
Akses link: https://kasmui.cloud/tafsir/msains.php?surah=40&ayah=83&panel=science
Artikel ini ditujukan sebagai tadabbur, bukan sekadar kritik—agar kita, para pencari ilmu, tidak termasuk dalam golongan yang “farihu bima ‘indahum min al-‘ilm”, lalu dikepung oleh kehancuran yang selama ini dianggap mustahil.
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَـٰتِ فَرِحُوا۟ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang (bangga/sombong) dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (QS. Ghafir [40]: 83)
Pendahuluan: Ilmu yang Menggelapkan, Bukan Menerangi
Ayat ini bukan sekadar kisah historis tentang Firaun atau kaum ‘Ad. Ia adalah diagnosis psikologis dan epistemologis terhadap manusia di semua zaman—termasuk era modern—yang merasa cukup dengan ilmunya, lalu meremehkan, mengabaikan, bahkan menertawakan kebenaran wahyu. Ironisnya, justru mereka yang paling banyak membaca, meneliti, dan menulis, seringkali paling jauh dari tafakkur dan tadabbur.
- Ilusi Kompetensi: Dunning-Kruger Effect dalam Skala Peradaban
Dalam psikologi kognitif, Dunning-Kruger Effect menggambarkan fenomena di mana orang dengan pengetahuan terbatas justru paling percaya diri akan kebenaran mereka (Kruger & Dunning, 1999, Journal of Personality and Social Psychology). Ayat ini menggambarkannya secara spiritual: mereka “farihu” (berbangga) dengan “ma ‘indahum min al-‘ilm”—ilmu yang hanya sebagian dari realitas.
Manusia modern tahu 0,001% dari hukum fisika, belum memahami kesadaran (qualia), asal-usul kehidupan, atau dimensi spiritual—namun berani menyatakan “agama tidak ilmiah” atau “Al-Qur’an kuno”.
- Scientism: Sains sebagai Agama Sekuler
Scientism—keyakinan bahwa sains empiris adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran—adalah bentuk modern dari keangkuhan intelektual yang dikritik dalam ayat ini. Filsuf seperti Hilary Putnam dan Ian Hutchinson (MIT) menegaskan bahwa scientism adalah kesalahan kategori epistemologis (category error): mengklaim sains bisa menjawab pertanyaan moral, estetika, atau transenden—padahal sains hanya menjelaskan “bagaimana”, bukan “mengapa”.
Banyak ilmuwan Muslim kontemporer justru menghindari kajian Al-Qur’an sains, dengan alasan “tidak ilmiah”, padahal Al-Qur’an mengajak: “Afala tatafakkarun?” (Apakah kalian tidak memikirkan?)—sebuah ajakan berpikir kritis, bukan dogmatisme.
- Ilmu Tanpa Tujuan: Terjebak dalam Kegiatan Dunia yang Fana
Arogansi keilmuan juga tampak dalam prioritas hidup. Banyak akademisi Muslim:
- Sibuk mengejar publikasi Scopus/Q1, tetapi tidak pernah membaca tafsir satu ayat pun.
- Menghabiskan ribuan jam untuk riset AI, material science, atau bioteknologi, tapi tidak menyisakan waktu untuk dakwah, mengajar tafsir, atau menulis ilmu yang bermanfaat bagi akhirat.
- Merasa “sudah cukup beramal” dengan mengajar kuliah umum, tanpa menyentuh ruh Islam dalam ilmunya.
Ini persis seperti yang dikritik oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and Secularism: ilmu yang dipisahkan dari wahyu menjadi sekuler, instrumental, dan dehumanisasi—alat untuk kekuasaan, bukan untuk taqwa.
- Penolakan terhadap Dakwah: “Bukan Bidang Saya”
Banyak ilmuwan dan akademisi Muslim berkata:
“Saya fokus pada riset, bukan dakwah.” “Urusan agama serahkan ke ustadz.”
