Kontras Pilu Banjarnegara: Dari Semarak Milad ke-113 hingga Tangisan Situkung
Oleh : Mister Kismadi, SE

BANJARNEGARA – Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, baru-baru ini dihadapkan pada dua realitas yang saling bertolak belakang: semarak perayaan akbar Milad ke-113 Muhammadiyah yang penuh suka cita, dan duka mendalam akibat musibah tanah longsor yang menimpa Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum. Kontras ini menjadi cermin komitmen kemanusiaan yang diuji di tengah-tengah bencana alam.
Pada hari ahad tanggal 16 bulan November kemarin, ribuan warga Persyarikatan Muhammadiyah tumpah ruah di Alun-Alun Banjarnegara untuk merayakan Milad ke-113. Acara puncak yang dihadiri tokoh nasional ini menjadi ajang silaturahmi akbar dan momentum peluncuran program-program unggulan yang fokus pada pelayanan umat.
- Puncak Semarak: Kegiatan diwarnai dengan Tabligh Akbar dan peresmian program-program strategis.
- Program Unggulan: Salah satu yang paling menonjol adalah peluncuran program Makan Bergizi Muhammadiyah (MBG) serta peresmian enam Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini dirancang untuk:
- Menyediakan makanan bergizi bagi siswa dan kelompok rentan.
- Menekan angka stunting di Banjarnegara.
- Menguatkan rantai pasok pangan lokal dengan membeli bahan baku dari petani setempat.
- Spirit Milad: Seluruh rangkaian Milad ini merefleksikan semangat dakwah, pembaruan, dan komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat kesehatan dan gizi masyarakat, menegaskan eksistensi organisasi yang telah beramal panjang dan memberikan manfaat luas.
Tak berselang lama dari semarak Milad, Banjarnegara dikejutkan oleh bencana dahsyat yang melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum. Bencana tanah longsor ini terjadi begitu cepat, menyapu sebagian besar pemukiman dan meninggalkan duka mendalam.
Rumah Rusak/Tertimbun 48 unit
Korban Meninggal Dunia (MD) 3 jiwa
Warga Mengungsi 934 Jiwa
Warga dalam Pencairan 25 Jiwa
Infrastruktur Rusak 1 ruas jalan, 1 masjid, 2 musholla
Kerugian Ternak 25 ekor sapi, 50 ekor kambing
Kerusakan lahan pertanian rusak
Longsor yang terjadi di wilayah lereng dengan tanah yang masih berpotensi bergerak ini memaksa ratusan warga harus dievakuasi ke titik-titik pengungsian. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah menetapkan status tanggap darurat, dan tim SAR gabungan dari berbagai unsur terus bekerja keras di tengah risiko longsor susulan.
Dua peristiwa ini, meskipun kontras, pada akhirnya bertemu dalam satu titik: semangat kemanusiaan dan kepedulian.
Semarak Milad Muhammadiyah yang menitikberatkan pada program pelayanan dan pemberdayaan, seolah langsung diuji dengan musibah besar di Pandanarum. Komitmen untuk melayani umat dan bangsa kini terwujud nyata dalam langkah-langkah darurat. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), termasuk yang berada di Kecamatan Pandanarum, dipastikan akan menjadi bagian penting dalam upaya tanggap bencana, baik dalam penyediaan logistik, pelayanan kesehatan, maupun dukungan psikososial bagi para pengungsi.
Bencana Situkung adalah panggilan hati bagi seluruh elemen masyarakat Banjarnegara, termasuk seluruh anggota Persyarikatan Muhammadiyah, untuk mengalihkan sejenak perhatian dari perayaan menuju aksi nyata kemanusiaan. Kontras antara tawa Milad dan tangisan Situkung mengingatkan bahwa pengabdian sejati adalah pengabdian yang hadir tanpa jeda, terutama saat masyarakat sedang diuji oleh takdir alam.
Duka Pandanarum adalah duka Banjarnegara. Saat ini, yang terpenting adalah soliditas dan sinergi dari semua pihak pemerintah, lembaga kemanusiaan, relawan, dan seluruh warga untuk memastikan keselamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan psikologis bagi para penyintas.




