Antara Pilihan Kita Dan Pilihan-Nya

Oleh: Muhajir, S.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Cilacap
Manusia pada umumnya memiliki harapan besar: ingin memiliki harta sebanyak mungkin, jabatan setinggi mungkin, atau rumah semegah dan semewah mungkin. Hampir setiap hati terselip keinginan itu. Namun, ketika melalui usaha panjang dan berat, atau bahkan setelah berdoa dengan sepenuh pengharapan belum juga mendapatkan apa yang diinginkan, sering kali muncul rasa putus asa, kekecewaan, bahkan prasangka buruk kepada Allah.
Hal itu terjadi karena menurut kita, semua yang kita inginkan pasti baik untuk diri kita. Maka, ketika hasil yang kita dapat ternyata tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun menyelimuti hati. Padahal Allah lebih tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk kita.
Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah ketika Dia membagi rezeki sesuai kadar maslahat, bukan sekadar mengikuti keinginan hamba-Nya. Bisa jadi kita mengharap sesuatu, padahal ada sesuatu yang lain justru lebih baik untuk kita. Bisa jadi kita ingin banyak harta, padahal jika itu terwujud, justru akan mendatangkan mudharat yang tidak kita sangka. Maka Allah menetapkan sesuatu yang lebih maslahat untuk hamba-Nya, meskipun hamba itu membencinya karena ketidaktahuannya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Apakah mungkin pemberian yang banyak justru menimbulkan mudharat? Ya, sangat mungkin. Harta yang berlimpah bisa saja mendorong pemiliknya melakukan maksiat yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Semakin banyak harta, semakin terbuka pula peluang untuk berbagai bentuk maksiat.
Bisa jadi harta yang banyak membuat kita sibuk hingga melupakan tugas utama sebagai seorang hamba Allah. Atau malah menjadikan kita sombong, merasa semua yang dimiliki hanyalah hasil kerja keras pribadi. Lalu timbul anggapan diri lebih mulia dibanding orang lain yang hartanya lebih sedikit.
Allah menegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 27:
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ۬ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٌۭ
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan (rezeki) dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 27)
Maka, sebaik-baik sikap adalah berikhtiar sekuat tenaga, bertawakal sepenuhnya kepada Allah, lalu ridha terhadap apa yang Dia tetapkan. Sertai dengan prasangka baik bahwa apa yang Allah berikan adalah lebih baik daripada apa yang kita inginkan.
Bahkan, sudah sepantasnya kita bersyukur karena Allah memberi kita sesuai dengan pilihan-Nya. Dan tentulah pilihan Allah selalu lebih baik daripada pilihan kita.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sifat qana’ah (merasa cukup dan ridha) dalam segala keadaan.
Aamiin… Aamiin… Aamiin, Yaa Mujiibas-Saailiin.




