OrganisasiTuntunanWacana Pemikiran Islam

Memahami Hisab dan Rukyat

Muhammadiyah Menyatukan Iman, Sains, dan Kebangsaan

Oleh: Legiman, S.Pd., M.Pd. (Peserta  Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Ketua Umum PCPM Cawas)

Pendahuluan

Setiap tahun, umat Islam Indonesia kerap dihadapkan pada fenomena perbedaan dalam penentuan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sebagai organisasi Islam yang telah konsisten menggunakan metode hisab (perhitungan astronomis) dalam penentuan awal bulan kamariah, Muhammadiyah kerap menjadi bahan pembicaraan publik. Tulisan ini bermaksud menjelaskan landasan metodologis Muhammadiyah secara santun, dengan menekankan aspek integrasi antara iman, sains, dan semangat kebangsaan.

Apa Itu Hisab dan Rukyat?

Secara sederhana, hisab adalah metode penentuan waktu berdasarkan perhitungan astronomis yang matang dan ilmiah. Sementara rukyat adalah metode penetapan berdasarkan pengamatan fisik hilal (bulan sabit) di ufuk barat setelah konjungsi (ijtimak).

Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal, yang menjadikan kriteria bahwa hilal sudah wujud (berada di atas ufuk) saat matahari terbenam sebagai penanda masuknya bulan baru. Metode ini didasarkan pada keyakinan bahwa hisab adalah bentuk dari “menyempurnakan bilangan” sebagaimana perintah Allah SWT.

Landasan Teologis: Iman yang Berilmu

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya,dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus: 5)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah mengajarkan hisab sebagai metode memahami waktu. Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسِبُ

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi;kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab.” (HR. Bukhari)

Para ulama memahami hadits ini sebagai deskripsi kondisi masyarakat Arab saat itu, bukan sebagai larangan untuk berkembang dalam ilmu hisab.

Integrasi Sains dan Agama

Muhammadiyah memandang bahwa hisab modern yang didasarkan pada ilmu astronomi adalah bentuk pengamalan dari perintah Allah untuk mempelajari alam semesta. Dalam perspektif ini:

  • Sains menjadi alat untuk memahami ketetapan Allah di alam semesta
  • Agama memberikan makna dan tujuan dari penemuan sains
  • Hisab adalah titik temu antara wahyu tekstual (Al-Qur’an) dan wahyu kauniyah (alam semesta)

Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah telah melalui kajian mendalam oleh Majelis Tarjih dan Tajdid, dengan melibatkan pakar astronomi muslim untuk memastikan akurasinya.

Dalam Bingkai Kebangsaan NKRI

Muhammadiyah menyadari sepenuhnya keberadaan perbedaan metode di Indonesia. Dalam konteks NKRI, Muhammadiyah senantiasa berkomitmen untuk:

  1. Menjaga Persatuan Umat

Perbedaan metode dipandang sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam, bukan alasan untuk perpecahan.

  1. Menghormati Keputusan Pemerintah

Meskipun memiliki metode sendiri, Muhammadiyah tetap menghormati keputusan pemerintah yang menetapkan hari raya berdasarkan rukyat.

  1. Memberikan Kepastian dan Perencanaan

Dengan hisab, umat dapat mengetahui jauh hari kapan hari raya akan jatuh, memudahkan perencanaan ibadah dan aktivitas lainnya.

Mengapa Konsisten dengan Hisab?

Beberapa pertimbangan Muhammadiyah tetap konsisten dengan metode hisab:

  1. Ketetapan yang Jelas

Hisab memberikan kepastian yang tidak tergantung pada kondisi cuaca

  1. Kesesuaian dengan Sains Modern

Metode ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan

  1. Kemandirian Berijtihad

Sebagai manifestasi dari tajdid (pembaruan pemikiran Islam)

  1. Kepastian Hukum

Memudahkan umat dalam merencanakan ibadah

Menjaga Ukhuwah dalam Perbedaan

Rasulullah SAW bersabda:

اخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat.”(HR. Al-Baihaqi)

Dalam semangat hadits ini, Muhammadiyah senantiasa mengedepankan sikap:

  • Tawassuth (moderat) dalam menyikapi perbedaan
  • Tasamuh (toleran) terhadap yang berbeda pendapat
  • Tawazun (seimbang) dalam menyampaikan argumentasi

Penutup: Iman, Ilmu, dan Kebijaksanaan

Metode hisab Muhammadiyah bukanlah bentuk pembangkangan terhadap tradisi, melainkan aktualisasi dari semangat Islam berkemajuan yang memadukan:

  • Iman yang kokoh pada ajaran Allah
  • Ilmu yang mendalam tentang alam semesta
  • Kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Muhammadiyah tetap berkomitmen untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan bersama-sama membangun negeri dalam bingkai NKRI.

Mari kita menyikapi perbedaan ini dengan bijak, saling menghormati, dan fokus pada esensi dari hari raya itu sendiri – yaitu meningkatkan ketakwaan dan memperkuat silaturahim.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button