
إِنَّ اْلحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِناَ. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضَلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا, أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kemudahan dalam berhimpun di majelis ilmu ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pemeluk sunnah beliau.
Hadirin yang dirahmati Allah, Tema ceramah hari ini adalah Akhlak Istri dalam Keluarga bagaimana istri berperilaku dengan suami dan anak-anak sesuai tuntunan Islam. Istri adalah tiang utama rumah tangga, penyejuk hati suami, dan guru utama bagi anak-anak.
Dalil dari Al‑Qur’an (5 ayat)
- QS Al‑Tiīn:4 (dikutip dalam Lil Banin sebagai motivasi moral)
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
- QS Al‑Ahzab:21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.
- QS At‑Tahrim:6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
- Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Tafsir Ibnu Katsir QS At Tahrim ayat 6
Kesimpulannya, surat At-Tahrim ayat 6 ini merupakan perintah sekaligus peringatan kepada orang-orang beriman untuk selalu menjaga diri dan keluarga dalam melaksanakan tugas sebagai seorang hamba kepada Allah. Ayat ini juga mengingatkan kita agar selalu mawas diri bahwa kita hidup di dunia hanya sementara dan tempat kembali kita yang sesungguhnya ialah akhirat yang kekal dan abadi. Wallahu a’lam
- QS Ani Nisa ayat 34
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ٣٤
“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Tafsir Ibnu Katsir
Kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah, bertanggung jawab penuh terhadap kaum perempuan yang menjadi istri dan yang menjadi keluarganya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap istri menaati suaminya selama suami tidak durhaka kepada Allah. Apabila suami tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya, maka istri berhak mengadukannya kepada hakim yang berwenang menyelesaikan masalahnya.
QS An‑Nisa:19
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ١٩
“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.”
Ragam Tafsir Ayat ini menegaskan pembelaan Al-Qur’an terhadap berbagai intimidasi dan kezaliman kaum lelaki terhadap para wanita. Secara terperinci, ayat ini memuat empat (4) pembahasan.
Pembahasan pertama, penentangan Al-Qur’an terhadap tradisi masyarakat Jahiliyah yang menganggap wanita seolah-olah seperti harta benda sehingga diri seorang wanita dapat diwaris oleh ahli waris suaminya ketika ia meninggal sesuai dengan riwayat sababun nuzûl ayat di atas.
Pembahasan kedua, pelarangan Al-Qur’an terhadap sikap suami yang menggantung nasib istrinya. Yaitu ketika suami tidak menyukai istrinya, tapi mencegahnya untuk bercerai dan menikah dengan orang lain dengan tujuan agar istri menebus dirinya melalui proses khulu’ dan mengembalikan mahar atau sebagiannya yang telah diberikannya pada saat pernikahan. Namun demikian, tindakan seperti ini ada pengecualiannya, yaitu bila istri melakukan zina atau nusyûz (menentang suami) secara terang-terangan.
Pembahasan ketiga, perintah Al-Qur’an kepada para suami agar bergaul secara baik terhadap istri, dalam ucapan, penyediaan tempat tinggal, dan nafkahnya sebagaimana frasa:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Artinya, “Pergaulilah mereka secara baik.”
Ibnu Katsîr secara komprehensif menjelaskan, maksud ayat ini adalah “Perindah ucapan kalian terhadap mereka, perindah perbuatan dan tingkah kalian kepada mereka sesuai kemampuan kalian.”
Pembahasan keempat, perintah Al-Qur’an kepada para suami ketika muncul rasa tidak suka terhadap istri hendaknya ia tetap bersabar menjadi suaminya. Bisa jadi ia tidak menyukainya sementara Allah jadikan berbagai kebaikan untuknya di dalam diri istrinya.
Syekh Nawawi Al-Bantani menafsirkan: “Bila kalian tidak menyukai mereka maka pertahankan mereka sebagai istri secara baik. Jangan cerai mereka hanya karena ketidaksukaan hati sementara tidak ada faktor-faktor dari mereka yang membuatnya tidak suka. Bisa jadi kalian tidak suka terhadap mereka sementara Allah jadikan kebaikan yang banyak dengan menjadi suami mereka. Seperti mendapatkan anak yang (saleh) sehingga ketidaksukaan berbalik menjadi rasa cinta, mendapatkan pahala yang sangat besar di akhirat, dan pujian yang indah di dunia karena tetap menafkahi dan tetap berbuat baik kepada mereka meskipun sebenarnya bertentangan dengan hati.”
- Hadits Nabi (sesuai kitab Akhlak lil Banin)
Kitab Akhlak lil Banin menekankan adab dan moral, dari yang dimulai untuk anak-anak juga relevan untuk istri.
- Hadits tentang akhlak terbaik:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Artinya: “Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR. Tirmidzi).
- Murid yang istiqomah adabnya:
Cerita guru dan murid yang menjaga adab karena sadar sedang diawasi Allah - Tentang adab terhadap orang tua dan guru:
Anak yang beradab menghormati orang tua, guru, dan bersikap lembut dengan semua orang - Kewajiban bersyukur:
“Bersyukurlah kepada Allah, niscaya Allah menambah (nikmat) kepadamu…” - Kepemimpinan Rasul:
“Seorang anak wajib mencintai Nabinya dan mengikuti sunnah‑Nya…”
- Akhlak Istri terhadap Suami
– Ketaatan dan penghormatan
- Taat kepada suami selama tidak bertentangan dengan syariat dan menjaga kehormatannya.
- Bersyukur atas pemberian, besar maupun kecil—menghindari sikap mengeluh (QS An‑Nisa:19).
– Lembut dan penuh kasih sayang
- Menurut hadits dalam Lil Banin, adab dan kelembutan adalah akhlak yang paling mulia dan membawa kebahagiaan
– Menjaga amanah
- Istri yang menjaga kehormatan rumah tangga ketika suami tidak di rumah, seperti yang disebutkan dalam dalil hadits mencontoh adab anak menjaga orang tua dan gurunya .
- Akhlak Istri terhadap Anak
-Madrasah pertama
- Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
- Dorong anak untuk bersyukur, bertakwa, dan menerapkan akhlak dari usia dini (Lil Banin mengajarkan akhlak dari kecil)
-Teladan dalam akhlak
- Istri harus bersikap lembut, sabar, jujur, dan rendah hati karena anak meniru apa yang dilihatnya.
Adab penghormatan, menyayangi, tidak kasar seperti dijelaskan dalam ajaran Lil Banin
-Kedisiplinan ibadah
- Ajarkan salat dan syukur kepada anak sejak dini; ingatkan mereka, “Perintahkan anak-anak salat saat usia 7 tahun…” dari hadits klasik.
- Akhlak Umum dalam Rumah Tangga
-Syukur dan tidak mengeluh
- “Bersyukur, niscaya Allah menambah nikmat kepadamu…” (QS Ibrahim:7, dikutip Lil Banin) .
-Suasana rumah harmonis
- Istri jadi penenang dengan akhlak sabar, lembut, tidak membanding-banding, dan menghindari pertengkaran—meskipun pusat kitabnya adalah adab anak, prinsip ini berlaku pula bagi wanita dewasa.
- Penutup & Doa
Dengan memahami dan mengamalkan akhlak istri sesuai sunnah Nabi dan akhlak Islam, rumah tangga kita menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ٧٤ ( الفرقان/25: 74)
- Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Furqan/25:74)
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ ٤٠ ( ابرٰهيم/14: 40)
- Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.390)
Terjemah Pembuka
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Ali ‘Imran/3:102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.143) Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (An-Nisa’/4:1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا,
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar. (Al-Ahzab/33:70-71)