Padahal, setiap Muslim adalah dai, terutama yang diberi ilmu dan posisi strategis. QS Al-‘Ashr (103: 1–3) menyatakan bahwa keselamatan hanya bagi yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ilmuwan yang diam adalah komplisitas terhadap kejahilan umat.
- Mengejek atau Meremehkan Ayat sebagai “Isyarat Sains”
Ada kalangan “rasional” yang menertawakan kajian isyarat sains Al-Qur’an, dengan tuduhan:
- “Itu hanya post-hoc interpretation.”
- “Al-Qur’an bukan buku sains.”
Pernyataan ini benar secara teologis—Al-Qur’an bukan buku fisika—namun keliru secara praktis. Ayat-ayat kauniyyah (alam semesta) justru diturunkan untuk mengajak manusia merenung (QS Ali ‘Imran: 190–191). Menolak tadabbur alam berarti menolak pintu taufik dari Allah.
Bahkan Carl Sagan, seorang ateis, mengakui: “Science is not only compatible with spirituality; it is a profound source of spirituality.” Tapi banyak Muslim justru lebih materialis daripada Sagan.
- Menganggap Wahyu “Tidak Logis” karena Bertentangan dengan Paradigma Ilmiah
Sebagaimana dijelaskan Thomas Kuhn (The Structure of Scientific Revolutions, 1962), komunitas ilmiah resisten terhadap paradigma baru. Demikian pula, banyak ilmuwan Muslim menolak konsep mukjizat, malaikat, atau hari akhir karena “tidak sesuai logika sains modern”.
Padahal, ilmu sains itu sendiri selalu berubah. Teori Newton digantikan Einstein, lalu mungkin oleh teori kuantum gravitasi. Tapi wahyu bersifat transenden dan final. Menolak yang abadi demi yang sementara adalah puncak kebodohan—seperti yang dikatakan Ar-Razi: “Kebodohan yang terbungkus dalam ilusi kepintaran.”
- Ilmu untuk Pamer, Bukan untuk Ibadah
QS Ghafir: 83 menyebut “farihu”—bukan sekadar senang, tapi ekses kebanggaan. Ini terlihat ketika:
- Ilmuwan menulis artikel hanya untuk naik pangkat atau mendapat dana hibah, bukan untuk manfaat umat.
- Akademisi enggan berbagi ilmu secara gratis, karena ingin “komersialisasi”.
- Mereka takut dikritik jika mengintegrasikan Islam dalam karyanya, khawatir dianggap “tidak netral”.
Padahal, Nabi ﷺ bersabda:
“مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا…”
“Barangsiapa memulai sunnah baik dalam Islam, ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya…” (Muslim)
Kesimpulan: Ilmu Harus Disertai dengan Kerendahan Hati
Ayat ini adalah peringatan keras bagi para intelektual:
- Ilmu bukan jaminan iman, tapi bisa jadi penghalang jika disertai kesombongan.
- Kebenaran wahyu tidak kalah “logis” dari sains—justru sains yang konsisten dengan realitas akan mengarah pada pengakuan akan Sang Pencipta.
- Dakwah adalah kewajiban kolektif, terutama bagi yang diberi ilmu dan akses ke platform global.
Allah tidak menurunkan ratusan ayat tentang alam semesta agar kita mengabaikannya, tetapi agar kita berpikir, lalu bersujud.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Akses: https://kasmui.cloud/tafsir/?surah=40&ayah=83&%2Fpanel=science&panel=science
Referensi Akademik Bereputasi Internasional
- Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134.
- Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. University of Chicago Press.
- Putnam, H. (1994). Words and Life. Harvard University Press.
- Hutchinson, I. H. (2011). Monopolizing Knowledge: A Scientist Refutes Religion-Denying, Reason-Destroying Scientism. Belmont Books.
- Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and Secularism. ISTAC.
- Fakhruddin Ar-Razi. Mafatih al-Ghaib (Tafsir al-Kabir).





