Artikel

Jangan Banyak Mencela dan Jangan Banyak Melarang atau Menyalahkan

Mister Kismadi, SE Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah Kelas Banjarnegara dan MPI Cabang Kalibening

📅 Sabtu, 02 Mei 2026 | 15 Zulkaidah 1447 H

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dijelaskan bahwa dakwah harus menghadirkan uswah hasanah (teladan yang baik) dan dilakukan dengan penuh hikmah, kelembutan, serta semangat menggembirakan umat. Pedoman ini menekankan bahwa dakwah bukan sekadar menyalahkan atau melarang, melainkan mengajak dengan keteladanan, kearifan, dan suasana yang menyejukkan.

Begitu juga dalam Buku Induk dan Tuntunan Tabligh Muhammadiyah, ditegaskan bahwa muballigh harus menggunakan strategi dakwah yang penuh kasih sayang, optimis, dan menyentuh hati, bukan yang membuat orang menjauh. Dakwah adalah pewarisan nilai iman dan cita-cita Islam melalui pendekatan yang menggembirakan, sesuai visi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah pencerahan.

Dalil Al-Qur’an yang menegaskan hal ini:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Hadis Nabi Muhammad ﷺ:

“بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً”

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari) – menunjukkan bahwa dakwah itu sederhana, ringan, dan mengajak, bukan memberatkan.

Ciri dakwah yang menggembirakan biasanya ditandai dengan pendekatan yang menyejukkan hati, memberi harapan, serta memotivasi orang untuk lebih dekat kepada Allah tanpa merasa tertekan. Berikut beberapa cirinya:

  1. Berisi kabar gembira (tabsyir), bukan ancaman semata
  • Menyampaikan janji Allah tentang pahala, ampunan, rahmat, dan kebahagiaan dunia-akhirat.
  • Tidak hanya menekankan azab, tetapi lebih menonjolkan kasih sayang Allah.
  1. Bahasa yang lembut dan penuh hikmah
    • Disampaikan dengan tutur kata santun, tidak kasar atau merendahkan.
    • Mudah dipahami dan tidak membuat orang menjauh.
  1. Memberi harapan, bukan putus asa
  • Membuat mad’u (orang yang diajak) yakin bahwa pintu taubat selalu terbuka.
  • Menumbuhkan optimisme untuk berubah ke arah yang lebih baik.
  1. Membawa ketenangan dan kedamaian
  • Tidak memicu permusuhan atau kebencian, melainkan mempererat ukhuwah.
  • Memberikan solusi yang menenteramkan dalam menghadapi masalah hidup.
  1. Mengajak dengan teladan, bukan hanya kata-kata
  • Da’i menunjukkan akhlak mulia yang membuat orang senang menirunya.
  • Kehadiran da’i membuat suasana jadi ringan, hangat, dan menumbuhkan rasa hormat.
  1. Sesuai kebutuhan mad’u
  • Menyesuaikan cara dan materi dakwah dengan kondisi, usia, dan latar belakang audiens.
  • Menggunakan humor yang sehat, kisah inspiratif, atau pendekatan emosional yang menyentuh.

 

Dasarnya dapat dilihat dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (QS. Ali Imran: 159).

Tentu! Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang secara langsung atau tidak langsung menunjukkan konsep dakwah bi’l-hikmah (mengajak dengan kebijaksanaan). Berikut penjelasan dan contohnya:

  1. Ayat yang menyebut dakwah bi’l-hikmah secara eksplisit:
    Surah An-Nahl (16:125)

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik…”

Ayat ini secara langsung menjadi landasan bagi pendekatan dakwah yang bijaksana dan penuh adab terhadap orang lain.

  1. Ayat yang menyebut hikmah sebagai bagian dari dakwah nabi atau proses pengajaran:

كَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ

“…Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian… yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan diri kalian, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kalian ketahui.” Surah Al-Baqarah (2:151)

Surah Ali ‘Imran (3:164)

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata” Surah Ali ‘Imran (3:164)

Surah Al-Baqarah (2:129)

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Surah Al-Baqarah (2:129)

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Surah Al-Jumu’ah (62:2)

  1. Ayat yang menekankan pentingnya hikmah dalam mengambil pelajaran:

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّا اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” Surah Al-Baqarah (2:269)

Hikmah di sini dapat dimaknai sebagai kebijaksanaan, penghayatan mendalam atas agama, atau kemampuan untuk memahami dan melaksanakan ajaran.

  1. Singkatnya, berikut adalah ringkasan ayat-ayat penting terkait:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk. (An-Nahl) 125

Usai menyebut keteladanan Nabi Ibrahim sebagai imam, nabi, dan rasul, dan meminta Nabi Muhammad untuk mengikutinya, pada ayat ini Allah meminta beliau menyeru manusia ke jalan Allah dengan cara yang baik, “Wahai Nabi Muhammad, seru dan ajak-lah manusia kepada jalan yang sesuai tuntunan Tuhanmu, yaitu Islam, dengan hikmah, yaitu tegas, benar, serta bijak, dan dengan pengajaran yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka, yaitu siapa pun yang menolak, menentang, atau meragukan seruanmu, dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Memberi petunjuk dan bimbingan, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dan menyimpang dari jalan-Nya, dan Dialah pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk dan berada di jalan yang benar.”

Rasul mengajarkan Kitab dan Hikmah (sunnah)                                    

كَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah Ayat 151)

Sebagaimana pengalihan kiblat, pengutusan seorang nabi dari bangsa Arab juga merupakan suatu kenikmatan yang besar. Kenikmatan yang besar itu adalah sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul, yakni Nabi Muhammad, dari kalangan kamu. Di antara tugasnya adalah membacakan ayat-ayat Kami, yaitu Al-Qur’an yang menjelaskan perkara yang hak dan yang batil, atau tanda-tanda kebesaran Allah, kenabian Nabi Muhammad, dan adanya hari kebangkitan. Rasul itu juga kami tugasi untuk menyucikan kamu dari kemusyrikan, kemaksiatan, dan akhlak yang tercela. Dia juga mengajarkan kepadamu Kitab Al-Qur’an dan hikmah, yakni sunah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui, yaitu segala pengetahuan yang terkait dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an juga menuturkan kisah para nabi terdahulu. Hal ini tidak mungkin didapat kecuali melalui wahyu.

Sahabat diajarkan Kitab dan Hikmah oleh Rasul

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ                               

Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali ‘Imran Ayat 163)

Permohonan utus Rasul yang mengajarkan Kitab dan Hikmah

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Baqarah Ayat 129)

Kesimpulan:

Dakwah yang menggembirakan dan efektif (dakwah bi’l-hikmah) adalah yang:

  1. Disampaikan dengan kelembutan dan kebijaksanaan (QS 16:125).
  2. Berdasarkan ilmu dan teladan (kitab dan sunnah).
  3. Membantu membuka hati dan pikiran melalui inspirasi, bukan tekanan.
  4. Menumbuhkan manfaat dan kebaikan berkesinambungan (QS 2:269).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button