Artikel

Pentingnya Keikhlasan dan Kesinambungan

📅 Ahad, 20 April 2026 | 2 Zulkaidah 1447 H

 

Menjalankan perintah (al-awamir) dan meninggalkan larangan (an-nawahi) dalam Islam tidak hanya diukur dari kuantitas atau kesempurnaan bentuk fisik amal, tetapi juga dari kondisi batin dan konsistensi pelakunya. Dua pilar utama yang menyempurnakan amal seorang Muslim adalah keikhlasan dan kesinambungan (istiqamah).

Keikhlasan adalah memurnikan niat beribadah hanya karena Allah semata, tanpa ada tujuan duniawi, pamer (riya’), atau mencari pujian makhluk. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal saleh, tanpanya, amal tersebut dapat gugur dan sia-sia di sisi Allah.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Fudhail bin Iyadh (seorang tabi’in) menjelaskan tentang makna firman Allah: ‘Ayyuhum ahsanu ‘amala’ (siapa yang paling baik amalnya): “Amal yang paling baik adalah yang paling murni (akhlasuhu) dan paling benar (ashwabuhu).” Beliau menjelaskan, “Jika amal itu murni tetapi tidak benar, ia tidak diterima. Jika amal itu benar tetapi tidak murni, ia juga tidak diterima. Yang murni adalah yang dilakukan karena Allah, dan yang benar adalah yang sesuai dengan Sunnah.” Hal ini menegaskan bahwa keikhlasan (niat yang benar) dan mutaba’ah (cara yang benar sesuai tuntunan Nabi) adalah dua syarat mutlak diterimanya amal.

Setelah memahami kewajiban menjalankan perintah (Al-Awamir) dan meninggalkan larangan (An-Nawahi), kunci untuk menyempurnakan perjalanan iman adalah memiliki sikap Istiqamah. Istiqamah berarti teguh dan konsisten dalam menjalankan segala ketaatan dan menjauhi setiap larangan Allah, tidak hanya sesaat saat semangat sedang membara, melainkan terus-menerus hingga akhir hayat. Istiqamah jauh lebih berharga daripada semangat yang meledak-ledak namun cepat padam.

Istiqamah adalah pilar yang menjaga seorang Muslim tetap berada di jalur yang lurus, mencegahnya tergelincir atau kembali pada kemaksiatan lama. Inilah perintah yang diberikan langsung kepada Rasulullah saw dan seluruh pengikutnya. Allah SWT memerintahkan ketegasan dalam beragama tanpa kompromi, menunjukkan bahwa istiqamah adalah beban yang besar dan mulia:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka beristiqamahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Ayat ini begitu berat hingga diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berkata, “Surah Hud dan surah-surah yang serupa telah membuatku beruban.” Hal ini menunjukkan betapa besar tantangan untuk benar-benar konsisten sesuai standar ilahi. Istiqamah juga mengajarkan kita bahwa kualitas ketaatan tidak diukur dari seberapa banyak amal dilakukan dalam satu waktu, melainkan seberapa konsisten amal itu dijaga. Nabi Muhammad saw bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkesinambungan (kontinu) meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Hadis ini mendorong Muslim untuk memilih amalan kecil yang rutin—seperti salat Dhuha dua rakaat setiap hari atau membaca satu halaman Al-Qur’an—daripada melakukan ibadah berat dalam waktu singkat yang kemudian ditinggalkan. Konsistensi kecil yang abadi lebih dicintai Allah daripada lonjakan ibadah yang terputus.

Ganjaran bagi mereka yang mampu menjaga istiqamah sungguh luar biasa. Bagi mereka yang mengucapkan Rabbunallah (Tuhan kami adalah Allah) dan kemudian teguh menjalaninya, mereka dijanjikan ketenangan jiwa dan kemuliaan tertinggi:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'” (QS. Fushshilat: 30)

Istiqamah, pada hakikatnya, adalah jembatan menuju surga, sebuah janji ketenangan yang abadi, bebas dari rasa takut dan kesedihan duniawi. Keikhlasan dan Istiqamah adalah syarat diterima dan berlanjutnya ketaatan. Keikhlasan menentukan kualitas niat (amal diterima atau ditolak), sedangkan Istiqamah menentukan kuantitas dan konsistensi amal (amal berlanjut atau terputus). Seorang Muslim harus senantiasa mengevaluasi niatnya dan berjuang agar amalnya sedikit namun konsisten, bukan banyak namun sesaat dan tidak murni.

(KH. Wahyudi Sarju Abdurrahim, Lc, M.M; Anggota Majelis Tablig PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button