Ketika Tali Kasih Sayang Terputus

Pernahkah kita merenung, betapa berharganya sebuah ikatan? Islam menyebutnya silaturahmi (menyambung rahim/kasih sayang), sebuah titian yang menghubungkan hati dan keluarga. Ia adalah perintah yang indah, namun sayangnya, ia memiliki sisi sebaliknya yang gelap: memutuskan tali silaturahmi.
Saat kita sengaja memutus hubungan dengan kerabatโbaik karena dendam lama, ketersinggungan kecil, atau sekadar kesibukan duniaโkita mungkin merasa telah memenangkan argumen atau mendapatkan kedamaian sementara. Namun, di mata syariat, tindakan ini adalah sebuah dosa besar yang ancamannya sangat serius, jauh melampaui masalah duniawi yang kita hadapi.
Memutus tali silaturahmi bukan sekadar pelanggaran etika sosial, melainkan perlawanan terhadap fitrah kasih sayang yang diciptakan Allah $\text{SWT}$. Rahim (ar-rahm), tempat ikatan kekeluargaan berasal, diambil dari nama Allah, Ar-Rahman (Maha Pengasih). Ketika kita memutusnya, kita seolah memutus perjanjian suci dengan Sang Pencipta.
Ancaman bagi pemutus silaturahmi sangat jelas dan mengguncang. Ia menunjukkan betapa murka-Nya Allah terhadap perpecahan dan permusuhan dalam keluarga.
- Terhalang dari Surga
Ancaman paling berat dan menakutkan bagi pemutus silaturahmi adalah pintu surga yang tertutup bagi mereka. Hidup yang kita jalani, semua ibadah yang kita kerjakan, akan menjadi sia-sia jika kita membawa dosa pemutus tali persaudaraan. Dari Jubair bin Muth’im RA Rasulullah SAW bersabda:
ูุงู ููุฏูุฎููู ุงููุฌููููุฉู ููุงุทูุนู
โTidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi).โ (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, setelah susah payah beribadah, shalat, puasa, dan sedekah, kita terhalang dari surga hanya karena seutas tali kekerabatan yang kita biarkan putus. Betapa murahnya harga surga itu kita tukar dengan mempertahankan ego dan sakit hati. Dosa ini begitu serius sehingga ia dapat meniadakan nilai amal-amal saleh lainnya.
- Siksaan yang Disegerakan di Dunia
Dosa memutus silaturahmi termasuk dalam kategori yang azabnya tidak hanya ditangguhkan di akhirat, tetapi juga disegerakan di dunia. Azab di dunia ini dapat berupa hilangnya keberkahan, munculnya kegelisahan, hingga kesulitan hidup yang terus menghimpit. Dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda:
ู ูุง ู ููู ุฐูููุจู ุฃูุฌูุฏูุฑู ุฃููู ููุนูุฌูููู ุงูููููู ููุตูุงุญูุจููู ุงููุนููููุจูุฉู ููู ุงูุฏููููููุง ู ูุนู ู ูุง ููุฏููุฎูุฑู ูููู ููู ุงูุขุฎูุฑูุฉู ู ููู ุงููุจูุบููู ููููุทููุนูุฉู ุงูุฑููุญูู ู
โTidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi pelakunya (di dunia ini) โ di samping dosa yang disimpan untuknya (di akhirat) โ daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutus tali silaturahmi.โ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hukuman duniawi ini adalah peringatan dini. Kekayaan bisa saja kita raih, jabatan bisa kita dapatkan, namun jika hati dipenuhi kekeruhan karena memutus kerabat, maka keberkahan akan dicabut. Rezeki terasa sempit, hati terasa gersang, dan ketenangan batin menjadi barang mahal, sebab kita telah memutus sambungan rahmat Allah SWT dari diri kita.
Ini adalah cambuk bagi hati yang lalai. Jangan pernah merasa nyaman dengan kondisi permusuhan atau keterasingan dari keluarga. Selama nafas masih berhembus, masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Ingatlah sabda Nabi SAW hakikat silaturahmi adalah menyambung yang telah putus, bukan sekadar membalas kebaikan. Jadilah yang pertama mengulurkan tangan, yang pertama meminta maaf, yang pertama mengirimkan pesan, meskipun kerabat kita bersikap acuh atau dingin. Lakukan itu hanya demi Allah, dan insya Allah, pertolongan serta rahmat-Nya akan senantiasa menyertai kita.
(KH. Wahyudi Sarju Abdirrahim, Lc. M.M, Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung)




