Jangan Remehkan Surat Al-Fatihah (Tafsir Surat Al-Fatihah)
Oleh: Muhammad Rifqi Arriza Lc. MA.

Saking seringnya kita baca, sehari sampai 17 kali, bisa saja kita kehilangan ruh saat membaca surat al-Fatihah. Tentu hal ini kondisi yang tidak ideal, sehingga butuh stimulus tertentu untuk mengembalikan ruh dan “koneksi” tersebut.
Salah satunya bisa kita dapatkan dari membaca hadis berikut ini:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى وَإِذَا قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى فَإِذَا قَالَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ (رواه مسلم)
_Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Muhammad Saw. beliau bersabda: Barangsiapa yang solat, dan belum membaca Ummul Quran (al-Fatihah), maka solatnya kurang (3x) tidak sempurna. Lalu disampaikan kepada Abu Hurairah: sesungguhnya kami berada di belakang imam, Abu Hurairah berkata: bacalah ia di hatimu, karena aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Allah ta’ala berfirman: Aku telah membagi solat antara Aku dan Hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Maka jika hamba membaca: segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Allah berkata: hamba-Ku telah memuji-Ku. Dan jika dia membaca: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah berkata: Hamba-Ku memuji-Ku –lagi-. Dan jika dia membaca: Raja pada hari penghitungan, Allah berkata: Hamba-Ku telah memuji-Ku –lagi-. Dia juga pernah berkata: Hamba-Ku telah menyerahkan perkaranya kepada-Ku. Lalu saat dia membaca: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, Allah berkata: ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Dan jika dia membaca: tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Kau murkai, bukan pula jalan mereka yang sesat. Allah berkata: ini bagi hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta._ (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa jika al-Fatihah dibaca dengan penuh kekhusyukan, di dalam solat maupun di luar solat, maka kita akan mendapatkan puncak kebaikan dalam kehidupan, yaitu hidayah Allah Swt. Hal yang tidak didapatkan oleh semua manusia. Bahkan jika dia seorang genius atau gelar tertinggi dalam akademik, sama sekali tidak menjamin untuk mendapatkan hidayah dari Allah Swt.
Allah berfirman:
يَهْدِيْ اللهُ لِنُوْرِهِ مَنْ يَشَاءُ
_Allah akan menunjukkan kepada cahaya-Nya siapa yang dikehendaki oleh-Nya_ (QS. Al-Nur: 35)
Dengan hidayah, seorang muslim akan mudah untuk beramal soleh, akan ringan untuk melaksanakan ibadah maupun menjauhi maksiat.
Mari kita lebih khusyuk lagi dalam melaksanakan solat, wa bil khusus saat membaca surat al-Fatihah.
(Muhammad Rifqi Arriza Lc. MA., Ketua Majelis Tabligh PDM Pati, Majelis Tabligh PWM Jateng)




