
Setelah usai penyelenggaraan serangkaian kegiatan Milad Muhammadiyah 113, yang puncaknya ditandai dengan pengajian akbar oleh Prof. Muhajir Effendi, MAP dan seremonial peresmian MBM, pada hari yang sama 16 November 2025 pukul 14.00 WIB warga Muhammadiyah dikejutkan dengan berita yang memprihatinkan. Pada hari itu, terjadi longsor di daerah Situkung, Pandanarum.
Data sementara yang terdampak langsung berjumlah 50 rumah dengan jumlah pengungsi lebih dari 900 orang. Berdasarkan musibah tersebut, pemerintah daerah melalui instansinya mengumumkan masa tanggap bencana selama 14 hari. Begitu juga dengan PDM Banjarnegara yang langsung menerjunkan tim MDMC beserta jajarannya sebagai upaya nyata dalam menangani krisis kemanusian yang ada.
Muhammadiyah bertindak cepat dengan mendirikan pos pelayanan meskipun pada awalnya belum memiliki sarana dan prasara yang memadai. Berbagai upaya dilakukan mulai dari evakuasi korban, pendirian dapur, umum, hingga aksi psiko sosial. Hal ini dilakukan sebagai respon kepedulian Muhammadiyah terhadap musibah yang ada.
Hingga Rabu, 19 November 2025, tim dari Posyan Muhammadiyah telah berupaya secara simultan untuk memenuhi kebutuhan para penyintas baik siang maupun malam. Bahkan dari total penyintas yang ada, hampir separuhnya diamanahkan kepada tim Muhammadiyah. Artinya, tanggung jawab sosial di punggung persyarikatan akan semakin besar ke depannya.
Bencana serupa yang pernah terjadi di Sijemblung bahkan menjadi tonggak pembelajaran bahwa penanganan bencana terus akan dilakukan melalui berbagai kegiatan pendampingan sampai penyintas kembali bisa hidup normal seperti sedia kala. Oleh karena itu, jajaran PDM Banjarnegara dengan cepat melakukan konsolidasi internal yang melibatkan berbagai pimpinan majlis, AUM, Ortom, bahkan pimpinan cabang. Tujuannya adalah bagaimana persyarikatan bisa memberdayakan potensi sumberdaya yang ada untuk membantu para penyintas yang berada di lokasi bencana.
Ada setidaknya empat hal yang patut menjadi perhatian bersama. Pertama terkait logistik yang dibutuhkan baik oleh relawan dan juga warga yang terdampak. Kedua, pendirian dapur umum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan primer. Ketiga, kegiatan psikososial yang melibatkan para tenaga psikologi, majelis Tabligh, dan majelis disdakmen terutama dalam pembuatan road map rehabilitasi para penyintas. Dan yang terakhir adalah pelayanan kesehatan yang juga tidak kalah penting. Apalagi setelah dilakukan asesmen ada puluhan lansia yang harus mendapat perhatian lebih untuk terus didampingi.
Keempat hal tersebut tentu saja tidak mungkin dilakukan sendiri, terutama ketika masa tanggap bencana selama 14 hari sudah berakhir. Harus ada sinergi yang kuat di internal persyarikatan Muhammadiyah baik tingkat daerah, wilayah, bahkan nasional agar penanganan bencana yang ada bisa berjalan baik dan menghadirkan ruh pergerakan secara nyata.
Dengan adanya bencana tanah longsor di Situkung ini, gebyar pesan Miladmu 113 yang konon memajukan kemajuan bangsa kini mendapat tantangan secara nyata. Oleh karena itu saatnya inilah momen tepat agar kita bahu membahu untuk membuktikan bahwa gerakan Muhammadiyah tidak akan berhenti saat ada bencana, tapi justru memunculkan semangat tolong menolong untuk mewujudkan islam yang rahmatan lil’alamin. Bukan sekadar jargon di mimbar, tapi menjadi gerak perjuangan karena lillahi ta’ala. Kini saatnya kita mengimplementasikan ayat al Qur’an
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.
Untuk itu, bagi saudara semua yang hendak membnatu secara materi, mari salurkan lewat jalur internal persyarikatan yang dikomandoi oleh Lazismu. Mungkin bagi kita tidak seberapa, tapi bagi mereka yang bergelut dengan bencana adalah hal yang luar biasa. Atau bila berkenan langsung investasikan modal akhirat kita melalui rekening BSI 777 22 33 137. Let’s Fastabiqul khairat.




