalaman berbeda dibandingkan pengajian di ruang formal. Suasana alam menjadi bagian dari pendekatan dakwah yang membuat jamaah merasa lebih nyaman dan bergembira ketika mengikuti kegiatan.
Keenam, dakwah juga tidak berhenti ketika acara pengajian selesai. Jamaah didorong ikut menjadi bagian dari penyebaran pesan dakwah dengan menyampaikan kembali materi kepada keluarga dan teman, mengajak orang lain hadir dalam pengajian, maupun membagikan suasana dan pesan-pesan kajian melalui media sosial. Dengan pola demikian, jamaah tidak hanya berposisi sebagai penerima pesan, tetapi sekaligus menjadi penggerak dakwah di lingkungannya.
Dakwah, Pemberdayaan Ekonomi, dan Media Digital
Hal yang menarik, model tersebut juga mempertemukan aktivitas keagamaan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di sekitar kegiatan pengajian disediakan lapak bagi jamaah yang menjual makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kehadiran aktivitas ekonomi menjadikan manfaat pengajian tidak hanya dirasakan dalam bentuk penguatan spiritual, tetapi juga membuka ruang perputaran ekonomi bagi jamaah dan masyarakat sekitar.
Pemanfaatan teknologi digital turut menjadi bagian penting. Kegiatan KoPi Ngaji didokumentasikan dan disebarkan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan media lainnya. Mahasiswa bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam serta pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan media ikut membantu mendokumentasikan kegiatan sehingga pesan dakwah dapat menjangkau masyarakat jauh di luar lokasi pengajian.
Model tersebut memperlihatkan bahwa dakwah masa kini membutuhkan perpaduan antara substansi keislaman yang kuat, metode komunikasi yang menggembirakan, respons terhadap persoalan jamaah, pemanfaatan ruang publik, pemberdayaan ekonomi, dan penguasaan media digital. Dakwah dengan demikian bukan hanya berlangsung dari mimbar ke jamaah, tetapi berkembang menjadi sebuah ekosistem yang membangun relasi, pengetahuan, spiritualitas, ekonomi, dan jejaring sosial masyarakat.
Bekal bagi Mubaligh Sekolah Tabligh
Pembekalan Pra Wisuda Sekolah Tabligh Angkatan 1 ini pada akhirnya menjadi momentum penting bagi para calon lulusan. Setelah mengikuti proses pendidikan Sekolah Tabligh, para peserta diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan ceramah, tetapi mampu membaca kebutuhan umat dan menghadirkan dakwah yang benar-benar memberi manfaat.
Semangat “Dakwah Solutif, Mencerahkan, Menguatkan dan Menggembirakan” menjadi pesan utama yang dapat dibawa para mubaligh ketika kembali ke tengah masyarakat: dakwah harus kokoh dalam dalil, cerdas membaca situasi, ramah dalam penyampaian, terbuka terhadap dialog, memanfaatkan perkembangan teknologi, sekaligus mampu menghadirkan solusi bagi kehidupan umat.
Dengan pembekalan tersebut, Sekolah Tabligh Angkatan 1 PDM Kota Semarang diharapkan melahirkan mubaligh yang tidak hanya siap tampil di mimbar, tetapi juga siap hadir di berbagai ruang kehidupan masyarakat sebagai pendakwah yang mencerahkan, menguatkan, menggembirakan, dan memberikan solusi nyata.
Sumber Rujukan
- Pengumuman Pembekalan Pra Wisuda Sekolah Tabligh Angkatan 1 PDM Kota Semarang.
- Materi dan biodata Dr. Syakir Jamaluddin, M.A.
- Naskah “Pembekalan Pra Wisuda Sekolah Tabligh Angkatan 1 PDM Kota Semarang”
https://kasmui.cloud/artikel/?limit=200&kategori=&author=&tahun=&urut=date_desc&loaded=1786298724922
.





